Konsep Catur Purusartha Dalam Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Buleleng, Bali

  • Rianta I Made Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Hendra Santosa
  • Sariada I Ketut Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: catur purusartha, gerak, tari rejang sakral lanang

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dari konsep gerak tarinya. Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong pada gerak tarinya berkonsepkan catur purusartha di dalamnya yang dapat dilihat dari empat gerakan pokok dalam tarian yang diulang dari awal hingga akhir tarian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsep catur purusartha dalam gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong. Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitattif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi terus terang, metode wawancara dan studi kepustakaan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa gerakan yang terdapat di dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong berbeda dengan Tari Rejang pada umumnya karena gerak-gerak yang terdapat dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong hanya terdiri dari empat gerakan yang selalu dipergunakan secara berulang-ulang dari awal tarian hingga akhir tarian, sehingga struktur gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong menggunakan struktur tunggal di dalamnya dan gerakan Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong memiliki konsep catur purusartha di dalam gerakannya. Konsep inilah yang membedakan gerak Tari Rejang Sakral Lanang dengan Tari Rejang pada umumnya. Penelitian gerak Tari Rejang Sakral Lanang menggunakan teori semiotika berdasarkan pendapat Ferdinand de Saussure yaitu penanda dan petanda. Adapun empat gerakan yang terdapat dalam tarian meliputi: agem, nengkleng, nindak dan nutup sebagai penanda dan petanda adalah bagian-bagian dari konsep catur purusartha yang terdiri dari dharma, artha, kama dan moksa.

References

Agung, A. A. A. K. (2004). Busana Adat Bali. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Bandem, I. M. (1983). Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.

Bandem, I. M. (2005). Tari Bali Sebuah Simbol Masyarakat Bali. Seni, 1(1), 9–21.

Berger, A. A. (2010). Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Bungin, B. (2015). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, Dan Ilmu Sosial Lainya-Edisi Kedua. Jakarta: Prenada Media Group.

Dibia, I. W. (2013). Puspasari Seni Tari Bali. Denpasar: UPT. ISI Denpasar.

Dibia, W. (1999). Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. (Taufik Ranhzen, Ed.) (Pertama). yogyakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Hawkins, A. M. (2003). Mencipta Lewat Tari. Terj. Y. Sumandiyo Hadi. Yogyakarta: Manthili.

Koentjaraningrat. (1995). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Kussudiardjo, B. (1981). Tentang Tari. Yogyakarta: C.V:Nur Cahaya.

Moleong, L. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Murdana, K. (1997). Konsep Dwi Tunggal Dalam Kreativitas Seni. Mudra Jurnal Seni Dan Budaya, 5(V), 116–124.

Piliang, Y. A. (2003). Hipersemiotika Tafsir Culture Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Rai, W. (2001). Gong Antropologi Pemikiran. Denpasar: Bali Mangsi.

Rianta, I. K. S. H. S. I. M. (2019). Estetika Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Seririt, Buleleng, Bali. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 34(3), 385–393. Retrieved from https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/678

Santosa, Hendra. Nina Herlina Lubis., Kunto Sofianto, R. M. (2017). Seni Pertunjukan Bali Pada Masa Dinasti Warmadewa. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 32(1), 81–91. Retrieved from http://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/84

Soedarsono. (1977). Tari-tarian Indonesia I. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Direktorat Jendral. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Suhardana, K. (2010). Moksa Brahman Atman Aikhyam. Surabaya: Paramita.

t.n. (2000). Gerak-gerak Tari Bali. Denpasar: Kantor Dokumentasi Budaya Bali.

Tanjung Mas, P. A. (2009). Memahami Konsep Siwa-Budha di Bali. Surabaya: Paramita.

Tim Redaksi. (2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Yudabakti, I. M. dan I. W. W. (2007). Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali. Surabaya: Paramita.

Published
2020-09-11
How to Cite
I Made, R., Santosa, H., & I Ketut, S. (2020). Konsep Catur Purusartha Dalam Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Buleleng, Bali. Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan, 6(1), 43-51. https://doi.org/10.31091/kalangwan.v6i1.815
Section
Articles