Tradisi Ziarah Makam Bathara Katong (Tinjauan Deskripsi Akulturasi Budaya)

Amirul Nur Wahid, . Sumarlam, Slamet Subiyantoro

Abstract


Masyarakat Jawa, tak terkecuali masyarakat Ponorogo seringkali memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukakan. Kebiasaan-kebiasaan ini diwariskan secara turun temurun hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ziarah makam Bathara Katong merupakan salah satunya. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Ponorogo dan sekitarnya sejak zaman dahulu. Bathara Katong merupakan tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam. Pada saat itu terjadi transisi antara agama lama dan baru dari segala aspek. Transisi inilah yang menjadikan akulturasi budaya diantara kedua hal tersebut. Akulturasi budaya ini juga merambah bidang kesenian di area sekitar makam, misalnya munculnya kesenian Jemblung yang merupakan akulturasi antara dua kebudayaan menjadi satu. Selain kesenian, akulturasi juga dapat ditemukan di arsitektur bangunan-bangunan, proses ziarah, serta benda-benda yang dibawa oleh peziarah makam Bathara Katong. Nama Bathara Katong sendiri sebenarnya merupakan sebuah akulturasi kebudayaan. Hanya saja dikarenakan mengikuti perkembangan zaman, tradisi ini juga mengalami perubahan-perubahan dalam akulturasinya. Artikel ini akan mencoba mengupas hal tersebut.

Javanese are no exception Ponorogo people have certain habits. This habit is passed down from generation to generation and then becomes a tradition. The pilgrimage tradition of Bathara Katong's tomb is one of them. This tradition is done by the people of Ponorogo and its surroundings since antiquity. Bathara Katong is a central figure in the spread of Islam in Ponorogo. There was a transition between old and new cultures from various aspects. This transition is considered to be the cause of cultural acculturation. Acculturation of this culture also penetrated the field of art in the area around the tomb, for example the emergence of art Jemblung which is the acculturation between two cultures into one. In addition to art, acculturation can also be found in the architecture of the building, the process of pilgrimage, and the objects brought by the pilgrims of the tomb of Bathara Katong. The name Bathara Katong itself is actually an example of cultural acculturation. Just because it follows the times, this tradition has also changed. This article will try to explore it.


Keywords


akulturasi; jawa; budaya; bathara katong

Full Text:

PDF

References


Anggrahita, N. H dan Sunarto. (2016). Kesenian Laesan di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang (Kajian Fungsi dan Konflik). Jurnal Catharsis Volume 5 No. 1 Halaman 9-17.

Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Bayuadhy, G. (2015). Tradisi-tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa. Yogyakarta: Dipta.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Macaryus, Sudartomo. 2007. Sengkalan : Tinjauan Struktur dan Isi. Jurnal Sintesis Volume 5 No.2 Halaman 187-204.

Muhadjir. (2002). Metode Penelitian Kualitatif IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Moelyadi. (1986). Ungkapan Kerajaan Wengker dan Reyog Ponorogo. Ponorogo: DPC Pemuda Panca Marga.

Pradanda, W. S, Sudardi, B, Subiyantoro, S. 2015. Kajian Nilai-Nilai Budaya Jawa dalam Tradisi Bancaan Weton di Kota Surakarta (Sebuah Kajian Simbolisme dalam Budaya Jawa). Jurnal Lingua Volume 12 No. 2 Halaman 152-174.

Rahmat, P. S. (2009). Penelitian Kualitatif. Jurnal Equilibrium, 5 (9), 1-8.

Sarosa, S. (2012). Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar. Jakarta Barat : PT. Indeks.

Soekanto, S. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sulasman dan Setia Gumilar. (2013). Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: CV Pustaka Setia.

Sutopo, H.B. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Suwito, Yuwono Sri. 2006. Misteri Sengkalan Memet ing Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Djaka Lodang. No. 20-22. Yogyakarta: PT Djaka Lodang Pers.

Toha, Muchammad. (2016). Kontestasi Pandangan Elite Agama di Gresik tentang Nyekar di Desa Surowiti Kecamatan Panceng. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1.

Zarifa, A. P. (2017). Masjid dan Makam Sendang Duwur: Perwujudan Akulturasi. Prosiding Seminar Heritage IPLBI.




DOI: http://dx.doi.org/10.31091/mudra.v33i2.289

Article metrics

Abstract views : 145 | views : 106

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed By

Crossref logo DOAJ Google Scholar   BASE


Editorial Office

Mudra Jurnal Seni Budaya
Indonesia Institute of The Arts of Denpasar
Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Phone : +62-361-227316 ext : 159 Fax : +62-361-236100
Email : penerbitan@isi-dps.ac.id

Creative Commons License
Mudra Jurnal Seni Budaya is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.