Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya Dan Agama Di Bali

  • I Gusti Ngurah Seramasara Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: wayang, komunikasi simbolik, praktek budaya dan agama

Abstract

Wayang sebagai seni pertunjukan merupakan media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek agama dan budaya sudah dikenal sejak jaman pra Hindu. Ritual bayang-bayang dalam kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan praktek budaya dan agama untuk memuja roh nenek moyang. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pertunjukan wayang sebagai media komunikasi simbolik dalam praktek budaya dan agama di Bali. Permasalahan yang diangkat melalui penulisan ini adalah ingin menginvestigasi apakah pertunjukan wayang dalam praktik budaya dan agama di Bali, dipahami dan dihadirkan sebagai ujud pemujaan pada kekuatan gaib sebagai perkembangan dari tradisi pra Hindu. Metode yang digunakan untuk mengkaji masalah di atas adalah metode penelitian kualitatif dengan teori interaksi simbolik dan komunikasi. Penulisan ini ingin menunjukan bahwa wayang sebagai media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek budaya dan agama di Bali telah dilakukan sejak jaman pra Hindu dan masih dipertahankan oleh orang Bali sampai sekarang. Kekuatan gaib yang dapat mengganggu manusia masih dipercaya oleh masyarakat Bali, terutama pada anak yang lahir pada tumpek wayang, sehingga perlu diruwat (dibersihkan) gangguan itu dengan wayang sapuh leger.

References

Bastomi, Suwaji, 1993, Nilai-Nilai Seni Pewayangan. Semarang : Dahara Prize.

Giddens, Anthony, 2009, Kapitalisme Dan Teori Sosial Modern Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim Dan Max Weber. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Groenendael, Victoria M. Clara Van, 1987, Dalang Di Balik Wayang. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti.

Jaeni, 2012, Komunikasi Estetik Menggagas Kajian Seni dari Peristiwa Komunikasi Pertunjukan. Bogor : Institut Pertanian Bogor Press.

Kartodirdjo, Sartono, 1976, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Kartodirdjo, Sartono, 1982, Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif. Jakarta : Gramedia.

Keith, Tester, 2003, Media, Budaya Dan Moralitas.Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Mulyono, Sri, 1983, Simbolisme Dan Mistikisme Dalam Wayang Sebuah Tinjauan Filosofis. Jakarta : Gunung Agung.

Muyono, Sri, 1978, Wayang Asal Usul, Filsafat Dan Masa Depannya. Jakarta : Gunung Agung.

Ritzer, George – Douglas J. Goodman, 2010, Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Smiers, Joost, 2009, Arts Under Pressure Memperjuangkan Keaneka Ragaman Budaya di Era Globalisasi. Yogyakarta : Insist Press.

Soedarsono, 1972, Djawa Dan Bali Dua Pusat Perkembangan Dramatari Tradisional Di Indonesia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Soedarsono, 1974, Beberapa Catatan Tentang Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta : Konservatori Tari Indonesia.

Published
2019-02-13
How to Cite
Seramasara, I. G. N. (2019). Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya Dan Agama Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(1), 80-86. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i1.640
Section
Articles