Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna

  • Komang Sudirga Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Hendra Santosa Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Dyah Kustiyanti Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: Arjunawiwaha, Karawitan, bentuk, fungsi, makna

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian dari “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi dan Makna”. Karena penelitian pada tahun pertama ini menyangkut pada 22 Naskah dan sangat sulit untuk ditemukan naskah-naskahnya, maka dalam penulisan artikel ini hanya akan menampilkan jejak-jejak karawitan yang tersurat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha saja, sehingga bahasan artikel ini lebih fokus dan dapat dikembangkan menjadi bahasan untuk tulisan yang lain dengan mengambil bahasan pada karya kesusastraan lainnya. Dengan demikian diharapkan pembahasan bentuk, fungsi, dan makna istilah karawitan pada tahun 1028 -1035 di Jawa Timur penguraiannya dapat lebih jelas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini, pada tahap heuristik ditemukan dua buah Kekawin Arjuna Wiwaha yaitu koleksi Perpustakaan Nasional dan Koleksi Gedong Kertya. Kritik dilakukan secara internal melalui penerjemahan, yang dilanjutkan dengan interpretasi terhadap terjemahan dari dua naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, dan terakhir adalah historiografi yaitu penulisan mengenai jejak karawitan dalam kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, fungsi dan makna. Perubahan bentuk atau perwujudan dan juga penyebutan nama dari instrumen karawitan yang tersurat dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada yang berubah dan ada pula yang tetap, seperti Mredangga yang sekarang dikenal dengan Istilah bedug. Perubahan nama juga terjadi dari berebet menjadi Cengceng. Hal ini bisa saja dikarenakan penyebutan nama instrumen didasarkan pada bunyi yang dihasilkannya seperti bedug karena bunyinya dug dug dug, dan cengceng karena karena ketika dibunyikan, bunyinya ceng ceng ceng. Ada istilah karawitan yang saat ini tidak ditemukan di belahan Nusantara seperti kata wina sejenis kecapi dan rawanahasta sejenis rebab. Wina kalau memang sejenis kecapi kemungkinan bentuknya lain dengan kecapi mungkin saja berkembang di belahan nusantara yang lain karena kecapi hanya berkembang di Sunda. Sama halnya dengan Rawanahasta yang diartikan sejenis rebab maka instrumen ini berkembang di belahan nusantara yang lain.This writing is a part of research entitled “Tracing Karawitan in Old Java Script: The Study of Form, Function and Meaning”. The first year research is that of 22 scripts and they are very difficult to find, hence in the writing of this article will merely put forward the traces of karawitan written in Kakawin Arjuna Wiwaha. Therefore, the discussion of this article is more focus and can be developed as a reference to another writing about different literature. Thereby, it hopes that the commentary about form, function and meaning of the term karawitan in 1028 -1035 in East Java can be clearer.This research uses historical method that is through heuristic, criticism, interpretation and historiography. Specifically for this article, in the stage of heuristic it was found two Kekawin Arjuna Wiwaha that are collection of National Library and Gedong Kertya. Criticism was done internally through translation then interpreting the translation of two Kekawin Arujna Wiwaha scripts. Finally, the historiography is writing about karawitan trace in kakawin Arjuna Wiwaha: Study about Form, Function and Meaning. Changes of form or materialization and mentioning the name of karawitan instrument written in kakawin Arjuna Wiwaha are present, but there is also the unchanged ones, such as Mredangga nowadays known as bedug. The changes of name also occur from berebet to cengceng. This can be happened because mentioning the instrument name is usually based on the sound produced such as bedug which sounds dug dug dug and cengceng produces the sounds ceng ceng ceng. There is karawitan term that can’t be found in Indonesian archipelago nowadays such as wina, a sort of kecapi, and rawanahasta, a sort of rebab. If Wina was a sort of kecapi, the form was probably different with kecapi. It was probably developing in another part of Indonesian archipelago because kecapi was only developing in Sunda. The same as Rawanahasta which is interpreted as a sort of rebab, therefore this instrument was developing in another part of Indonesian archipelago.

References

Achdiati, et al. 1988. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Bali Kuno, Seri Penerbitan. Jakarta: PT Gita Karya.

Aryasa, I Wayan., BA. 19761977. Perkembangan Seni Karawitan Di Bali. Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali.

_______________., et.al. Pengetahuan Karawitan Bali 1984-85. Denpasar: Proyek Pengembangan Kesenian Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

_______________. 1983. Pengetahuan Karawitan Bali. Jakarta: Deartemen pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah, Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan.

Astita, I Nyoman. 2012. Transformasi Epos Ramayana ke Dalam Sendratari Ramayana Bali, Disertasi Program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Bandem, I Made., I Gusti Bagus Arthanegara, Ketut Rota, Ketut Rindi, Nyoman Rembang, I Gusti putu Geria., 1975. Panitithalaning Pegambuhan. Denpasar: Proyek Pencetakan Penerbitan Naskah-naskah Seni dan Budaya dan Pembelian Benda-benda Seni Budaya.

_______________. 2009. Wimba Tembang Macapat Bali. BP STIKOM Bali.

_______________ 2013. Gamelan Bali di Atas panggung Sejarah, Denpasar: Badan Penerbit STIKOM Bali.

Fulbrook, Mary., 2002. Historical Theory. London and New York: Routledge Taylor and Francis Group.

Fernandus, Pieter Eduard Johannes. 2004. Alat Musik Jawa Kuno. Yogyakarta: Yayasan Mahardhika.

Fitria, Putri. 2014. Kamus Sejarah dan Budaya Indonesia. Cetakan pertama. Bandung: penerbit Nuansa Cendikia.

Garaghan, S.J. Gilbert. 1957. A Guide to Historical Method, edited by Jean Delanglez, New York: Fordhan University Press, East Fordham Road, Fourth Printing.

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah (Pengantar Metode Sejarah), Terjemahan. Nugroho Notosusanto, Jakarta: Universitas Indonesia.

Hadiwidjana R.D.S, Ki. 1952. Sarwasastra, Kitab Pelajaran dan Latihan Bahasa Djawa Kuna, jilid II, Jogja, U.P. Indonesia NV.

Hooykaas, C. 1958. The old Javanese Ramayana: an introduction to some of its problems. Bandung : Masa Baru.

Juynboll, H.H. tanpa tahun. De verhouding van het udjavaansche udyogaparwa tot zijn sanskrt-origineel. S.l. : s.n.

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, Suatu Alternatif. Jakarta: PT Gramedia.

________________. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kunts, Jaap. 1968. Hindu Javanese Musical Instruments. The Hague: Martinus Nijhoff.

________________ 1973. Music in Java, Its History, Its Theory, and Its Technique, Third Englard edition, volume I. The Hague: Martinus Nijhoff.

McPhee, Colin. 1966. Music in Bali: A Study in form and Instrumental Organization in Balinese Orchestral Music. New Haven and London: Yale University Press.

Medera, I Nengah., Ida Bagus Udara Naryana, I Nyoman Sukartha, dan Komang Paramartha. 1986. Terjemahan dan Kajian Nilai Astadasaparwa. Denpasar: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Bali, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Palgunadi, Bram. 2002. Serat Kandha Karawitan Jawi: Mengenal Seni Karawitan Jawa. Bandung: Penerbit ITB.

Poerbatjaraka, Prof. Dr. R.M. Ng. 2010. Ramayana Djawa-Kuna, Teks dan Terjemahannya Sarga I – XII. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

______________. 2010. Ramayana Djawa-Kuna, Teks dan Terjemahannya Sarga XIII – XXVI. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Poesponugroho, Marwati Djoened, dan Noegroho Notosoesanto. 2008, Sejarah Nasional Indonesia II, Zaman Kuno. Jakarta: Balai Putaka.

Prajapangrawit, R. Ng. 1990. Serat Sujarah Utawi Riwayating Gamelan Wedhapradangga (Serat Saking Gotek). Surakarta: kerja sama STSI Surakarta dengan The Ford Foundation.

Robson, SO, 1971. Wangbang Wedeya: A Javanese Romance. The Hauge: Martinus Nijhoff.

Sachs, Curt. 1940. The History of Musical Instruments. New York: W.W. Norton & Company Inc. Publisher.

Santosa, Hendra. 2002. “Gamelan Gong Beri di Renon: Sebuah Kajian Historis dan Musikologis, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Gadjahmada Yogyakarta.

Santoso, Soewito. 1985. Kresnayana. Diterbitkan atas kerjasama dengan PT. Taman Wisama Candi Borobudur, Prambanan. Surabaya : Citra Jaya Murti.

Sedyawati, Edi., I Kuntara Wiryamartana, Sapardi Djoko Damono, Sri Sukesi Adiwimarta. 2001. ed. Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Jakarta: Pusat Bahasa, Balai Pustaka.

Suastika, I Made. 1996., Pemahaman Budaya di Tengah Perubahan, Sebuah Cenderamata untuk Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, 1996. Denpasar: Program S2 dan S3 Kajian Budaya Universitas Udayana

Soetrisno, R. 1976. “Sejarah Karawitan” Surakarta: Akademi Seni Karawitan (ASKI) Indonesia.

Warna, I Wayan. 1990. Kakawin Bharatayudha. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

________________. Kamus Bahasa Bali Indonesia, Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1998.

Wirasutisna, Hasan. 1980. Kidung Sunda I-II. Jakarta: Depdikbud Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah 135.

Wirjosuparto, R.M. Sutjipto. 1958. Candakaranika Adiparwa : Kamus Bahasa Kawi Indonesia. Jakarta : Indira, 1958.

________________. 1968. Kakawin Bharata-Yudha, Djakarta: Penerbit Bhratara.

Wiryamartana, i. Kuntara. 1990. Arjunawiwaha, Transformasi Teks Jawa Kuna Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Wulff, K. 1917. Den oldjavanske Wirataparwa : og dens sanskrit-original. Bidrag til Mahabharata-forskningen. Kobenhavn : Emil Wiene's Boghande

Zoetmulder, P.J., 1906. Udyogaparwa: teks Jawa Kuna. Diterbitkan atas kerjasama dengan Perwakilan KITLV di Indonesia. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.

________________. 1985. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno, Selayang Pandang. Terjemahan Dick Hartoko, cetakan kedua. Bandung: Djambatan.

Published
2015-11-13
How to Cite
Sudirga, K., Santosa, H., & Kustiyanti, D. (2015). Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna. Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Institut Seni Indonesia Denpasar, 3. Retrieved from https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/segarawidya/article/view/218
Section
Articles