Celeng Ngelumbar Metafor Penambangan Eksploitatif Pasir

  • I Wayan Setem Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta
  • Pande Made Sukerta Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta
  • Sardono W Kusomo Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta
  • Dwi M Marianto Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Surakarta
Keywords: Tukad, penambangan eksploitatif pasir dan celeng

Abstract

Aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Fenomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Dari pengamatan mendalam pengkarya mendapat pemahaman dan insight yang menjadi pemicu proses kreatif. Problimatikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif melalui tahapan terstruktur, spontan dan intuitif. Metode ini telah menghasilkan elaborasi yang unik dari semua komponen imajirial sehingga melahirkan gagasan dan metafor yang kreatif. Karya-karya dibuat atau digagas di studio dan pindahkan ke, atau dirangkai di sekitar wilayah areal penambangan. Hubungan antara lokasi presentasi dan masyarakat mampu menjadi sebuah kekuatan tersendiri karena sesuai dengan konteks persoalan. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetika namun menjadi cara atau alat untuk menyebrangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan. Penciptaan seni adalah sebagai modus yang mampu untuk menginspirasi masyarakat agar tergugah secara kolektif maupun individual untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian eco-system.The exploitative sand mining in Selat District contributed to the economic growth; however, the local people were never aware that it had caused the environment to be degraded. The phenomenon of the exploitative sand mining is used as the theme and subject matter of an art creation. From what was observed by the artist, an insight into something contributed to a creative process. The problem was reflected in the form of language using the method of hyperbole. The art creation was created using the structured, spontaneous and intuitive creative steps and method which led to a unique elaboration of all the imaginary components and a creative metaphor and concept. The creation was designed in a studio before it was moved to or arranged around the mining area. The relation between the location of presentation and people could become a specific strength as it was in accordance with the context of the subject matter. The target of the art work did not only constitute an individual expression which was limited to the matter of common aesthetics but it was also used as the way of and the tool for transmitting (campaigning) an environmental issue. The art creation could be used to inspire people, as individuals and groups, to participate in the attempt made to preserve the eco-system

References

Asdak, Chay, Hidrologi dan Pegelolaan Daerah Aliran Sungai, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004.

Bali Post, 1 Agustus 2014

Capra, Pritjof, Tao of Physics: Menyingkap Pararelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur, Yogyakarta: Jalasutra, 2001.

Darsoprajitno, H. Soewarno, Ekologi Pariwisata: Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata, Bandung: Angkasa, 2013.

Marianto, M. Dwi, “Relasi Luar-dalam Antara Seni dan Metafor”. SURYA SENI Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni, 3 No. 1 (Februari 2007), 19.

__________________ , Art and Life Force: in a Quantum Perspective, Yogyakarta: Scritto Books Publisher, 2017.

Moelyono, Seni Rupa Penyadaran, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1997.

Keraf, A. Sonny, Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan, Yogyakarta: PT. Kanisius, 2017.

Poerwoko, Widya, “Eco-Art: Fungsi, Peran dan Makna Bambu dalam Integrated Space Design.” Proposal Disertasi Karya Seni Doktor S-3 Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2009.

Sanjaya, Tisna, ”Pusat Kebudayaan Cigondewah: Revitalisasi Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Seni Lingkungan.” Disertasi Karya Seni Doktor S-3, Program

Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2010.

Setem, I Wayan, dan A.A. Gede Yugus, “Eco Reality.” Laporan Hibah Penciptaan Dana DIPA Institut Seni Indonesia Denpasar dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penciptaan, Nomor 56/It.5.3/ Pg/2013 Tanggal 29 Mei 2013.

Soewarno, Darsoprajitno H., Ekologi Pariwisata: Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata: Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata, Bandung: Angkasa, 2013

Sudarma, I Wayan, 2014. “Dampak Galian C Terhadap Lingkungan Alam dan Sosial Budaya Masyarakat Desa Peringsari Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem.” Jurnal JNANA BUDAYA, Media Informasi Sejarah, Sosial, dan Budaya, 19 No. 2 (Agustus 2014), 254-257.

Tedjoworo, H., Imaji dan Imajinasi: Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Widaryanto, F.X., Ekokritikisme Sardono W. Kusumo: Gagasan, Proses Kreatif, dan Teks-teks Ciptaanya, Jakarta: PascaIKJ, 2015.

Narasumber

Nama : I Made Mangku Tirta

Umur : 61 Tahun

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat :Banjar Sebudi, Desa Sebudi, Selat, karangasem, Bali.

Published
2018-05-09
How to Cite
Setem, I. W., Sukerta, P., Kusomo, S., & Marianto, D. (2018). Celeng Ngelumbar Metafor Penambangan Eksploitatif Pasir. Mudra Jurnal Seni Budaya, 33(2), 161-170. https://doi.org/10.31091/mudra.v33i2.350
Section
Articles