Pola Interaksi Simbolik Dan Pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan Berbasis Agil Di Era Disrupsi

  • Eny Kusumastuti Kusumastuti Universitas Negeri Semarang
  • Indriyanto - Universitas Negeri Semarang, Jln. Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Indonesia
  • Kusrina Widjajantie Universitas Negeri Semarang, Jln. Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Indonesia

Abstract

Jaran Kepang Semarangan merupakan salah satu kesenian tradisional kerakyatan yang ada di wilayah Kabupaten Semarang. Pola interaksi simbolik dan pewarisan pertunjukan Jaran Kepang memiliki keunikan tersendiri dalam menghadapi berbagai tantangan di era disrupsi ini. Penelitian ini mengkaji 1) Pola interaksi simbolik dalam pertunjukan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi, 2) Pola pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi. Tujuan penelitian mendiskripsikan dan menarik sebuah konsep atau teori terkait dengan pola interaksi simbolik dan pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi. Lokasi penelitian di Paguyuban Langen Budi Sedyo Utomo Dusun Sombron Desa Tlompakan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi dan sosiologi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan kriteria dependabilitas dan konfirmabilitas dengan teknik triangulasi sumber, teori dan teknik. Analisis data melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan simpulan data. Teori yang digunakan untuk menganalisis interaksi simbolik yakni milik Herbert Mead. Temuan penelitian meliputi 1) pola interaksi simbolik antara penari dengan penari, penari dengan pemusik, penari dengan penonton, pemusik dengan penonton dan penonton dengan penonton dan 2) pola pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsiĀ  mengacu skema AGIL yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan latensi. Pertama, dalam proses adaptasi, pola-pola kesenian Jaran Kepang Semarangan beradaptasi dengan perkembangan jaman di era modern seperti sekarang ini dengan melihat kebutuhan masyarakat. Kedua, dalam proses pencapaian tujuan, kelompok kesenian Jaran Kepang Semarangan harus memiliki tujuan dalam pelestarian di era modern. Ketiga, dalam proses integrasi, kesenian Jaran Kepang Semarangan dapat mengintegrasikan kelompok masyarakat pelaku, pendukung dan penikmat secara tidak langsung. Keempat, dalam proses latensi, kelompok Kesenian Jaran Kepang Semarangan tetap menjaga dan melestarikan kesenian Jaran Kepang Semarangan di era modern.

References

Abdullah, Taufik. (1980/1981). Disekitar Komunikasi Ilmu dan Seni. Analisis Kebudayaan. 2: 8-12.

Adhiputra, AnakAgung Ngurah. 2013. Konseling Lintas Budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Griffin, Emory A., (2003). A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill.

Irawan, Yusuf Rizki. (2016). Lagu Slompret-slompret sebagai Pemicu Trance pada Penari Jaran Kepang Turonggo Seto di Desa Tlompakan Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Skripsi. Semarang: Pendidikan Sendratasik UNNES.

Kasali, Rhenald. (2017). Disruption. Jakarta: Gramedia.

Kusumastuti, Eny. (2018). Model Pendididkan Seni Berbasis Masyarakat Sebagai Upaya Peningkatan Daya Saing Produk Budaya Bangsa. Laporan Penelitian. Semarang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Minarto, Soerjo Wido. (2002). Dasar-Dasar Komposisi dan Koreografi. Malang: Universitas Kanjuruhan Malang (tidak dipublikasikan).

Minarto, Soerjo Wido. (2007). Jaran Kepang dalam Tinjauan Interaksi Sosial. Jurnal BAHASA DAN SENI, Tahun 35, Nomor 1, Februari 2007. Hal 76-87. Malang: Universitas Kanjuruhan Malang diunduh 20 September 2019 dari http://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/Jaran-Kepang-dalam-Tinjauan-Interaksi-Sosial-pada-Upacara-Ritual-Bersih-Desa.pdf

O Dea, Thomas F. (1995). Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Terjemahan: Yasogama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Pigeaud, Th. (1938). Javaanse Volksvertoningen: Bijdrage tot de Beschrijving van Land en Volk.alih bahasa Kanjeng Raden Tumenggung Muhammad Husodo Pringgokusumo: Volkslectuur Batavia 215.

Pahlevi, Reza dkk. (2016). Eksistensi Kesenian Jaran Kepang dalam Arus Industri Pariwisata di Dusun Suruhan Desa Keji Kabupaten Semarang. Jurnal Solidarity Jurusan Sosiologi Antropologi FIS Universitas Negeri Semarang. volume 5 no 1. Hal. 1-7. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Diunduh 20 April 2019 dari httpseprints.uns.ac.id32194.

Ritzer, Goerge. (2011). Sosiological Theory atauTeori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Terjemahan Saat Pasaribu dkk.(2012). Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. (2000). Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STISI Bandung Press.

Seramasara, I. G. N. (2019). Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya Dan Agama Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(1), 80-86. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i1.640

Sumaryono. (2011). Antropologi Tari Dalam Persepektif Indonesia. Yogyakarta: ISI Yogyakarta

Widjayanto, Febby . 2018. Menyikapi Era Disrupsi.

https://news.detik.com/kolom/3926626/menyikapi-era-disrupsi.

Published
2020-09-14
How to Cite
Kusumastuti, E., -, I., & Widjajantie, K. (2020). Pola Interaksi Simbolik Dan Pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan Berbasis Agil Di Era Disrupsi. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(3), 337-343. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i3.883
Section
Articles