Inovasi Bentuk Lukisan Wayang Kamasan

  • I Wayan Mudana

Abstract

Lukisan wayang Kamasan (LWK) merupakan seni tradisional yang tumbuh dan berkembang di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, memiliki identitas sangat khas dan unik. Secara tradisi lukisan wayang Kamasan memiliki identitas yang sangat khas dan unik digunakan sebagai sarana persembahan dalam ritual agama Hindu. Kekhasan LWK terikat oleh pakem, nilai, norma, dan ketentuan yang bersifat mengikat dan baku, Sedangkan keunikannya, masih dikerjakan secara kolektif dan komunal dengan menggunakan bahan dan peralatan yang diambil dari alam serta diolah dengan teknik-teknik tradisional. Secara visual LWK juga memiliki estetika yang sangat artistik, di dalamnya terkandung nilai-nilai filsafat yang bersifat simbolik yang sering digunakan sebagai pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Pada perkembangannya LWK diinovasi menjadi seni kemasan pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam hukum seni pasar, Keith Tester (2003) mengatakan; konsumen dengan kekuatan modal beserta agen-agennya sudah mampu mengatur dan mengendalikan pelukis untuk menciptakan produk-produk baru yang semu. Lebih lanjut, modal dapat digolongkan menjadi, modal kapital, modal simbolik, modal budaya, dan modal sosial.Fenomena lukisan Wayang Kamasan (LWK) sebagai seni kemasan pasar menarik untuk dikaji secara kritis dengan menggunakan pendekatan culture studies terfokus pada tiga masalah. Pertama, mengapakah terjadi inovasi pada lukisan wayang Kamasan? Kedua, bagaimanakah bentuk inovasi lukisan Wayang Kamasan sebagai seni kemasan pasar 7 dan Ketiga, bagaimanakah implikasi inovasi lukisan wayang Kamasan menjadi seni kemasan pasar di Klungkung Bali? Pengkajian terhadap masalah tersebut bersifat ekletik menggunakan teori praktik dengan rumus generatzf (habitus x modal) + ranah = praktik, teori komodifikasi, dan teori estetika postmodern‘ Metode yang digunakan mengkaji penelitan LWK adalah metode kritis yang bersifat emansipatoris dengan data wawancara secara mendalam, observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut, Pertama, LWK sudah mengalami inovasi menjadi produk-produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen, Faktor-faktor pendorong terjadinya inovasi, yaitu (1) motivasi ekonomi, (2) identitas diri, (3) kreativitas melukis (4) globalisasi, dan (5) pariwisata. Kedua, bentuk inovasi LWK berupa produk soevenir, yaitu berupa barang dagangan untuk didistribusikan ke pasar. Ketiga, implikasi dari inovasi LWK bersifat positif dan negatif. Sifat positif LWK dapat meningkatkan kesejahteraan, meluasnya distribusi dan konsumsi sosial, munculnya pelukis perempuan, dan berkembangnya industri kreatif. Sifat negatifnya, LWK yang bersifat simbolik diprofanisasi menjadi produk massa sehingga terj adi desakralisasi yang berimplikasi melunturnya nilai-nilai tradisi lokal dan berkembangnya industri kreatif di Klungkung Bali.

References

Ajidanna, Seno Gumira. 2011. Panji Tengkorak Kebudayaan dalam Perbincangan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Althusser, Louis. 2004. Tentang Ideologir Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

Anthony, Forge. 1978. Balinese Traditional Painting. Sydney: The Australian Museum.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori & Praktik, (Terjemahan Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Barthes, Roland. 2007. Petualangan Semilogi (L ’aventure Semiologique). (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baudrillard, Jean. 2009. Masyarakat Konsumsi (La Societe de Consommation). (Terjemahan). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Bourdieu, 2010. Arena Produksi Kultural (The Field of Cultural Production): Sebuah Kajian Sosiologi Budaya (Essays on Art and Literature). (Terjemahan). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Dharsono (Sony Kartika). 2007. Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.

Dibia, id. Arimbawa, I .M. G. 2013. Sekar Jagat Bali: Kumpulan Rekam Jejak Tokoh Seniman & Budayawan Bali. Denpasar: UPT Penerbitan Istitut Seni Indonesia Denpasar.

Eka Suprihadi Y dan Nunung Nurdjanti. 2006. Vibrasi Seni Lukis Kamasan di Bali Indonesia. Yogyakarta: Program Hibah Bersaing, Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Featherstone, Mike. 2008. Posmadernisme dan Budaya Konsumen (Consumer Culture and Posmodern). (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Foucault, Michel. 2007. Order of T hing Arkeologi ilmu-Ilmu Kemanusiaan (The Order of Things An Archaeology of Human Sciences). Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Giddens. Anthony. 1985. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. Jakarta: UI Press.

Giddens. Anthony. 2010. Teori Strukturasi: Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gouda, Frances. 1995. Dutch Culture Overseas (Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942). Amsterdam: University Press.

Graburn, Nelson H.H. 2000. “Tradition, Tourism and Textile: Creativity at the Cutting Edge”, dalam Building on Batik. The Globalization ofa Craft

Commonity, Hitchcock, M. and Nuryanthi, Wiendu (eds), Burlington, Ashgate.

Habennas, Jurgen. 2009. T eori Tindakan Komunikatif2: Kritik atas Rasiofungsinnalis (Thenrie des Kommunikativen Handelns, band 2." Zur Kritik der Funktionalistischen Vernunft). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Humar, Sahman. 1993. Mengenal Dunia Seni Rupa: Tentang Seni, Karya Seni, Aktivitas Kreatifi Apresiasi, Kritik, dan Estetika. Semarang.IKIP.

Ibrahim, Idi Subandy. 2011. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Proses Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Kanta, I Made. 1977/ 1978. Proses Melukis Tradisional Wayang Kamasan. Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali.

Kayam, Umar. 1981. Sent Tradisi Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Kean, Mc P.F. 1973. Cultural Involution Tourist, Balinese and The Prosess of Modernizasion an Antropological Perspective. USA: Brown University.

Koentj araningrat. 1990. Sejarah Teori Antropolologi II. Jakarta: UI Press.

Kuhn, Thomass. 2008. The Structure of Scientific Revolutions." Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kumbara, A.A. Ngr Anom. 201 1. Pergulatan Elite Lokal Representasi Relasi Kuasa dan ldentitas. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dan Insitute for Multikulturalism (IMPULSE).

Maquet, Jaques. 1979. Introoduction to Aesthetic Anthropology (Second Edition). Malibu: Udena Publications.

Martyn, J. Lee. 2006. Budaya Konsumen Terlahir Kembali: Arah baru Modernitas dalam Kajian Modal, Konsumsi, dan Kebudayaan (Consumer

Culture Reborn: The Culture Politics of Consumption). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mc Kean, P. F. 1973. Cultural Involution: Tourist, Balinese, and the Process of Modernization in An Anthropological Perspective. (Dissertation). Departement of Anthropology, Brown University Press.

Miles, Matthew B. dan A Micheael Huberman. 2007. Analisis data Kualitatif (Tjetjep Rohedi, Pentj). Jakarta: UI Press.

Moleong, L. J. 1995. Metode Penelitian Kualitatif Bandung: PT. Tragia Gae Remaja Rosda Karya.

Moelyono, Mauled. 2010. Menggerakan Ekonomi Kreatiff Antara T untutan dan Kebutuhan. Jakarta: Grafindo Persada.

Muelder, Eaton Marcia. 2010. Persoalan-Persoalan Dasar Estetika. Jakarta: Salemba Humanika.

Muriati, Ni Nyoman, 1994. Seni Lukis Wayang Kamasan (Skripsi). Denpasar: Program Studi Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana.

Naisbitt, John. 1987. Gelobal Paradoks. Semakin Besar Ekonomi Dunia, Semakin Kuat Perusahaan Kecil. Jakarta:Bina Rupa Aksara.

Piliang, Y.A. 1998. Sehuah Dunia yang Dilipat, Realitas Kebudayaan Menjelang Malenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Yogyakarta:

Jalasutra.

Picard Michel. 2006. Bali Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta: KPG Kepustakaan Populer Gramedia.

Profil Pembangunan Desa Kamasan Tahun 2007. Desa Kamasan Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.

Polanyi, Karl. 2003. T ranformasi Besar: Asal-Usul Politik dan Ekonomi Zaman Sekarang (The Greet Transformation." The Political and Social Origins of Our Time). (terjemahan). Yogyakalta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Kutha Nyoman. 2007. Estetika sastra dan Budaya. Yogyakana: Pustaka Pelajar.

Ritzer. George, 2010. Teori Sosial Postmodern (The Postmodern Social T heory). Kreasi Wacana.

Ricard, Jenkins. 2010. Membaca Pikiran Pierre Bourdieu (Pierre Bourdieu). Yogyakana: Kreasi Wacana.

Sachari, Agus. 2002. Estetika. Makna, Simbol dan Daya. Bandung: Penerbit ITB.

Spillane, J . 1987. Ekanomi Pariwisata: Sejarah dan Prospeknya. Jakarta: Kanisius.

Storey, John. 1993. T eori Budaya dan Budaya Pop. Lanskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Qalam.

Steger, M.B. 2005. Globulisme Bangkitnya Ideologi Pasar. (Terjemahan Heru Prasetia). Yogyakarta: Lafadl Pustaka.

Strinati, Dominic. Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Bandung: Alpabeta.

Sugiarto, Bambanag. 1996. Postmodernismes Tantangan Bagi F ilsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Sutarjo, Adisusilo R. 2013. Sejarah Pemikiran Barat: Dari yang Klasik Sampai yang Modern. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tabrani, Primadi. 2006. Kreativitas & Humanitas: Sebuah Studi Tentang Peranan Kreativitas dalam Prikehidupan Manusia. Bandung & Yogyakarta: Jalasutra.

Tester, Keith. 2003. Media, Budaya dart Moralitas (Media, Culture and Morality): Seri Cultural Studies. (Terjemahan). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Tim Penyusun Monografi Daerah Bali. 1985. Monografi Daerah Bali, Proyek Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Bali, Denpasar.

Warsika, I Gst. Made. (1986). Kertha Gosa, Selayang Pandang (Booklet). Klungkung: Pemda Klungkung.

Weber, Max. 2006. Etika Protestan & Spirit Kapitalisme (T he pratestan Ethicspirit of Capitalism): Sejarah Kemunculan dan Ramalan tentang Perkembangan Kultur Industrial Kontempnrer secara Menyeluruh. (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zulaikha, Elly. 2009. “Industri Kreatif Berbasis Tradisi dalam Era Globalisasi", dalam Seminar lnternasional Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Traclisi dalam Menghadapi Globalisasi, Institut Seni Indonesia. Surakarta: Surakarta Press.

Published
2017-04-12
How to Cite
Mudana, I. W. (2017). Inovasi Bentuk Lukisan Wayang Kamasan. Mudra Jurnal Seni Budaya, 31(2). https://doi.org/10.31091/mudra.v31i2.31
Section
Articles