Upacara Tabut di Pesisir Barat Sumatera

  • Khanizar - Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang
  • Hendrik Arwan Pendidikan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua, Papua Barat
Keywords: upacara tabut, pesisir barat sumatera, genealogi, estetika

Abstract

Upacara tabut sangat layak untuk dikaji dalam konteks kajian budaya dan masyarakat pendukungnya. Hal ini disebabkan bahwa upacara tabut sebagai identitas budaya, perekat nilai budaya dan makna budaya oleh masyarakat di Pesisir Barat Sumatera. Pembahasan upacara tabut sebagai cerminan estetika budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera, berkaitan dengan, arena budaya Islam Syi’ah di Pantai Barat Sumatera dan Indonesia umumnya. Permasalahan penelitian ini adalah; (1) Bagaimana bentuk estetika upacara tabut sebagai identitas dan sekaligus sebagai perekat nilai budaya, (2) Bagaimana fungsi estetika upacara tabut sebagai identitas lokal, (3) Bagaimanakah kelompok masyarakat Pesisir Barat Sumatera memaknai upacara tabut yang dilaksanakan sekali dalam setiap tahun Hijiriah.  Tujuan penelitian ini adalah membahas nilai-nilai upacara tabut dari aspek; (1) identitas masyarakat dan sekaligus sebagai perekat nilai budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera. (2) mengaplikasikan fungsi estetika etnis. (3) menjelaskan makna estetis dan kaitannya dengan agama dan adat istiadat. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode kualitatif sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah dan paradigm kajian budaya. Untuk pemecahan permasalahan digunakan tiga teori besar, yaitu teori genealogi, teori dekonstruksi dan teori postkolonial. Ketiga teori tersebut dipergunakan secara eklektis untuk membahas subtansi pokok bahasan.  Bahasan terhadap penelitian upacara tabut di Pesisir Barat Sumatera  terdiri atas; (a) upacara tabut sebagai bentuk cerminan estetika budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera, (b) Fungsi upacara tabut oleh masyarakat Pesisir Barat Sumatera, sebagai pembersihan jiwa, religiusitas, pengalaman mistis dan estetis, ideologi, hegemoni melebihi patronase postkolonial, hingga upacara tabut berfungsi sebagai pensucian dan pernyataan estetis kosmologi masyarakat pendukung upacara tabut; dan (c) Makna dekonstruksi dan genealogi estetika upacara tabut di Pesisir Barat Sumatera.

References

Amran, Rusli. (1981)a. Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

Amran, Rusli. (1981)b. Sumatra Barat Palakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

Asnan, Gusti. (2007). Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. I (terjemahan dari Trading and Shipping Activities: The west Coast of Sumatra 1819-1906). Jogyakarta: Ombak.

Ardika, I wayan dan Dharma Putra. (2004). Politik kebudayaan dan Identitas Etnik. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Balimangsi Press.

Brannen, Julia. (1997). Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dhahir, Ihsan Ilahi. (2002). Virus Syi’ah: Sejarah Alianisme Sekte. Jakarta: Darul Falah.

Deleuze, Gilles. (2004). What Is Philosophy: Reinterpetasi Atas Filsafat, Saint, dan seni. Jogyakarta: Jalasutra.

Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1971). Proyek Penerbitan dan Pecatatan Kebudayaan Sumatera Barat. Djakarta: Dekdikbud.

Derrida, Jacques. (2000). Hantu-hantunya Marx Keadaan Hutang: Karya Belangsungkawa dan Internasional Baru (terj.). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Eliade, Mircea. (2002). Sakral dan Profan Menyingkap Hakikat agama. (terj.) Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Foucault, Michel. (2002)a. Kegilaan dan Peradaban. (terj.). Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Foucault, Michel. (2002)b. Power and Knowledge: Wacana Kuasa/Pengetahuan. (terj.). Yogyakarta: Bentang Budaya.

Foucault, Michel. (2002)c. Pengetahuan dan Metode. (terj). Yogyakarta: Jalasutra.

Lubis, Akhyar Yusuf. (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.

Gandhi, Leela. (2007). Teori Postkolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. (terj.). Jogyakarta: Qalam.

Gazalba, Sidi. (1989). Islam dan Perubahan Sosial: Budaya, Kajian Islam tentang perubahan Masyarakat. Jakarta: Pustaka Al-Husna

Greg, Sutomo. (2003). Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius.

Hamka. (1976). Sejarah Umat Islam (jilid IV). Jakarta: Bulan Bintang.

Hamka. (2010). Tuanku Rao: antara Fakta dan KhayaL.

Hasymi, A. (1981). Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Medan: Percetakan Offset.

Khanizar. (1995). “Musik Tabuik Dalam Upacara Tabuik Sebagai Upacara kaum Syi’ah di Pantai Barat Sumatra Barat” Skripsi sarjana. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.

Khanizar. (2004)a. “Hamparan Jacques Derrida: Teori Postmodernisme dalam Wacana Seni pertunjukkan”. Dalam Mudra Jurnal Seni budaya. Vol. 15 No. 2 September 2004. UPT Penerbitan. Institut Seni Indonesia Denpasar.

Khanizar. (2014). Membaca Seni Pertunjukkan: Membingkai Etnoestetika. Padang: Universitas Andalas Press.

Manggis, Rasyid, Dt. Rj. Penghulu. (1971). Minangkabau Sejarah Ringkas dan Adatnya. Padang: Sri Dharma.

Meuraxa, Dada. (1974). Sejarah Kebudayaan Melayu. Medan: Firma Hasmar.

Muhaya, Abdul. (2003). Bersuft Melalui Musik. Yogyakarta: Gama Media.

Thabathaba’i, Allamah M.H., (1989). Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembanganya. Jakarta: Temprint.

Yasin Owadally, Mohammad. (2003). Tabut, Peti Surga dan Kisah-kisah lainnya. (terj.). Bandung: Marja.

Zed, Mestika, (1995). Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995. Padang: Grafika Sumatera Barat.
Published
2020-09-09
How to Cite
-, K., & Arwan, H. (2020). Upacara Tabut di Pesisir Barat Sumatera. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(3), 266-272. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i3.1110
Section
Articles