Revitalisasi Tari Janger Lansia Di Kelurahan Tonja Denpasar

  • Ni Made Ruastiti Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • I Wayan Suharta Program Studi Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Ni Nyoman Manik Suryani Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: Revitasisasi Tari Janger Lansia, Masyarakat Lansia di Kelurahan Tonja, Denpasar

Abstract

Tari Janger Lansia merupakan sebuah kesenian yang dirancang khusus untuk para lansia. Hal itu dapat diamati dari koreografi, tata rias busana, dan tempo iringan musik tarinya. Tari Janger Lansia penting untuk direvitalisasi mengingat selama ini tari tersebut telah terpinggirkan dan tidak berkelanjutan lagi. Tujuan riset ini dilakukan untuk merevitalisasi model Tari Janger Lansia di Kelurahan Tonja dalam rangka membangkitkan kembali semangat para lansia itu berkesenian. Riset implementatif ini dilakukan di Kelurahan Tonja dengan mempertimbangkan tingkat populasi dan potensi berkesenian para lansia di daerah tersebut memadai. Untuk itu, riset yang dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya implementatif partisipatoris ini menjadikan para lansia tersebut sebagai informan, yang memberi informasi tentang berbagai permasalahan terkait dengan ketidaksesuaian model tari itu bagi kondisi fisik mereka, sementara para seniman yang turut dalam kegiatan revitalisasi tersebut dijadikan informan kunci untuk mengungkap, sekaligus memberikan saran yang bermanfaat. Dengan demikian Tari Janger Lansia yang sebelumnya terpinggirkan itu akan dapat bangkit dan hidup bergairah kembali.Tari Janger Lansia, the Janger dance which is performed by the elders is particularly designed for the elders. That can be observed from its choreography, clothing, cosmetics, and the music which accompanies it. It is important to revitalize it as it has been marginalized and discontinued. This present study is intended to revitalize the model Tari Janger Lansia as an attempt to make the elders motivated again to get involved in arts. The study was conducted at Tonja Subdistrict for the reason that the number of the elders and the potential they have to get involved in arts are adequate. The qualitative method, especially the participatory implementative one, was used, meaning that the elders were used as the informants who could give information on the matters pertaining to the model which is physically impracticable to them. The informants involved in the revitalization were used as the key ones who revealed what the model was like and gave useful suggestions. The Tari Janger Lansia, which had been marginalized, would be resurrected and revitalized again.

References

Darmojo, B. 2004. “Tua Tidak Harus Renta”. www. Suara Merdeka.com /harian/ 04.06/15 ked 07.htm.

Hardywinoto dan Setiabudhi. 1999. Panduan Gerontologi-Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Published
2015-10-17
How to Cite
Ruastiti, N. M., Suharta, I. W., & Suryani, N. N. M. (2015). Revitalisasi Tari Janger Lansia Di Kelurahan Tonja Denpasar. Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Institut Seni Indonesia Denpasar, 3. Retrieved from https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/segarawidya/article/view/173
Section
Articles