Eksistensi Payung Dalam Kebudayaan Minangkabau Di Era Globalisasi

  • Yulinis Yulinis Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: payung, eksistensi, globalisasi, budaya, minangkabau

Abstract

Payung tidak hanya dipergunakan untuk hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari seperti melindungi diri dari kehujanan atau kepanasan. Akan tetapi payung telah menjadi simbol dalam kebudayaan terutama di Minangkabau. Eksistensi payung dalam kebudayaan Minangkabau tentu saja mengalami perkembangan. Payung yang sebelumnya digunakan untuk hal yang praktis, sekarang sudah menjadi simbolis. Perubahan tersebut merupakan sikap terhadap kondisi masyarakat yang telah dipengaruhi oleh globalisasi. Globalisasi membawa penyebaran budaya pluralistik dengan berbagai ideologi yang terkandung di dalamnya yang sulit dihindarkan. Dalam hal ini globalisasi, tidak hanya dalam bidang-bidang tertentu, seperti teknologi, tetapi juga bidang-bidang lainnya sesuai dengan karakter dan makna global itu sendiri. Globalisasi menimbulkan perubahan terhadap sebuah benda seperti payung yang sudah lama melekat dalam diri manusia tradisional. Pengaruh globalisasi menjadikan payung bersifat universal. Payung di Minangkabau telah difungsikan dalam upacara ritual pengangkatan penghulu yang dimaknai sebagai pelindung dari perilaku yang tidak baik. Payung juga menjadi simbol bagi perempuan Minangkabau. Perempuan diibaratkan sebagai payung panji ke Medinah yang bermakna sebagai jalan menuju surga dalam agama Islam. Payung yang dilekatkan kepada perempuan juga bermakna sebagai pemimpin, terutama pemimpin dalam keluarga, pemimpin bagi anak-anaknya di rumah. Payung juga digunakan dalam tari di Minangkabau. Tari payung tercipta sebagai penggambaran cinta dan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Begitu juga dalam upacara perkawinan, payung menjadi simbol menyatukan dua anak manusia dalam sebuah keluarga.

References

Bandem, I Made dan Sal Murgiyanto, (2000), Teater Daerah Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Budaya dan Kanisius.

Ghazali, Adeng Muchtar, (2011), Antropologi Agama (Upaya Memahami Keragaman Kepercayaan, keyakinan dan Agama). Bandung: Alfabeta.

Hadi, Wisran, (2006), “Dunia Hiburan Tanpa Perempuan”. Makalah untuk Diskusi Seni dalam kegiatan Contemporary Dance Festival (MCDF) dan acara HUT Kota Padang Panjang ke 216, Dies Natalis STSI ke 40 dan Mengenang wafatnya Hoeriyah Adam ke 35, 12 Desember 2006. Padangpanjang: STSI Padang Panjang

Hadi, Wisran, (2007), “Menyikapi Era Globalisasi”. Makalah untuk Seminar Budaya Melayu STSI Padang Panjang, 27 Januari 2007. Padangpanjang: STSI Padang Panjang

Haviland, William A. 1988. Antropologi. Jilid I dan II. Terj. R.G. Sukardjito. Jakarta: Erlangga.

Horton, Paul B. & Chester L.Hunt, (1987), Sosiologi, Jakarta: Erlangga

Keesing, M. Roger, (1992), Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer, Jakarta: Erlangga

Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru.

Mariyah, Emiliana. 2011. “Kajian Budaya Universitas Udayana: Pemikiran Emansipatoris Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus”. Dalam Jelajah Kajian Budaya. Ed. I Made Suastika, I Nyoman Kutha Ratna, dan I Gede Mudana. Bali: Pustaka Larasan bekerja sama dengan Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana.

Marzuki. (2015). Pendidikan Karakter Islam. Jakarta:Amzah

Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sanderson, Stephen K. 1993. Sosiologi Makro. Sebuah Pendekatan terhadap Realitas Sosial. Edisi kedua. (Farid Wajidi, S. Menno, Pentj). Jakarta: Rajawali Pers.

Syafrayuda, Diah Rosari, (2015), “Eksistensi Tari Payung Sebagai Tari Melayu Minangkabau di Sumatera Barat”. Jurnal Ekspresi Seni. ISSN 1412 – 1662 Volume 17, Nomor 2, November 2015. Padangpanjang: ISI Padangpanjang

Thaib, Raudha, (2008), “Perjuangan Siti Manggopoh Sebagai Spirit Perjuangan Nan Kokoh Bagi Perempuan Minangkabau”, Makalah, Lubuk Basung: Seminar Pendidikan 1 Juni 2008.

Thaib, Raudha, (2010). “Perempuan Minangkabau Dulu, Kini dan Akan Datang (Perempuan dalam Perspektif Sejarah)”, Makalah, Padang: Seminar KAMMI 29 Mei 2010
Published
2019-05-23
How to Cite
Yulinis, Y. (2019). Eksistensi Payung Dalam Kebudayaan Minangkabau Di Era Globalisasi. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(2), 275-283. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i2.711
Section
Articles