Filsafat Wayang Basis Patung Ikonik Pantai Pandawa, Kabupaten Badung

Main Article Content

I Kadek Widnyana

Abstract

Patung  Panca  Panca  Pandawa  sebagai  ikon adalah  penunjang  destinasi  pantai  Pandawa, Kabupaten Badung. Filsafat wayang tentang tokoh Pandawa yang dipahami sehagai tokoh satria yang selalu memancarkan sifat-sifat agung dan mulia. Sifat dharma, keadilan dan kejujuran serta ajaran ketuhanan sejati selalu melekat pada tokoh ini. Catur Purusa Artha menjadi tujuan utama, kemakmuran  rakyat dan melindungi  yang lemah  menjadi  harga mati bagi  tokoh  Pandawa.  Filosafi inilah  dijadikan  suri tauladan  hidup  masyarakat  Kutuh  untuk  selalu  berusaha  mendapatkan yang  terbaik  dengan  jalan Dharma.   Dipilihnya  tokoh Pandawa sebagai  ikon dikarenakan  tokoh dan isi lakon yang dipetik  dari mutiara epos  Mahabrata  memberikan  santapan  rohani  yang tidak  temilai  tingginya. Secara filosofi Tokoh ini dianggap merefleksikan kehidupan masyarakat Kutuh dan mewakili nilai kemanusiaan yang tidak ada taranya, yang selalu dijadikan obor dan suri teladan oleh masyarakat Kutuh. Oleh sebab itu, Pantai Pandawa dikelola dan ditetapkan sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional)

Article Details

How to Cite
Widnyana, I. K. (2016). Filsafat Wayang Basis Patung Ikonik Pantai Pandawa, Kabupaten Badung. Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan, 2(2). https://doi.org/10.31091/kalangwan.v2i2.128
Section
Articles

References

Arthanegara, I.G.B., dkk 1979/1980. Kehidupan Dalang Bali: dari Mihtologi sampai Riwayat Hidup Dalang Bali, Diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Pewayangan Bali.

Amir Hasim, 1997. Nilai-nilai Etis dalam Wayang; Pustak:a Sinar Harapan.

Bandem,I Made.l996. Evolusi Tari Bali; Kanisius

Bagus, I Gusti Ngurah. 2002. Menuju Terwujudnya Timu Pariwisata Di Indonesia. Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana.

_______________.1994 "Mengembangkan Lingkungan Sosial yang Mendukung Wayang", dalam Mudra, Jurnal Seni Budaya, No. 2, Th. II, Penerbit UPT. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.

Haryanto, S. Pratiwimba Adhiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1988.

_______________,Bayang-bayang Adhiluhung, Filsafat, Simbolis dan Mistik dalam Wayang, Penerbit Eftbar & Dahara Prize, Sernarang, 1992.

Hooykaas, C., Kama and Kala, Material for The Study Of Shadow Theatre In Bali, Amsterdam, North-Holland Publising Company, 1973.

Jelantik, A.A. Made. 2004. Estetika, Sebuah Pengantar. Bandung; Majalah Seui Petunjukan Indonesia.

Kawen, Wayan. 1974. Penjelasan Singkat Wayang Lemah, dalam Serba Neka Wayang Kulit Bali, diterbitkan oleh LISTIBIYA, Daerah Bali, Denpasar.

Lugraha, I Wayan. 2015. "Misteri Pantai Pandawa" Arti Foundation

Madra, I Ketut. 1982/1983. Wayang Parwa Bali oleh Proyek Penggalian I Pembinaan Seui Budaya Klasik I Tradisional dan Barn.

Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarwa Darsana Smgraha). Paramita Surabaya.

Mulyono, Sri. 1975. Wayang Asal-usul, Filsapat dan Masa depannya.Jakarta; CV Haji Masagung.

____________,1983. Simbulisme dan Mistikisme dalam Wayang.Jakarta; PT Gunung Agung

____________,1988. Wayang dan karakter manusia. Jakarta; CV Haji Masagung

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud Jakarta.

Putra, I Gusti Segatri dan I Gusti Ketut Mantara Putra.2001. Penangkal Ilmu Hitam (Ilmu Putih).CV Bali Media.

Rota, Ketut. 1977/1978. Pewayangan Bali. Proyek peningkatan I Pengembangan ASTI Denpasar.

Satibi Hidayat, Otib. 2007. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.