Genealogi Porosan Sebagai Budaya Agama Hibrida Dan Maknanya Pada Masyarakat Hindu Di Bali

  • Nengah Bawa Atmaja Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Undiksha Singaraja
  • Anantawikrama Tungga Atmadja Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiksha Singaraja
  • Tuty Maryati Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Undiksha Singaraja

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif memakai paradigma teori sosial kritis. Masalah yang dikaji adalah genealogi porosan dan maknanya bagi agama Hindu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bertumpu pada paradigma interpretatif dan paradigma teori sosial kritis (Ritzer, 2012). Objek kajiannya adalah porosan sebagaimana yang digunakan pada canang sari.Hasil kajian menunjukkan bahwa porosan adalah simbol berbentuk budaya agama hibrida. Artinya, porosan merupakan campuran antara tradisi mengonsumsi sirih pinang (nginang) dan pemujaan terhadap Tri Murti. Hal ini dapat diabstraksikan dalam gagasan, yakni porosan/canang = pinang + sirih + kapur = merah + hitam/hijau + putih = Brahma + Wisnu + Siwa = Pencipta + Pemelihara + Pelebur = A+ U + M = OM = Tuhan. Porosan harus ada pada sesajen antara lain canang sari. Pemakaian porosan tidak saja bermakna keagamaan, tetapi juga teologi sosial, yakni pedoman bertindak mengikuti Tri Murti guna menciptakan kebudayaan berbasiskan aksiologi Hindu, yakni satyam, sivam dan sundaram. Dengan demikian terbentuk suatu budaya yang menjunjung tinggi harmoni sosial, ekologis dan teologis.

References

Adnyana, I N M. (2012). Arti dan Fungsi Banten sebagai Sarana Persembahyangan. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Atmadja, N.B. (2014). Saraswati Dan Ganesha Sebagai Simbol Paradigma Interpretativisme Dan Positivisme: Visi Integral Mewujudkan Iptek dari Pembawa Musibah Menjadi Berkah bagi Umat Manusia. Denpasar: Pustaka Larasan bekerja sama dengan IBIKK BCCC Undiksha Singaraja dan Universitas Hindu Indonesia.

Atmadja, N.B., A. T. Atmadja, dan T. Maryati. (2015). Industri Banten Jaringan Bisnis dan Implikasinya terhadap Masyarakat Bali. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Barker, C. (2004). Cultural Studies Teori dan Praktik. Terjamahan Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

___________, (2014). Kamus Kajian Budaya. Terjemahan B. Hendar Putranto. Yogyakarta:Kanisius.

Barthes. R. (2007). Petualangan Semiologi. Terjemahan Stephanus Anwar Herwinarko. Yogyakarta: Pustaka Perlajar.

Bjonness, R. (2013). Tantra Yoga Cinta dan Pencerahan Tuntutan Personal, Tradisi, Filsafat dan Praktik Tantra Bagian A. Terjemahan AVA. Jakarta: Yayasan Ananda Marga Yoga.

Burde, J. (2011). Rahasia OM. Terjemahan A.A. Ngurah Surya Wijaya. Surabaya: Paramita.

Crofton, J. dan D. Simpson. (2002). Tembakau Ancaman Global. Terjemahan Angela N. Abidin dkk. Jakarta: Kompas Gramedia.

Darmawan, D. (2014). Identitas Hibrid Orang Cina. Yogyakarta: Gading Publishing.

Dester, N.S. (1988). Pengalaman dan Motivasi Beragama. Yogyakarta: Kanisius.

Dillistone, F.W. (2002). Daya Kekuatan Simbol The Power of Symbols. Terjemahan A. Widyamartaya. Yogyakarta: Kanisius.

Endraswara, S. (206). Metodologi Ekologi Sastra Konsep, Langkah, dan Penerapan. Jakarta; CAPS.

Foster, J.B. (2013). Ekologi Materialisme dan Alam. Terjemahan Pius Ginting. Jakarta: WAHLI.

Fromm, E. 1987. Memiliki dan Menjadi Tentang Dua Modus Eksistensi. Terjemahan F. Soesilo- hardo. Jakarta: LP3ES.

Promm, E. 2005. The Art of Loving Mamaknai Hakikat Cinta. Terjemahan Andri Kristawan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gellner, D.N. (2002). “Pendekatan Antropologis”. Dalam Peter Connonlly ed. Aneka Studi Agama. Terjemahan Imam Khoiri. Yogyakarta: LKiS. Hala- man 15-62.

Hardiman, F.D. (2015). Seni Memahami Herme- neutika dari Schleiermacher Sampai Derrida. Yog- yakarta: PT Kanius.

Mauss, M. (1992). Pemberian Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno. Terjemahan Parsudi Suparlan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mulder, N. (1999). Agama, Hidup Sehar-hari dan Perubahan Budaya Jawa, Muangthai, dan Filipina. Jakarta” PT Gramedia Pustaka Utama.

Norris, Ch. (2006). Membongkar Teori Dekon- struksi Jacques Derrida. Terjemahan Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Ar-Ruz.

Pelzer, K.J. (1985). Toean Keboen dan Petani Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria. Terjema- han J. Rumbo. Jakarta: Sinar Harapan.

Puja, G. (2007). Wedaparikrama Himpunan Naskah Mantra dan Stotra Teks Asli Bahasa Sansekerta dan Pejelasannya. Surabaya: Paramita.

Ricoeur, P. (2006). Hermeneutika Ilmu Sosial. Terjemahan Muhammad Syukri. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzet, G. (2006). The Globalization of Nothing Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi. Terjemahan Lucinda. Yogyakarta: Universitas Atmajaya.

___________, (2012). Teori Sosiologi: dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmod- ern. Terjemahan Sahut Pasaribu. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Reid, A. (2014). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga

-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin. Terjema- han Mochtar Pobotinggi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Russel, B. (2008). Bertuhan Tanpa Agama. Terje- mahan Imam Baihaqi. Yogyakarta; Resist Book.

Sobary, M. (2016). Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung. Jakarta: Kepusta- kaan Populer Gramedia.

Suamba, IBP. (2004). OM Pranava Mantra. Denpasar: Dharmopadesa Pusat.

Susanto, PS. H. (1987). Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius.

Thouless, R.H. (1992). Pengantar Psikologi Agama. Terjemahan Machnum Husein. Jakarta: Raja Wali Pers.

Titib, Md. (2003). Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Wiana, K. (2009). Suksmaning Banten. Surabaya: Paramita.

Published
2017-09-11
How to Cite
Atmaja, N. B., Atmadja, A., & Maryati, T. (2017). Genealogi Porosan Sebagai Budaya Agama Hibrida Dan Maknanya Pada Masyarakat Hindu Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 32(2). https://doi.org/10.31091/mudra.v32i2.113
Section
Articles