Jenis Dan Teknik Membuat Instrumen Suling Dalam Seni Karawitan Bali

  • I Wayan Suharta Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: suling, jenis, teknik

Abstract

Suling adalah instrumen aerophone, yaitu seruling bambu yang prinsipnya adalah end blow flute, memakai enam buah lubang nada, dan satu lubang pemanis untuk menimbulkan bunyi. Suling Bali memakai siwer, dan mempunyai teknik permainan yang memerlukan tiupan terus-menerus yang disebut ngunjal angkihan (circular blown breathing), dan dibuat dengan bermacam-macam ukuran, dari ukuran besar dan panjang, menengah dan sampai ukuran yang paling kecil. Dalam karawitan Bali, suling mampu memberi kesan lebih hidup dan lebih dinamis dalam melengkapi barungan gamelan Bali. Dibuat sederhana dari sebatang bambu, namun dibalik kesederhanaannya suling menunjukkan identitasnya sebagai sebuah instrumen yang sangat unik, memiliki tingkat permainan yang tinggi, aturan cara pembuatannya yang cukup rumit, serta memiliki fungsi yang cukup beragam. Tulisan ini mempergunakan pendekatan yang bersifat kualitatif, yaitu berupaya menjawab tantangan untuk memahami, memberikan interpretasi pada fenomena emperis yang dipadu dengan sistem logika dan nilai kebenaran dalam Seni Karawitan Bali. Dilaksanakan melalui tahapan-tahapan, yaitu: melakukan persiapan dan menentukan objek penelitian, menentukan lokasi penelitian, pengumpulan data, menganalisis data, dan menyajikan hasil analisis data. Mekanisme penulisannya adalah menganalisis teks yang dideskripsikan, dijadikan titik tolak untuk memahami bentuk dan jenis instrumen suling, selanjutnya menelusuri teknik membuatnya menurut pengalaman beberapa nara sumber. Tulisan mengenai suling mempunyai tujuan memperoleh pengetahuan secara deskriptif tentang suling, memperkenalkan, menggali, mendokumentasikan dan mengembangkan teknik pembuatan suling dalam karawitan Bali. Memberikan informasi dan wawasan untuk dapat memahami eksistensi suling dengan baik, serta  memberi motivasi, merangsang generasi mendatang untuk lebih kreatif dan membiasakan diri agar tidak ‘menganak-tirikan’ salah satu instrumen gamelan Bali.

References

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Pratek. Edisi Revisi V. Jakarta : PT Asdi Mahastya.

Aryasa, IWM. 1983. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar : Departemen Pendidikadan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Bandem, I Made. 1983. Ensiklopedi Gambelan Bali. Proyek Penggalian, Pembinaan, Pengambangan, Seni Klasik Tradisional dan Kesenian Baru Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.

Bandem, I Made. 1986. Prakempa : Sebuah Lontar Gambelan Bali. Akademi Seni Tari Indonesia, Denpasar.

Bandem, I Made. 1991. Ubit-Ubitan : Sebuah Teknik Permainan Gambelan Bali. Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, Ditjen Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Dibia, I Wayan. 1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali. 1988. Kamus Kawi - Bali.

Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. terjemahan Nugroho Notosutanto. Jakarta: Universitas Indonesia.

Penitia Penyusun Kamus Bali - Indonesia. 1978. Kamus Bali - Indonesia. Denpasar : Dinas Pengajaran Daerah Tingkat I Bali.

Rembang, I Nyoman. 1973. “Gambelan Gambuh dan Gambelan Lainnya di Bali”. Kertas Kerja pada Work Shop Gambuh 25 Agustus s/d 1 September 1973 di Denpasar.

Sugriwa, I Gusti Bagus. 1973. “Aji Gurnita”(terjemahan), Senin Kliwon Uye,21 Maret.

Tantra, I Nyoman. 1991. Laporan Penelitian “Bentuk Saih, Tetekep dan Patutan dalam Gambelan Tujuah Nada di Bali”. Dilaksanakan atas Biaya Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas STSI Denpasar DIP No. 319/XXIII/3/1991, Tanggal 1 Maret 1991, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Published
2019-09-06
How to Cite
Suharta, I. W. (2019). Jenis Dan Teknik Membuat Instrumen Suling Dalam Seni Karawitan Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(3), 358-365. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i3.794
Section
Articles