Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha (Kajian Teo- Estetik)

  • I Nyoman Linggih
  • I Ketut Muka
Keywords: sasolahan legong dedari dan teo-estetik

Abstract

Selama kurang lebih 60 tahun silam Sasolahan Legong Dedari  tidak ditarikan, belakangan ini mulai Sasolahan Legong Dedari ditarikan kembali mengingat terjadinya fenomena aneh yaitu; terjadinya secara berturut-turut penduduk meninggal hingga delapan orang (grubug), uang sesari di balai banjar hilang misterius, warga banjar yang tidak harmonis dan terjadinya trend (kerauhan) yang mengisyaratkan beliau Ida Ratu Ayu Mas Maketel (Rangda) berkeinginan untuk tedun masolah kembali (napak pertiwi) diiringi Sasolahan Legong Dedari. Sasolahan Legong Dedari yang tergolong tari Sakral ini hanya ditarikan ketika Upacara piodalan di Balai Banjar Pondok, dan Upacara Piodalan di Pura Luhur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha. Penari Sasolahan Legong Dedari wajib hukumnya untuk mengikuti upacara penyucian sebelum menari.Ditarikan kembali Sasolahan Legong Dedari serta Ida Ratu Ayu Mas Maketel (Rangda) Napak Pertiwi tiada lain untuk menetralisir kembali, agar hal-hal aneh tidak terjadi lagi  di wilayah Desa Banjar Pondok. Demikian juga masyarakat sangat meyakini dengan ditarikan Sasolahan Legong Dedari serta Ida Ratu Ayu Mas Maketel, merupakan simbol turunnya Ida Sanghyang Widhi Wasa (manifestasinya) diiringi para Widyadara- Widyadari, dapat menyucikan kembali wilayah serta isinya, sehingga masyarakat dapat hidup rukun, damai, tentram sejahtra serta bersenang hati untuk senantiasa meyakini Pura Luhur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha dilestarikan sebagai tempat suci pemujaan Beliau.

References

Atmaja, Nengah Bawa. 2010. Ajeg Bali Gerakan Identitas Kultural dan Globalisasi. Yogyakarta : LKIS.

Bandem, I Made. 2004 .Etnologi Tari Bali. Yogyakarta : Kanisius (Anggota IKAPI).

Catra, I Nyoman.2014. Tinjauan Aspek Seni Joged Pingitan dan Baris Upacara (Makalah disampaikan
dalam Rangka Pelaksanaan Workshop dan Lokakarya Joged Pingitan dan baris Upacara) Diselenggarakan
oleh LISTIBYA Prov. Bali Denpasar. Tanggal 26 s/d 28 November 2014.

Duija, I Nengah.2019. Prasi :Karya Kreatif Estetik Unggulan Bali (Sebuah Studi Teo-Antropologi).Mudra Jurnal Seni Budaya. Denpasar : LP2M Institut Seni Indonesia Denpasar.

Djelantik, A.A. Made.1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung : Masyarakat Seni Pertujukan Indonesia.

Goris, R. 1954. Bali,Atlas Kebudayaan.Jakarta.

Yasa, I Ketut. 2018. Seni dan Agama.Surakarta: Pustaka Exspresi.

Subagiasta, I Ketut. 2007. Tattwa Hindu. Surabaya : Paramita.

Saraswati, Sri Chandrasekharendra. 2005. Peta Jalan Veda. Jakarta : Media Hindu

Suwantana, I Gede. 2006. Gandhi da Doa. Denpasar : Ashram Gandhi Puri.

Suhardana.K.M, 2015. Ensiklopedia Pura (23 Pura di Kompleks Pura Besakih dan 53 Pura di Bali, Jilid I. Surabaya : Paramita.

Sugriwa, I Gusti Bagus. 1952.”Seni Budaya Bali” dalam Majalah Kebudayaan Edisi Indonesia Nomor Bali.Jakarta : Lembaga Kebudayaan Indonesia

Titib, I Made , 2003. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.

Tim Penusun. 2006. Kakawin Arjuna Wiwaha. Denpasar : Dinas Kebudayaan.

Maswinara. 1999. Bhagavadgita. Surabaya : Paramita

Mantra, Ida Bagus. 1991.Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar : Yayasan Dharma sastra.

Ngurah, I Gusti Made. dkk. 1999. Buku Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita

Putra, Ny. I.G.A. Mas, 1998. Wrehaspati Tattwa. Surabaya : Paramita.

Wiana, I Ketut, 2004. Mengapa Bali Disebut Bali. Surabaya : Paramita.

Wiana, I Ketut, 2005. Fungsi Sarana Persembahyangan. Surabaya : Paramita.

Wiana, I Ketut. 2014. “Meningkatkan Daya Guna Agama Membangun Keluhuran Moral dan Daya Tahan Mental” Makalah Dharma Wacana Mapolda Bali.

Vireswarananda, Swami. 2004. Brahmasutra. Surabaya : Paramita.
Published
2021-02-18
How to Cite
LinggihI. N., & MukaI. K. (2021). Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha (Kajian Teo- Estetik). Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(1), 81-95. https://doi.org/10.31091/mudra.v36i1.1330
Section
Articles