Lambang Dewate Nawasange Sebagai Wujud Pengaruh Peradaban Majapahit Di Bali

  • I Nyoman Lodra Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan, FBS, Pascasarjana S.2 Pendidikan Seni Budaya Univrsitas Negeri Surabaya. Kode Pos 60213.Indonesia
Keywords: akulturasi, lambang, dewate nawesange, sekte, surya majapahit

Abstract

Lambang “Dewate Nawesange” sebagai gambaran visual 9 dewa manifestasi Ide Sang Hyang Widhi yang mengusai sembilan penjuru mataangin merupakan bagian dari nilai ajaran Agama Hindu. Oleh umat Hindu di Bali lambang tersebut termasuk di sakralkan dan digunakan sebagai sarana/prasarana upacara serta wujudnya dibuat dalam bentuk relief, gambar (kober, umbul-umbul), “sate gelar sange”. Kajian visual lambang Dewate Nawesange tersebut ada kesamaan serta kuat dugaan telah terjadi akulturasi dengan lambang Surya Majapahit Trowulan Jawa Timur. Para ahli menyebut gambar lambang Surya Majapahit yang tersimpan di Musium Trowulan tersebut sebagai lambang dari kerajaan Majapahit. Fokus pembahasan: bagaimana bisa terjadi kemiripan atau kesamaan bentuk visual antara lambang Surya Majapahit dengan  lambang “Dewate Nawesange”?. Tujuan: mendiskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi kemiripan atau kesamaan bentuk visual antara lambang Surya Majapahit dengan  lambang Dewate Nawesange. Metode penelitian: deskriptif kualitatif menguraikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadi  kesamaan dari dua lambang tersebut, dengan kajian teori semiotik, teori etnografi, ikonografi, dan teori pertukaran sosial. Sumber data: dokumen lambang Surya Majapahit yang ada di Musium Trowulan dan lambang “dewate nawesange” yang berkembang di Bali. Hasil kajian dan analisis lambang  Surya Majapahit dan lambang Dewate Nawesange ditemukan telah terjadi akulturasi ajaran “sekte-sekte” di Bali dengan lambang Surya Majapahit. Temuan: lambang ”dewate nawesange” sebagai bentuk akulturasi dari nilai ajaran “sekte-sekte” di Bali  terjadi pada saat kekuasaan kerajaan Majapahit.

References

Ardana, I Gusti, 2007, Pemberdyaan Kearipan Lokal Masyarakat Bali Dalam Menghadapai Budaya Global, Pustaka Tarukan Agung, Denpasar.

Ardika, Wayan. Pelestarian dan Pemanfaatan Tinggalan Arkeologi dalam mengembangkan pariwisata Budaya Bali. Denpasar: Program Studi Pariwisata Unud.

Ardika, Wayan dan Sutaba, Made. 1989. Dinamisme Kebudayaan Bali. Denpasar: PT Upada Sastra..

Beilharz, Peter. 2005. Teori-teori Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Benedict, Ruth. 1966. Pola-pola Kebudayaan. Jakarta: Dian rakyat.

Dantes, Nyoman 2012, Metode Penelitian, Andi Yogykarta.

Dharsono, 2007, Estetika. Rekayasa Sains, Bandung.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan, Refleksi Budaya. Yogyakarta: Kanisius.

Gede Jaman, 1999, Rerajahan dalam Kehidupan, Pramita Surabaya.

Koentjaraningrat. 1997. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan Jakarta.

Krisna Bayu Aji,2016, Di Balik Pesona dan sisi Kelam Majapahit, Araska Publisher Yogyakarta.

Lash, Scott, 2004, Sosiologi Post Modernisme, Kanisius, Yogyakarta.

Sastrodiwiryo, Soegianto, 2010, Perjalanan Danghyang Niratha, cetakan ke-5, BP, Denpasar.

Sartono, Kartodirdjo,dkk, 700 tahun Majapahit (1293-1993), Suatu Bunga Rampai, Edisi Keempat.

Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kombinasi, Alfabeta, Bandung

Ritzer, George, 2007, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media Group.

Triguna Yudha I.B.G, 2003, Estetika Hindu dan Pembangunan Bali, Program Magister UNHI Denpasar.
Published
2019-05-22
How to Cite
Lodra, I. N. (2019). Lambang Dewate Nawasange Sebagai Wujud Pengaruh Peradaban Majapahit Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(2), 165-171. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i2.698
Section
Articles