Religiusitas Sasolahan Sanghyang Bungbung Di Pura Dalem Sindu Sanur (Sebuah Studi Teo – Estetik)

  • I Nyoman Linggih Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Bali, Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Keywords: religiusitas, sesolahan sanghyang bungbung, teo estetik

Abstract

Sesungguhnya Tari Sanghyang merupakan jenis tari peninggalan di zaman Bali kuna, namun salah satu tari Sanghyang yang tergolong langka, sebagai seni tari religious magis terdapat di Pura Dalem Sindu, Kelurahan Sanur adalah; Sanghyang Bungbung, oleh masyarakat disebut Ratu Alit. Sanghyang Bungbung merupakan sebuah tari Wali (Sakral) dengan menggunakan sepotong bungbung (seruas bambu berlubang) sebagai alas Pratima, pralingga (tempat berstananya para Dewa). Pratima atau Pralingga yang dibuat berbentuk muka manusia berjumlah 12, yaitu; 6 buah laki-laki, dan 6 buah  wanita dibuat  dari pohon jepun yang tumbuh di Pura Dalem Sindu Sanur di masa yang silam oleh Ida Pedanda Gede Rai yang kesah dari Grya Sindu Sidemen Karangasem menetap mendirikan  Grya Sindu Sanur, ketika pemerintahan Raja Denpasar, beberapa tahun sebelumnya pecah perang Puputan Badung 20 September 1906. Hingga saat kini Sanghyang Bungbung, dilestarikan sebagai Tari Wali untuk menetralisir yaitu; harmonisasi alam niskala dan sekala. Sanghyang Bungbung  sebagai perwujudan Ratu Alit (Widyadara-Widyadari) yang turun dari Kahyangan ke bumi, dengan menari  Janger menghibur Ratu Gede Nusa yang bergelar Bapak Poleng dengan iringan 1500 Wong Samar berpakaian  serba poleng membawa pedang, tombak, dan sebagainya, untuk mencari manusia sebagai labaan (kurban) pada sasih keenem. Ratu Alit yang bergelar nama bunga yaitu; Sekar Jepun, Sekar Gadung, Sekar Pudak, sekar Sandat, Sekar Jempiring, Sekar Soka, Sekar Madori Putih, Sekar Anggrek Geringsing,Widyadari Tunjung Beru, Widyadari Tunjung Bang, Widyadari Tunjung Putih, dan Widyadari Sang Supraba menari untuk memendak, menghibur Ratu Gede Nusa selama enem sasih, mulai sasih Tilem Kapat hingga Purnama Sasih Ke Dasa. Ratu Alit mapalawatan Sanghyang Bungbung masolah  mendak Ida Ratu Gede Nusa setiap Tilem Kapat di Pantai Sindu Sanur, setiap Kajang Kliwon di Pempatan Agung Sindu Sanur, setiap Purnama di Pura Dalem Sindu Sanur. Sasolahan Sanghyang Bungbung merupakan tarian Religus Magis yaitu penuh  keaajaiban, dengan kekuatan yang luar biasa menari Janger, tidak hanya  membuat penonton terhibur, tetapi juga  Ida Ratu Gede Nusa terperangah, terpesona dengan tarian Jangernya Ratu Alit, hingga Ratu Gede Nusa mengurungkan niatnya untuk mencari manusia sebagai labaan (kurban) sasih keenem (Teo-Estetik).

References

Catra, I Nyoman.2014. Tinjauan Aspek Seni Joged Pingitan dan Baris Upacara (Makalah disampaikan dalam Rangka Pelaksanaan Workshop dan Lokakarya Joged Pingitan dan baris Upacara) Diselenggarakan oleh LISTIBYA Prov. Bali Denpasar. Tanggal 26 s/d 28 November 2014.

Dharma Suteja, I Made.2017. Sembilan Tari Bali, Badung : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Donder. 2005.Esensi Bunyi Gamelan Dalam Prosesi Ritual Hindu.Surabaya : Paramita.

Donder, 2014. Unsur-Unsur Sain dan Teknologi dalam Teks dan Praktek Ritual Hindu ; Analisis Kritis Terhadap Ritual Hindu di Bali Dalam Pendekatan Interdesipliner.Denpasar. Laporan Hasil Penelitian IHDN.

Kaelan, M.S. 2010. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat.Yogyakarta : Paradigma.

Koentjaraningrat. 1987. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Koentjaraningrat. 2000. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Maswinara. 1999. Bhagavadgita. Surabaya : Paramita

Nurkacana. 2005. Tattwa dan Fisafat Hindu. Denpasar : Manikgeni.

Saraswati, Sri Chandrasekharendra. 2005. Peta Jalan Veda. Jakarta : Media Hindu

Subagiasta, I Ketut. 2006. Tattwa Hindu. Surabaya : Paramita.

Suwantana, I Gede. 2006. Gandhi da Doa. Denpasar : Ashram Gandhi Puri.

Sobur,A. 2009.Semiotika Komunikasi, Bandung ; Remaja Rosdakarya.

Titib, I Made , 2001. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.

Wiana, I Ketut. 2004. Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan. Jakarta : Pustaka Manikgeni

_________, 2004. Mengapa Bali Disebut Bali. Surabaya : Paramita.
Published
2020-04-14
How to Cite
Linggih, I. N. (2020). Religiusitas Sasolahan Sanghyang Bungbung Di Pura Dalem Sindu Sanur (Sebuah Studi Teo – Estetik). Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(1), 30-39. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i1.995
Section
Articles