Monumentalitas Seni Instalasi Bambu “Getah Getih”

  • Wegig Murwonugroho Universitas Trisakti
  • Aghastya Wiyoso Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tarumanagara, Jakarta

Abstract

Karya seni instalasi merupakan perpaduan dari berbagai seni rupa yang dipasang dengan maksud sebagai hiasan berdurasi terbatas. Seni instalasi bambu bernama “Getah Getih” yang ditempatkan di seberang Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta merupakan karya Joko Dwi Avianto menurut ide Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Konsep “Getah Getih” diinspirasi oleh sejarah keberanian, dedikasi, dan sifat rela berkorban pasukan kerajaan Hindu Majapahit yang baru mendarat demi kejayaan kerajaan. Konsep bambu yang disusun saling bertautan memiliki makna penyemangat para atlet yang berlaga di Asian Games 2018. Bahan bambu dipilih karena keunikannya di antara bangunan beton bertingkat di Jakarta. Namun, pemaknaan sebuah karya seni tidak bisa lepas dari fenomena yang sedang terjadi pada waktu karya tersebut dibuat. Jalinan bambu menimbulkan kontroversi saat sebagian masyarakat menganggapnya menyimbolkan posisi bersetubuh. Pemilihan bahan baku yang tidak awet juga menuai kritik keras. Pun demikian halnya dengan anggaran besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai fungsi karya seni. Maka, ekspektasi publik Jakarta untuk seni instalasi yang elegan, modern, dan bertahan lama tidak terpenuhi. “Getah Getih” lantas dianggap sebagai pencitraan politik Anies belaka. Esensi kekecewaan terhadap “Getah Getih” bersumber dari tuntutan hadirnya kemonumentalan seni yang dipajang di ruang publik. Indikator kemonumentalan dilekatkan pada seni instalasi yang bersifat temporer. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi. Paradigma penilaian kemonumentalan dilihat dari wilayah ide/gagasan, ekspresi, komunikasi, dan apresiasi pewacanaan. Dari analisis ditemukan bahwa seni instalasi patung “Getah Getih” yang diharapkan tidak monumental justru mencapai titik kemonumentalannya karena adanya kebaruan berupa unsur tak beraga yaitu pewacanaan melalui media sosial dan keterlibatan opini publik menerima atau menolak kehadirannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemonumentalan sebuah seni instalasi tidak sengaja dapat terbagun apabila diletakkan pada ruang sentral sebuah kota, banyak diakses publik secara langsung, dan ketepatan waktu ketika seni dijadikan komoditas yang dipertentangkan antar kubu politik.

References

Anusapati. (2015). Patung dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Jurnal Kebudayaan Kalam, 27, Komunitas Salihara, Jakarta.

Avianto, Joko Dwi. (Patung Cagar Budaya P.W. Hofland: Sebuah Telisik Warisan Seni Patung Eropa di Kabupaten Subang. Panggung, Vol. 1, No. 3 2013.

Casciato, M. (2004). Modern monumentality - Introduction. Journal of Architecture. https://doi.org/10.1080/1360236042000248784

Dharsono. (2001). Dinamika Perjalanan Seni Modern: Pergeseran Esensi dari Realitas Fakta, Realitas Makna, dan Realitas Tafsir dalam Wacana Perjalanan Seni Tradisi Barat. Wacana Seni Rupa, Vol. 1, No. 3, Agustus 2001.

Helaluddin. (2018). Mengenal Lebih Dekat dengan Pendekatan Fenomenologi: Sebuah Penelitian Kualitatif (Artikel). Research Gate. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/323600431_Mengenal_Lebih_Dekat_dengan_Pendekatan_Fenomenologi_Sebuah_Penelitian_Kualitatif

Himawan, Muhammad Hendra (Juli, 2018). Kuasa Simbolik Patung Ruang Publik: Studi Kasus di Wilayah KotaSurakarta. Brikolase, vol 10, No.1.

Indarto, Kuss. (2016). Mengidealkan Public Art. Jurnal Mata Jendela, Vol.XI, No. 1.

Khan, Louis. (1944). Monumentality. Paul Zucker (Ed) New Architecture and City Planning, New York: Philosophical Library.

Louisa Pattiasina, Dianthus. (Maret-April 2014). Kajian Estetika dan Realisme Sosialis Tiga Patung Monumen (Patung Selamat Datang, Pembebasan Irian Barat dan Dirgantara) era Soekarno di Jakarta. Jurnal Ilmiah Widya, vol. 2, No.1

Murwonugroho, W., & Pilliang, Y. A. (2015). Subjektivitas Dalam Iklan Ambient Media Miracle Aesthetic Clinic. Panggung. https://doi.org/10.26742/panggung.v25i2.6

Mustaqim; Karna (Oktober, 2013). Penelitian atas Penelitian Seni dan Desain : Suatu Studi Kerangka Filosofis-Paradigmatis bagi Penelitian Seni dan Desain Visual. Jurnal Humaniora, vol.4, No. 2.

Pattiasina, Dianthus Louisa. (2014). Kajian Estetika dan Realisme Sosialis Tiga Patung Monumen (Patung Selamat Datang, Pembebasan Irian Barat dan Dirgantara) Era Soekarno di Jakarta. Jurnal Ilmiah Widya, Vol. 2, No. 1, Maret-April 2014.

Raditya, Michael HB. (2016). Megartikulasikan Ruang Publik dan Karya Seni. Jurnal Mata Jendela, vol. XI, No.1.

Sert, J. L., Leger, F., Giedion, S. (1943). Nine Points on Monumentality (Position paper). Retrieved from http://erhq.co.uk/wp-content/uploads/2012/12/Nine-points-on-monumentality.pdf

Stevens, Quentin, Franck., Kaen A., Fazakerley, Ruth (December 2012). Counter Monument: the Anti-Monumental and the Dialogic. The Journal of Architecture, 17:6, 951-972. http://www.tandfonline.com/loi/rjar20Download (diturunkan/diunduh) pada 14 Agustus 2019.

Sunarto. (2017). Estetika dalam Konteks Pendidikan Seni. Jurnal Refleksi Edukatika, Vol. 7, No. 2, 2017.

Tumimbang, Timbangunusa. (2015). Karya Seni Patung Simbolik dalam Ungkapan Perdamaian. Dimensi, Vol. 12-No. 1, Februari 2015.

Wienarno, Eko Budi. (2003). Seni Patung Indonesia: Perkembangan dan Kesinambungan Proses Kreatif Penciptaan Patung di Indonesia. Bahasa dan Seni, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003.

Wiyoso, Aghastya, Sachari, Agus. (Mei 2015). Mengungkap Kontestasi Ideologi di Balik Penanda Spasial Monumen Nasional dan Menara Eiffel. Jurnal Seni Budaya Mudra, vol.30, no.2.

Wiyoso, Aghastya, (2015). Perubahan Nilai Monumentalitas pada Karya Monumental era Pemerintahan Soekarno di Kota Jakarta. Disertasi Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa & Desain, Institut Teknologi Bandung.

Surat Kabar

_____________, (16Agustus2018). “Instalasi Bambu Representasi Nusantara,” Kompas.

Sumber Internet

Baswedan, Anies. Akun instagram. https://www.instagram.com/aniesbaswedan/ diunduh 9 Agustus 2019

Lili, Rafika. (28 Agustus 2018). Getih Getah Joko Avianto di Asian Games. https://sarasvati.co.id diunduh 14 Agustus 2019.

Manurung, M.Yusuf. (20 Agustus 2018). 5 Fakta Proyek Seni Instalasi Getih Getah Ide Anies Baswedan. https://metro.tempo.co/read/1118765/ diunduh 9 Agustus 2019

Marendra Putra (19 Juli 2019). 7 Fakta Bambu Getah Getih, Instalasi Seni Kebanggaan Anies Baswedan yang Dibongkar, 9 Agustus 2019

Prastiwi, Devira (18 Juli 2019). Perjalanan Instalasi bamboo Getah Getih hingga Akhirnya Dibongkar, 9 Agustus 2019

Siddiq, Taufiq. (18 Juli 2019). Alasan DKI Bongkar Instalasi Bambu Getah Getih di Bundaran HI. https://metro.tempo.co/read/1225769/alasan-dki-bongkar-instalasi-bambu-getah-getih-di-bundaran-hi/full&view=ok diakses 7 Oktober 2019

Published
2020-09-09
How to Cite
Murwonugroho, W., & Wiyoso, A. (2020). Monumentalitas Seni Instalasi Bambu “Getah Getih”. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(3), 273-282. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i3.1036
Section
Articles