Ketanggep Sebuah Tradisi Pentas Gong Kebyar Dilombok

  • Ketut Supartha Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: ketanggep, tradisi pentas, gong kebyar

Abstract

Seni Gong Kebyar tidak hanya berkembang di Bali, melainkan sudah merambah kemanca negara dan disebagiam wilayah nusantara tak terkecuali Lombok. Bentuk pementasannya yang unik berbeda dengan Bali menjadi bahan kajian menarik diteliti. Adapun tujuan ingin memahami proses profanisasi Gong Kebyar di Lombok. Tuntutan jaman  mengharuskan strategi baru dalam berkesenian,khususnya bagi sekeha gong kebyar agar tetap exsis, menjadikan potensi Ketanggep sebagai sebuah peluang cukup menjanjikan dalam memperoleh penghasilan, walaupun terkadang mengabaikan tradisi ngayah atau konsep Yadnya yaitu korban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas tanpa pamrih berlandaskan nilai sastra agama Hindu, sekaligus menjadi latar belakang masalah dalam penelitian ini, beberapa masalah dapat dirumuskan:  1) Bagaimanakah proses Gong Kebyar dalam mengiringi Upacara agama Hindu di Lombok?.2) Mengapa pementasan menjadi komersial?. Adapun tujuan ingin memahami proses profanisasi Gong Kebyar di Lombok. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta menganalisis permasalahannya dengan menggunakan Teori Komodifikasi yaitu bermakna sebagai apapun yang diproduksi dan untuk diperjual belikan,tidak ada nilai guna murni yang dihasilkan, namun hanya nilai jual, diperjualbelikan bukan digunakan. Komodifikasi menggambarkan proses dimana sesuatu yang tidak memiliki nilai ekonomis diberi nilai dan karenanya bagaimana nilai pasar dapat menggantikan nilai - nilai sosial lainnya. Hasil dari penelitian ini bahwa tradisi ketanggep  merupakan salah satu  budaya sangat umum atau popular dikenal oleh masyarakat Lombok disebagian pementasan Gong Kebyar dengan sistem imbalan uang perhari mengiringi upacara adat keagamaan Hindu. 

References

Agung, A A Ketut.1991.Kupu-Kupu Kuning Yang Terbang Di Selat Lombok.Denpasar, Upada Sastra.

Bandem,I Made ,1986.Prakempa. Denpasar: Akademi Seni Tari.

______,_______2002.Kaja And Kelod. Jogyakarta : Institut Seni Indonesia.

Depdiknas ,2002. “ Kamus Besar Bahasa Indonesia “ Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Dibya, I Wayan. 2008. Seni kakebyaran, merupakan sebuah “bunga rampai”. Denpasar : I Institut Seni Indonesia Denpasar.

Donder,I Ketut, 2005. Esensi Bunyi Gamelan Dalam Prosesi Ritual Hindu. Paramita. Surabaya

Harnis, D David. 2005.”Defining Ethnicity,(Re) Construction Culture: Proses of Musical Adaptation and Innovation Among The Balinese Of Lombok” Journal of Musicological Research: Bowling Green State University (USA). 10-12.

Hartoko, Dick 2000. Manusia Dan Seni. Yogyakarta : Kanisius.

Rai S ,I Wayan.1998.Beberapa Catatan Tentang Seni Pertunjukkan Bali. Denpasar Pelawasari.

Sudirman, H Bahri, 2014. Studi Sejarah Dan Budaya Lombok, Jalan Tanaq Gadang,Gg Dara Merah,Desa Telaga Waru Lombok Timur, Pusat Studi Dan Kajian Budaya Prov. NTB ( PUSAKANDA ) .

Sukayasa, I wayan.2007.Teori Rasa Ekspresi dan Memahami Taksu Metodenya. Denpasar : Widia Dharma Bekerjasama Dengan Program Magister Ilmu Agama Dan Kebudayaan UNHI Denpasar.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto. 2005.Teori-teori Kebudayaan “ Yoyakarta: Kanisius.

Suyadnya, Wayan. 2006. Tradisi Bali Lombok: Sebuah Catatan Budaya. Surabaya: Penerbit Paramitas.

Tim Penyusun Kamus Sasak, 2015, “ Kamus Sasak Indonesiaa “ Kantor Bahasa Propinsi NTB, Jalan Dokter Sujono Sekarbela, Mataram

Yudabakti,& Watra.2007.Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali. Surabaya: Paramita

Triguna, I.B. Yudha. 2003.Estetika Hindu Dan Pembangunan Bali. Denpasar : Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar Bekerjasama Dengan Widya Dharma Denpasar.

Yudartha, I Gede 2013.”Reproduksi Seni Kakebyaran di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat”. Denpasar: Disertasi S3 Program Doktor Kajin Budaya Universitas Udayana Bali.
Published
2020-09-10
How to Cite
Supartha, K. (2020). Ketanggep Sebuah Tradisi Pentas Gong Kebyar Dilombok. Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan, 6(1), 26-31. Retrieved from https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1116
Section
Articles