Overexploitation Of Sand Mining Leading To Imaginary Landscape: Research-Based Creation

I Wayan Setem

Abstract


An art has something to do with form and content (shape and the meaning attached to it). When an artist intends to add philosophical value to his creation, he enters two aesthetic exploration spaces; they are the aesthetic concept and the artistic exploration. “The structure of the form shows “the face” of an art work which cannot be separated from how material should be processed, and the “aesthetic structure” treats every “aesthetic thing” as an entity which is caught as a combination of the quality of perception and the common sense processing which are drawn into the metaphysical, ethic, axiological, and epistemological (philosophical) dimensions. Similarly, the ideas which are related to the fine arts of which the subject matter is the overexploitation of the sand mining should be processed in the phases of concepts with aesthetic dimension before they are retransformed in the visual stage; therefore, the creative process and the idioms chosen become highly subjective. It is easy to explain every phase in the creation process, and the visual idioms chosen can be generalized, clarified, verified, and concluded in the level of objectivity. The theoretical conception of the visual value becomes multi interpretations and rich in meaning (positive), as the value of its articulation contains symbols and metaphors.

Seni adalah bentuk dan isi (wujud dan makna yang melekat). Ketika pengkarya ingin memberikan bobot filsafati pada karyanya, maka pengkarya memasuki dua ruang penjelajahan estetika, yaitu konsep estetik dan eksplorasi artistik. ”Struktur bentuk” menunjukkan ”wajah” suatu karya seni dengan pengolahan material, sedangkan ”struktur estetik” meletakkan segala hal yang ”estetik” sebagai suatu entitas yang ditangkap dalam keterpaduan antara kwalitas persepsi dengan pengolahan akal budi yang ditarik kedalam dimensi-dimensi metafisik, etik, aksiologik, dan epistemologik (filsafati). Seperti ide-ide dalam seni rupa yang yang bertitik tolak (subject matter) overeksploitasi penambangan pasir, harus diolah dalam tataran konsep-konsep yang berdimensi estetik, kemudian ditransformasikan lagi dalam tataran visual, maka proses kreatif dan pilihan-pilihan idiom-idiom visualnya menjadi sangat subjektif. Tidaklah mudah dijelaskan setiap tahapan dalam proses kreasi dan pilihan idiom-idiom visual tersebut dapat digeneralisir, diklasifikasi, diverifikasi, dan disimpulkan dalam tataran obyektivitas. Pemahaman teoritik kegambaran visikal (nilai visual) menjadi multi interpretasi dan kaya makna (positif), karena nilai kebentukkannya mengandung simbol-simbol dan metafora-metafora.


Keywords


Fine arts; artistic and work

Full Text:

PDF

References


Bakker, Anton, 1995. Kosmologi dan Ekologi: Filsafat Tentang Kosmos sebagai Rumahtangga Manusia, Yogyakarta, Kanisius.

Berger, Arthur Asa, 1984. Sign in Contemporary Culture, An Introduction to Semiotics atau Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer: Suatu Pengantar Semiotika, terjemahan M. Dwi Marianto (2005), Yogyakarta, Tiara Wacana.

Capra, Pritjof, 2001. Tao of Physics: Menyingkap Pararelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur, Yogyakarta, Jalasutra.

Darma, Hj. Yoce Aliah, 2009. Analisis Wacana Kritis, Bandung, Rama Widya.

Djelantik, A. A. M., 1999. Estetika: Sebuah Pengantar, Bandung, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).

Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan, Yogyakarta, Kanisius.

Feldman, Edmund Burke, 1967. Art as Image and Idea atau Seni sebagai Ujud dan Gagasan, terjemahan Gustami, SP. (1991), (tidak diterbitkan), Englewood Cliffs, New Jersey, Prentice-Hall Inc.

Gadamer, Hans Georg, 1975. Truth and Method, London, Sheed & Warrd.

Gustami, SP., 2006. “Kearifan Ekosistem dan Kecemasan”, dalam Agus Burhan (Eds.) Jaringan Makna Tradisi Hingga Kontemporer, Yogyakarta, BP Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Marianto, M. Dwi, 2006. “Metode Penciptaan Seni”, dalam Surya Seni, Vol. 2 No. 1 September 2006, Yogyakarta, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

______, (2006), Quantum Seni, Semarang, Dahara Prize.

______ , 2010. “Relasi Bolak-balik Antara Seni dan Daya Hidup”, dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar di Fakultas Seni Rupa, Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Moelyono, 1997. Seni Rupa Penyadaran, Yogyakarta, Yayasan Bentang Budaya.

Kartasapoetra, G. A. G., 1985. Teknologi Konservasi Tanah dan Air, Jakarta, Rineka Cipta.

Rahim, S.E., 2006. Pengendalian Erosi Tanah dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup, Jakarta, PT. Bumi Aksara.

Prime, Rancor, 2006. Tri Hita Karana Ekologi Ajaran Hindu: Benih-benih Kebenaran, (terjemahan K.G. Wiryawan), Surabaya, Paramita.

Purwasito, Andrik, 2003. Massage Studies: Pesan Penggerak Kebudayaan, Yogyakarta, Ndalem Purwahadiningratan Press.

Sachari, Agus, 2000. “Riset di Bidang Desain dan Kesenirupaan”, dalam Refleksi Seni Rupa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.

_____ , (2002), Estetika: Makna Simbol dan Daya, Bandung, ITB.

Sumardjo, Jakob, 2000. Filsafat Seni, Bandung, ITB.

______ , 2002. Arkeologi Budaya Indonesia (Pelacakan Hermeneutis-Historis Terhadap Artefak-artefak Kebudayaan), Yogyakarta, Qalam.

Soemarwoto, Otto, 1985. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan.

Tabrani, Primadi, 2009. Bahasa Rupa, Bandung, Kelir.

Tedjoworo, H., 2001. Imaji dan Imajinasi: Suatu Telaah Filsafat Post Modern, Yogyakarta, Kanisius.

Wiana, I Ketut, 2009. “Air Permata Bumi”, dalam Air dalam Kehidupan, Fungsi dan Perannanya dalam Kebudayaan Nusantara, Denpasar, SSEASR bekerjasama dengan Universitas Hindu Indonesia dan Institut Seni Indonesia Denpasar.

Widaryanto, F.X., 2015. Ekokritikisme Sardono W. Kusumo: Gagasan, Proses Kreatif, dan Teks-teks Ciptaanya, Jakarta, PascaIKJ

Freitag, Thomas U., (14 Februari – 14 Maret 2009), ”Expectation Confirmation” dalam KataologPameran Kelompok Galang Kangin dan Teman-teman di Tony Raka Art Gallery Ubud, Bali.

Balai Pengelolaan DAS unda Anyar. (2009), Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTK-RHL DAS) Wilayah Kerja BPDAS Unda Anyar, Denpasar, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Unda Anyar.

Departemen Kehutanan. (1998), Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Departemen Kehutanan Nomor: 041/Kpts/V/1998 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasilahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai, Jakarta, Departemen Kehutanan RI.

______ , (2009a), Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: SK. 328/Menhut-II/2009 tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dalam Rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010–2014, Jakarta, Departemen Kehutanan RI.

______ , (2001), Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 52/Kpts-II/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Jakarta, Departemen Kehutanan RI.




DOI: http://dx.doi.org/10.31091/mudra.v32i3.182

Article metrics

Abstract views : 121 | views : 90

Refbacks

  • There are currently no refbacks.






Indexed By

Crossref logo DOAJ Google Scholar   BASE


Editorial Office

Mudra Jurnal Seni Budaya
Indonesia Institute of The Arts of Denpasar
Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Phone : +62-361-227316 ext : 159 Fax : +62-361-236100
Email : penerbitan@isi-dps.ac.id

Creative Commons License
Mudra Jurnal Seni Budaya is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.