Kajian Historis Tentang Gamelan Ketug Bumi

  • Hendra Santosa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar
Keywords: Gamelan, Ketug Bumi, Tambur, Mredangga, Sejarah

Abstract

Gamelan Ketug Bumi merupakan gamelan baru yang lahir pada tahun 2015 atas prakarsa I Gede Arya Sugiartha yang telah berkembang sedemikian rupa. Sebagai gamelan baru, tentulah belum banyak orang yang menuliskannya dalam berbagai kajian baik seni, musikologi, maupun kajian lainnya. Oleh karenanya penulis mencoba untuk menulisnya dalam sebuah kajian historis. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menegaskan bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi pada saat sekarang adalah sebuah rangkaian dari peristiwa-peristiwa masa lampau, seperti halnya gamelan Ketug Bumi yang dapat diurut pekembangan dan perubahannya dari peristiwa masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu berupa heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik dilakukan terhadap dokumen masa kini berupa Surat Keputusan Staf Produksi Pawai Ketug Bumi tahun 2015, kemudian dari dokumen masa lampau berupa kakawin dan babad. Instrumen utama yang dipergunakan dalam gamelan Ketug Bumi yaitu tambur (mredangga), dipergunakan sebagai unsur utama dalam penelusuran kesejarahan gamelan Ketug Bumi. Penjelasan mengenai mredangga sebagian telah penulis terangkan dalam artikel yang berjudul “Mrӗdangga: Sebuah Penelusuran Awal Tentang Gamelan Perang di Bali” pada jurnal Kalangwan. Kata tambur sendiri penulis temukan dalam naskah kesusastraan Bali yang berjenis parikan, tetapi banyak ditemukan pada naskah yang berbentuk babad dari luar Bali.

References

Aryasa, I. W. (1976). Perkembangan Seni Karawitan di Bali. Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali.

Bandem, I. M. (1986). Prakempa, Sebuah Lontar Gamelan Bali (Trans.). Denpasar: ASTI Denpasar.

Garraghan, S. J. G. (1957). A Guide to Historical Method,. (J. Delanglez, Ed.). New York: Fordham University Press, East Fordham Road, Fourth Printing.

Gootchlak, L. terjemahan N. N. (1975). Mengerti Sejarah (Pengantar Metode Sejarah), Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: Universitas Indonesia.

Herlina, N. (2014). Metode Sejarah (Revisi). Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Kunst, J. (1968). Hindu Javanese Musical Instruments. The Hauge, Holand: Martinus Nijhoff.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Diterbitkan atas kerjasama dengan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, PT. Tiara Wacana Yogya.

Lukman, A. (1996). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka.

Mintosih, S. (1999). Pengkajian Nilai Budaya Naskaha Babad Lombok Jilid 1. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Sachs, C. (1940). The History of Musical Instruments. New York: W.W. Norton & Company Inc. Publisher.

Santosa, Hendra., Dyah Kustiyanti., K. S. (2016). TRACES OF MUSICAL INSTRUMENTS IN KAKAWIN BHARATAYUDHA. E-Journal of Cultural Studies, 9. Retrieved from https://ojs.unud.ac.id/index.php/ecs/article/view/35695

Santosa, Hendra., D. K. (2018). Mrӗdangga: Sebuah Penelusuran Awal Tentang Gamelan Perang di Bali. Kalangwan, 4(1), 16–25. Retrieved from http://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/281

Santosa, H., Kustiyanti, D., Sudirga, I. K., Karawitan, J., & Tari, J. (2018). Jejak Karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka. Panggung, 28(1), 48–61. Retrieved from https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/272

Wirjosuparto, R. (1968). Kakawin Bharata-Yudha. Djakarta: Penerbit Bharata.

Worsley, P. (2014). Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa, Karya Mpu Monaguna., Kajian sebuah puisi epik Jawa Kuna (Terjemahan). Jakarta: Ecole Francaise d’Extreme-Orient Koninklijk Instituut voor Tall, Land en Volkenkunde, Yayasan Obor Indonesia.

Yudhi Irawan, D. (2008). Suntingan dan Terjemahan Babad Majapahit Jilid I, Kencana Wungu Naik Tahta (Cetakan 1). Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Published
2019-02-12
How to Cite
Santosa, H. (2019). Kajian Historis Tentang Gamelan Ketug Bumi. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(1), 36-44. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i1.525
Section
Articles