Interpretasi Visual Sila Kedua dan Kelima Wayang Beber Pancasila

Interpretasi Visual Sila Kedua dan Kelima Wayang Beber Pancasila

Authors

  • Sumbo Tinarbuko Prodi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta
  • Cok Alit Artawan Prodi Desain Komunikasi Visual, FSRD ISI Denpasar

DOI:

https://doi.org/10.31091/mudra.v36i2.1443

Keywords:

wayang beber pancasila, semiotika komunikasi visual, triadik sumbo tinarbuko

Abstract

Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode analisis semiotika komunikasi visual dimanfaatkan sebagai metode analisis tanda dan makna pada objek penelitian. Proses analisis dijalankan memakai konsep Triadik Sumbo Tinarbuko. Konsep ini penulis ciptakan untuk mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menangkap makna konotasi yang terkandung pada sila kedua dan sila kelima Wayang Beber Pancasila. Penelitian ini dikerjakan dengan tujuan mengintrepretasikan secara visual makna konotasi sila kedua dan sila kelima Wayang Beber Pancasila. Hasilnya, pertama, pada sila kedua yang divisualkan lewat adegan Ratu Adil, menyampaikan pesan sosial diksi adil tidak dimaknai secara egois berdasar pendapat dan kesenangan diri pribadi. Diksi adil harus diselaraskan dengan tata nilai dan adat istiadat berdasarkan kondisi lingkungan sosial dan budaya yang ada. Kedua, pada sila kelima yang divisualkan dalam simbol Guyup Samudra, mengharapkan munculnya pengharapan baru berupa kesejahteraan sosial yang berkeadilan. Serta senantiasa menjunjung tinggi martabat dan kemuliaan sesama umat manusia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Barthes, Roland (2010). Image/Music/Text atau Imaji Musik Teks, terjemahan Agustinus Hartono (1990). Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.

Danesi, Marcel. (2010). Messages, Signs, and Meaning: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory atau Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, terjemahan Evi Setyarini dan Lusi Lian Piantari (2004). Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.

Eco, Umberto. (l979). A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.

Hariyono. (15-16 Agustus 2019), “Aktualisasi Pancasila dalam Merajut Kembali Persatuan Bangsa”. Makalah Kongres Pancasila XI, Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta.

Kasidi. (2019). Literatur Pedalangan: Balungan Lakon Wayang – Gagrag Ngayogyakarta Serial Harjunasasra – Ramayana – Sasana Hinggil Dwi Abad 2016-2017. Yogyakarta: Penerbit Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Noth, Winfriend. (1995). Handbook of Semiotics. Blommington and Indianapolis: Indiana University Press.

Piliang, Yasraf Amir. (1998). Sebuah Dunia yang Dilipat, Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Penerbit Mizan.

Pimpinan MPR dan Badan Sosialisasi MPR RI. (2018). Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Jakarta: Penerbit Sekretariat Jendral MPR RI

Sayid, R.M. (1980). Bauwarna Kawruh Wayang: Sejarah Wayang Beber. Solo: Penerbit Reksa Pustaka Pura Mangkunagaran.

Tinarbuko, Sumbo. (2017). Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Penerbit BP ISI Yogyakarta.

Tinarbuko, Sumbo. (2019). ‘’Membaca Makna Iklan Politik Pilpres 2019’’, dalam Mudra, Jurnal Seni dan Budaya, Volume 32 No. 2, Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar.

Tinarbuko, Sumbo. (2020). Perancangan dan Pengkajian Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Penerbit BP ISI Yogyakarta.

Williamson, Judith. (1984). Decoding Advertisements, Ideology and Meaning in Advertising. London: Marion Boyars Publishers Ltd, 24 Lacy Road.

Webtografi
https://kbbi.web.id/timpuh

Downloads

Published

11-06-2021

How to Cite

Tinarbuko, S., & Artawan, C. A. (2021). Interpretasi Visual Sila Kedua dan Kelima Wayang Beber Pancasila. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(2), 140–145. https://doi.org/10.31091/mudra.v36i2.1443

Issue

Section

Articles
Loading...