Mudra Jurnal Seni Budaya https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra <p><strong>P-ISSN</strong> : <a title="Print ISSN" href="http://u.lipi.go.id/1180432351" target="_blank" rel="noopener">0854-3461<br></a><strong>E-ISSN</strong> :&nbsp;<a title="Online ISSN" href="http://u.lipi.go.id/1460014369" target="_blank" rel="noopener">2541-0407<br></a><a title="Certificate" href="https://drive.google.com/file/d/1lbmfEOXPIiDONUCVZUJjzQIK_tVyDEuj/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener"><strong>Certificate of Accreditation<br></strong></a>Mudra Jurnal Seni Budaya welcomes article submissions and does not charge a publication fee</p> <p><strong>Mudra Jurnal Seni Budaya&nbsp;</strong>encompasses various concept, ideas, phenomena and analyses related to the topics of arts. Mudra Jurnal Seni Budaya is intended to spread information on arts and culture; therefore, we may obtain and acquire manythings related to arts and their problems from it.</p> <p>It is accredited applicable from 9 July 2018 based on the Ministry of Research Technology and Higher Education of The Republic of Indonesia No. 21/E/KPT/2018, dated 9 July 2018</p> en-US <ul> <li class="show">Copyright on any open access article in a journal published by Mudra Jurnal Seni Budaya&nbsp;is retained by the author(s).</li> <li class="show"> <p>Authors grant Mudra Jurnal Seni Budaya&nbsp;a license&nbsp;to publish the article and identify itself as the original publisher.</p> </li> <li class="show"> <p>Authors also grant any third party the right to use the article freely as long as its integrity is maintained and its original authors, citation details and publisher are identified.</p> </li> <li class="show"> <p>The&nbsp;<a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" target="_blank" rel="noopener">Creative Commons Attribution License 4.0</a>&nbsp;formalizes these and other terms and conditions of publishing articles.</p> </li> </ul> desiindianasari@yahoo.com (Ni Luh Desi In Diana Sari) penerbitan@isi-dps.ac.id (Agus Eka Aprianta) Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Resepsi Masyarakat Yogyakarta Terhadap Drama Radio “Parahara Tegalreja” https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/629 <p class="p1">Penelitian terhadap resepsi audiens terhadap drama radio “Parahara Tegalreja” ini bertujuan untuk mengetahui resepsi atau tanggapan audien masyarakat Yogyakarta. Dari resepsi itu akan dapat diketahui apakah responden menganggap “Parahara Tegalreja” sebagai karya yang (1) sangat buruk, (2) buruk, (3) cukup, (4) baik, (5) sangat baik. Makna drama radio ini ditentukan oleh dominasi penilaian mereka pada lima aspek tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitaf. Teori yang dipergunakan mendekati objek penelitian adalah teori resepsi teater. Teori resepsi merupakan teori yang mengkaji penerimaan audiens tentang apresiasinya terhadap karya seni. Teori resepsi berbicara<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>mengenai bagaimana orang-orang selain pengarang atau pencipta menyumbang makna sebuah karya seni. Hasil penelitian<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>ini menunjukkan bahwa dari 151 orang responden, maka 50% lebih diantaranya menganggap drama radio “Prahara Tegalreja” menunnjukk<span class="s1">a</span>n ku<span class="s1">a</span><span class="s2">l</span>i<span class="s2">t</span><span class="s1">a</span>s yang<span class="s2"> b</span><span class="s1">a</span>ik. Sekitar 40% responden menilai<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>“Prahara Tegalreja” baik. Responden yang menilai drama ini buruk dan sangat buruk kurang 5%. Dapat disimpulkan <span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>bahwa<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>prosentase jumlah responden yang meresepsi drama radio ini sebagai karya yang berkualitas berjumlah 50%+40%: 90%. Artinya sebagian besar responden merespon atau menerima dengan baik drama radio tersebut. Dengan demikian drama ini baik untuk dinikmati masyarakat.</p> <p class="p1">&nbsp;</p> Nur Sahid, M Dwi Marianto, Purwanto - ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/629 Tue, 12 Feb 2019 00:00:00 +0000 Nilai-Nilai Budaya Dalam Tam Tam https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/630 <p class="p1"><em>Tam Tam </em>merupakan karya sastra Bali tradisional berbentuk<em> geguritan. Geguritan</em> memiliki sistem konvensi yang khas, yakni menggunakan <em>pupuh. </em>Setiap<em> pupuh </em>memiliki fungsi, dani <em>padalingsa.</em> Dalam tulisan ini, <em>Geguritan Tam Tam</em> dijadikan objek penelitian. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai nilai-nilai budaya dalam <em>Tam Tam.</em> Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sekaligus penelitian sastra yang dilaksanakan di perpustakaan. Data diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi dengan teknik catat. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode hermeneutika. Hasil penelitiannya, ditemukan banyak sekali nilai budaya yang termuat dalam <em>Tam Tam</em> dan implisit di dalamnya tentang hukum <em>karma phala</em>.<span class="Apple-converted-space">&nbsp; &nbsp;</span></p> Ni Nyoman Karmini ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/630 Tue, 12 Feb 2019 00:52:57 +0000 Prasi : Karya Kreatif Estetik Unggulan Bali (Sebuah Studi Teo-Antropologi) https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/631 <p class="p1">Kebertahanan dan pertumbuhan serta perkembangan seni di Bali secara tidak langsung disebabkan oleh kuatnya sistem keagamaan Hindu yang dianut oleh orang Bali. Keterkaitan seni dan agama tersebut adalah saling mengisi dan saling menguatkan, sehingga kesenian di Bali digolongkan menjadi menjadi seni wali, bebali, dan Balih-balihan. Berdasarkan klasifikasi tersebut, tentu memiliki ragam yang bervariasi pada masing-masing kelompok tersebut. Salah satu ragam seni lukis yang luput dari pengamatan selama ini adalah seni lukis prasi, yaitu seni lukis di atas daun rontal yang digurat dengan pisau khusus (pangrupak) dan dengan bahan dari lontar yang sudah diproses sesuai tradisi pembuatan lontar, serta sebagai tintanya adalah daging buah kemiri (tingkih=bahasa Bali) yang dibakar sampai menjadi arang (adeng=bhs Bali). Tema-tema yang diangkat adalah dari dua epos besar susastra Hindu, yaitu Mahabharata dan Ramayana dengan berbagai variannya. Sebagai hasil analisis menujukkan bahwa karya lukis<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Prasi yang belum lazim dalam jagat seni lukis umumnya, membuat nilai artistik dari prasi ini sangat luar biasa. Media yang digunakan untuk melukis ukuranya sangat kecil dan harus digurat terlebih dahulu. Nilai-nilai itu di samping sebagai nilai material yang dapat dilihat dengan kasat mata (indrawi), juga nilai-nilai yang terkait dengan kosmologis Hindu (baca:teo-estetik), dan nilai-nilai antropologis tentang kepercayaan pada kehidupan magis dalam kebudayaan manusia Bali. Banyak hal yang dapat disimak dari seni lukis prasi ini sebagai sebuah ekspresi berkesenian orang Bali dan penghayatan pada kekuatan ilahi atau pengejewantahan nilai-nilai ajaran agama Hindu untuk dapat disampaikan sebagai sarana komukikasi kepada seluruh pencinta seni prasi. Oleh karena sang perupa harus memahami betul tentang teknologi tulis-menulis dalam lontar dan mendalami hakikat susastra yang dilukis itu sendiri, dengan kata lain memindahkan wacana sastra dalam guratan lukis prasi.</p> I Nengah Duija ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/631 Tue, 12 Feb 2019 00:00:00 +0000 Ogoh-Ogoh Dan Implementasinya Pada Kreativitas Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/632 <p class="p1">Penelitian ini bertujuan mendeskripsiskan Estetika eksperimental Ogoh-ogoh dan mendeskripsikan hasil implementasi Ogoh-ogoh pada kreativitas berkarya seni rupa tiga dimensi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif penelitian mendeskripsikan penciptaan Ogoh-ogoh pada rangkaian hari raya Nyepi tahun 2018 di Pura Jagatnatha, Sorowajan, Banguntapan, Bantul, DIY. Implementasu teknik penciptaan di laksanakan pada pembelajaran seni rupa tiga dimensi di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta, Terban, Gondokusuman. Data di kumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan: (1) Ide penciptaan Ogoh-ogoh di mulai dari studi pustaka tentang Upacara Hari Raya. Penciptaan meliputi tahapan<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>membuat rancangan sketsa Ogoh-ogoh, membuat kerangka dengan menggunakan bahan dari besi atau<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>kayu yang berfungsi sebagai penyangga Ogoh-ogoh kemudian membentuk rangka dasar dengan menggunakan styrofoam atau bambu, melapisi rangka body menggunakan kertas agar body Ogoh-ogoh mudah untuk diwarna menggunakan cat. dengan bentuk mata melotot, gigi tajam, badan besar yang merupakan tanda keberadaan sifat-sifat jahat dalam diri manusia. (2) Tema konsep dan teknik<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Penciptaan<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Ogoh-ogoh di implementasikan<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>pada pembelajaran seni rupa tiga dimensi di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta. Peserta didik menciptakan bentuk patung dengan teknik butsir dengan media tanah liat.</p> Made Aditya Abhi Ganika, I Wayan Suardana ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/632 Tue, 12 Feb 2019 00:00:00 +0000 Kajian Historis Tentang Gamelan Ketug Bumi https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/525 <p class="p1">Gamelan Ketug Bumi merupakan gamelan baru yang lahir pada tahun 2015 atas prakarsa I Gede Arya Sugiartha yang telah berkembang sedemikian rupa. Sebagai gamelan baru, tentulah belum banyak orang yang menuliskannya dalam berbagai kajian baik seni, musikologi, maupun kajian lainnya. Oleh karenanya penulis mencoba untuk menulisnya dalam sebuah kajian historis. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menegaskan bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi pada saat sekarang adalah sebuah rangkaian dari peristiwa-peristiwa masa lampau, seperti halnya gamelan Ketug Bumi yang dapat diurut pekembangan dan perubahannya dari peristiwa masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu berupa heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik dilakukan terhadap dokumen masa kini berupa Surat Keputusan Staf Produksi Pawai Ketug Bumi tahun 2015, kemudian dari dokumen masa lampau berupa kakawin dan babad. Instrumen utama yang dipergunakan dalam gamelan Ketug Bumi yaitu tambur (mredangga), dipergunakan sebagai unsur utama dalam penelusuran kesejarahan gamelan Ketug Bumi. Penjelasan mengenai mredangga sebagian telah penulis terangkan dalam artikel yang berjudul “Mrӗdangga: Sebuah Penelusuran Awal Tentang Gamelan Perang di Bali” pada jurnal Kalangwan. Kata tambur sendiri penulis temukan dalam naskah kesusastraan Bali yang berjenis parikan, tetapi banyak ditemukan pada naskah yang berbentuk babad dari luar Bali.</p> Hendra Santosa ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/525 Tue, 12 Feb 2019 01:00:10 +0000 Industrialisasi Seni Kriya Di Desa Mas, Gianyar https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/634 <p class="p1">Seni kriya merupakan salah satu seni kerajinan. Desa Mas di Kabupaten Gianyar Bali penduduknya memiliki nilai seni yang tinggi untuk berkreasi dalam seni kriya sehingga produk-produknya diminati oleh wisatawan. Artikel ini bertujuan mencermati perkembangan seni kriya di Desa Mas yang sebelumnya dikerjakan dengan tangan (<em>handmade</em>) namun sekarang pengerjaannya dilakukan dengan bantuan mesin karena permintaan yang terus meningkat dan bisa dikatakan bahwa seni kriya sudah diproduksi secara massal sehingga sudah terjadi industrialisasi terhadap seni kriya;<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>mendeskripsikan industrialisasi yang terjadi pada seni kriya serta mencermati gagasan-gagasan baru terkait dengan pemertahanan identitas kebudayaan Bali melalui produk seni kriya yang mengalami proses industrialisasi dan memiliki daya saing tinggi di pasar pariwisata.<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang mencakup teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam serta analisis data secara deskriptif, holistik, dan interpretatif. Hasil yang diperoleh adalah pemahaman mendalam tentang seni kriya yang mengalami dinamika dari aslinya sebagai akibat dari industrialisasi di tengah perkembangan pariwisata yang semakin pesat.</p> Ni Wayan Sukarini, Ni Luh Sutjiati Beratha, I Made Rajeg ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/634 Tue, 12 Feb 2019 00:00:00 +0000 Makna Budi Pekerti Melalui Cerita Punakawan: Analisis Visual Dalam Seni Kreativitas Komik Kontemporer https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/564 <p class="p1">Cerita Punakawan dalam karya komikus Tatang S. pernah sangat populer di tahun 80-an hingga 90-an. Cerita Punakawan yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong ini juga pernah diangkat dalam program Ria Jenaka di TVRI pada era yang sama. Ada banyak makna tentang perilaku masyarakat yang disampaikan dalam cerita Punakawan tersebut, di antaranya makna budi pekerti. Budi pekerti merupakan sikap dan perilaku masyarakat yang diperlukan dalam interaksi sosial. Penyampaian pesan tentang budi pekerti melalui komik menjadi hal menarik untuk dianalisis karena penciptaan komik di era teknologi informasi saat ini tidak lagi baku pada bentuk-bentuk komik yang konvensional. Studi ini mencoba memvisualisasikan bagaimana memaknai budi pekerti dalam seni kreativitas komik kontemporer. Secara kualitatif, pembahasan dalam studi ini menggunakan prinsip-prinsip estetika dengan pendekatan pra-ikonografis, ikonografis, dan ikonologis. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penyampaian pesan sosial budaya melalui seni kreativitas komik.</p> Ndaru Ranuhandoko, Santi Sidhartani ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/564 Tue, 12 Feb 2019 03:15:13 +0000 Karakteristik Gamelan Selonding Bebandem Dan Selonding Tenganan “Studi Komparasi Intramusikal” https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/637 <p class="p1">Dewasa ini Selonding yang notabena merupakan gamelan yang masuk dalam klasifikasi gamelan golongan tua mulai menunjukkan geliat re-eksistensi. Gamelan yang tergolong kuna ini menjadi alternatif baru dalam khasanah ruang ekspresi seni karawitan Bali. Keberadaan gamelan ini banyak ditemukan di desa-desa kuna daerah Bali bagian timur (daerah Karangasem dan sekitarnya). Penelitian ini bertujuan untuk membedah karakteristik dari gamelan Selonding Bebandem dan Tenganan sebagai sebuah studi komparasi intramusikal guna memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai karakteristik dan perbedaan dari kedua jenis Selonding tersebut, mengingat re-eksistensi dari gamelan ini belum disertai dengan informasi yang memadai terkait <em>style</em> yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan intramusikal. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa karakteristik yang melekat pada gamelan ini terletak pada bahan dan musikalnya. Secara organologi, bilah gamelan Selonding terbuat dari besi dan <em>pelawah</em> terbuat dari kayu. Secara akustik, resonansi Selonding mengunakan sistem <em>gibung</em> yaitu dua bilah nada dalam satu ruang resonan. Setiap gamelan selonding yang ada di desa-desa kuna memiliki ciri khas tersendiri seperti halnya Selonding Bebandem dan Selonding Tenganan. Perbedaan dari kedua jenis Selonding tersebut secara intramusikal terletak pada instrumentasi, susunan nada, teknik permainan, dan repertoar. Selonding Bebandem memiliki ciri khas teknik permainan <em>Lelungidan, Nyogcag, Ngundir </em>dan<em> Ngubit</em>. Sedangkan Selonding Tenganan memiliki ciri khas teknik permainan yaitu <em>gegebug Ngerejeg, Sekati, Nerompong</em> dan <em>Rereongan</em>.</p> I Wayan Pande Widiana ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/637 Tue, 12 Feb 2019 00:00:00 +0000 Nilai Pendidikan Karakter Pada Film Sang Kiai https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/639 <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pendidikan karakter dalam film Sang Kiai sebagai pembangunan karakter untuk media pembelajaran yang relevan. Sumber data diperoleh dengan mengamati cerita dari film Sang Kiai secara langsung. Teknik untuk mengumpulkan data menggunakan ulasan dokumen atau mendengarkan dan mempelajari literatur. Analisis data menggunakan teori sinematografi dengan mengamati adegan dan dialog dalam film Kiai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada nilai-nilai pendidikan karakter yang disampaikan melalui adegan dalam film. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam film Sang Kiai dapat dipahami dari dialog dan adegan yang dimainkan oleh para pemain. Film Sang Kiai berisi 8 nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam film ini termasuk agama, disiplin, kerja keras, demokratis, rasa ingin tahu, semangat nasional, penghargaan terhadap prestasi, persahabatan / komunikatif yang tercermin dalam setiap adegan dalam film “The Kiai”. Film Kiai berisi nilai-nilai pendidikan karakter yang relevan sebagai pembangunan karakter. Film ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang bertujuan pembentukan karakter.</p> Wegig Widiyatmika, Edy Tri Sulistyo, Sugeng Nugroho ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/639 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya Dan Agama Di Bali https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/640 <p>Wayang sebagai seni pertunjukan merupakan media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek agama dan budaya sudah dikenal sejak jaman pra Hindu. Ritual bayang-bayang dalam kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan praktek budaya dan agama untuk memuja roh nenek moyang. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pertunjukan wayang sebagai media komunikasi simbolik dalam praktek budaya dan agama di Bali. Permasalahan yang diangkat melalui penulisan ini adalah ingin menginvestigasi apakah pertunjukan wayang dalam praktik budaya dan agama di Bali, dipahami dan dihadirkan sebagai ujud pemujaan pada kekuatan gaib sebagai perkembangan dari tradisi pra Hindu. Metode yang digunakan untuk mengkaji masalah di atas adalah metode penelitian kualitatif dengan teori interaksi simbolik dan komunikasi. Penulisan ini ingin menunjukan bahwa wayang sebagai media komunikasi simbolik perilaku manusia dalam praktek budaya dan agama di Bali telah dilakukan sejak jaman pra Hindu dan masih dipertahankan oleh orang Bali sampai sekarang. Kekuatan gaib yang dapat mengganggu manusia masih dipercaya oleh masyarakat Bali, terutama pada anak yang lahir pada tumpek wayang, sehingga perlu diruwat (dibersihkan) gangguan itu dengan wayang sapuh leger.</p> I Gusti Ngurah Seramasara ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/640 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Kesenian Ronggeng Pasaman Dalam Perspektif Kreativitas Apropriasi Musikal https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/642 <p class="p1">Tumbuh dan berkembangnya kesenian <em>Ronggeng Pasaman </em>tidak luput dari dampak interaksi secara multikultur antara musik Barat (Portugis dan Belanda) dan musik Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Mandailling dan Jawa imigran). Hal ini terkait dengan isu identitas, migrasi (diaspora), dan bentuk apropriasi musikal. Fenomena yang muncul diisukan bahwa, kesenian <em>Ronggeng </em>yang berkembang dalam budaya masyarakat Pasaman saat ini, mereka yakin bahwa kesenian tersebut adalah didatangkan dari Jawa imigran. Namun secara musikal dijumpai bahwa, bentuk seni pertunjukan kesenian <em>ronngeng pasaman </em>yang berkembang, sangat jauh berbeda dengan bentuk seni pertunjukan <em>Ronggeng </em>yang berkembang di daerah Jawa. Ditinjau dari ciri-khasnya kesenian <em>ronggeng </em>teramati bahwa, bentuk seni pertunjukannya banyak kemiripannya dengan aspek musikal yang terkandung diluar ranah budaya masyarakat Pasaman seperti, dijumpai dalam pemakaian alat musik, sistem nada dan penggunaan teknik dalam permainan alat musik tradisi masyarakat Pesisir Sumatera Barat yang disebut <em>garitiak </em>dan <em>gayo </em>atau ornamentasi yang terkandung dalam kesenian <em>rabab pasisie </em> dan musik <em>gamat. </em>Adapun metode penelitian yang digunakan adalah dibawah payung disiplin musikologi dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan interpretatif yang terdiri dari dua aspek (tekstual dan kontekstual). Hasil akhir dari penelitian ini ditemukan bahwa,<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>tumbuh dan berkembangnya tradisi kesenian <em>Ronggeng Pasaman</em> disamping menggunakan alat musik biola Eropa (Barat) juga dapat dikatakan sebagai salah satu hasil produk budaya apropriasi musikal antara Barat (Portugis dan Belanda) dan Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>Mandailling dan Jawa imigran).</p> Martarosa -, Imal Yakin, Kurniawan Fernando ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/642 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Produksi Kerajinan Sarana Upacara Dan Gaya Hidup Religius Masyarakat Gianyar https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/644 <p class="p1">Masyarakat Bali adalah masyarakat religius, tiada hari tanpa aktivitas keagamaan. Di bawah kungkungan globalisasi dengan kebebasan yang sangat terbuka tidak bisa menggoyahkan sikap religius masyarakat, bahkan justru menjadi semakin melekat kuat di hati masyarakat. Kuatnya nilai-nilai religius<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>dengan beranekaragam kegiatan adat dan agama menyebabkan<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>rasa ritual menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Gianyar dengan segala aktivitasnya. Untuk mendukung aktivitas tersebut, tentunya membutuhkan berbagai bentuk dan jenis produk sarana upacara dengan segala fungsinya. Meningkatnya kebutuhan akan sarana upacara untuk mendukung ritual menggugah para perajin mengembangkan kreativitas menciptakan karya baru yang lebih<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>artistik dan menarik. Produksi seni kerajinan sarana upacara akhirnya mengalami dinamika yang cukup pesat dengan menawarkan model dan fungsi yang bervariatif. Tujuan penulisan ini untuk mendalami dinamika produksi seni kerajinan sarana upacara dalam mendukung gaya hidup religius masyarakat Gianyar. Mengacu pada metode penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif analitik melalui pendekatan perubahan sosial. dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa orientasi kehidupan religius masyarakat masih sangat kental yang terimplementasi pada meningkatnya aktivitas upacara adat dan agama. Ritual menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat untuk menunjukan jati diri dan kedudukan sosial yang lebih tinggi, didukung dengan penggunaan sarana upacara yang mewah dan elegan. Selain untuk mempersembahkan yang terbaik dan terindah pada Yang Maha Kuasa, sarana upacara menjadi standar kehidupan sosial masyarakat sebagai seorang yang berbudaya dan beriman. Hal ini berdampak pada dinamika produksi kerajinan sarana upacara semakin meningkat dan dapat menambah ekonomi perajin. Tulisan ini dapat dijadikan sumber referensi berkaitan dengan dinamika produksi seni kerajinan sarana upacara dengan keanekaragaman bentuk dan fungsinya.</p> Ni Kadek Karuni, I Wayan Suardana, I Made Suparta ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/644 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Revivalisme Kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII di Era Republik https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/568 <p>Tulisan ini bertujuan untuk membedah relasi kuasa-pengetahuan di balik diskursus revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII. Mangkunegaran adalah sebuah istana yang pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Jawa pada masa kolonial. Mangkunegaran dipimpin oleh seorang Mangkunegara. Pasca kemerdekaan, Mangkunegaran tidak lebih dari sebuah bangunan yang menyimpan kisah-kisah kejayaan para leluhur. Mangkunegara VIII adalah pemimpin Mangkunegaraan pada saat itu. Ia harus menghadapi berbagai macam tekanan sosial, politik, dan ekonomi. Ia kehilangan kedudukan sebagai kepala pemerintahan Mangkunegaran. Oleh sebab itu, ia membutuhkan sesuatu untuk memulihkan kehormatannya, yaitu kebudayaan Jawa. Ada tiga pokok bahasan yang dikaji oleh tulisan ini. (1) Bagaimana bentuk wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII pada era Republik? (2) Bagaimana fungsi wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII? (3) Bagaimana makna wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII? Wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII berbentuk klaim bahwa ia adalah pengayom kebudayaan Jawa. Mangkunegaran merupakan pusat pelestarian kebudayaan Jawa. Mangkunegaran mempertunjukkan kesenian-kesenian khasnya kepada khalayak umum, para pejabat, dan tamu-tamu asing. Mangkunegaran menjadi pusat untuk menggali kesenian-kesenian khasnya yang pernah mati suri. Fungsi dari wacana ini adalah untuk memperoleh kehormatan dari abdi dalem, masyarakat, dan petinggi republik dalam bidang kebudayaan. Makna dari wacana ini bagi mereka yang terhegemoni adalah anggapan bahwa Mangkunegaran menyimpan harta dan warisan budaya yang adiluhung dari para leluhur.</p> Adi Putra Surya Wardhana, Titis Srimuda Pitana, Susanto - ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/568 Mon, 18 Feb 2019 02:03:55 +0000 Implikatur Presentasi Komplementarisme Verbal dan Nonverbal Tari Gambiranom Susunan S. Ngaliman https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/646 <p class="p1">Penelitian ini adalah untuk mengkaji implikatur presentasi komplementarisme komponen verbal dan nonverbal tari Gambiranom susunan S. Ngaliman. Karya tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa seniman merupakan media komunikasi bahasa simbolik yang hendak disampaikan secara implisit terhadap penghayat. Pesan seniman yang dibalut dalam artitistik visual komposit bahasa verbal dan nonverbal tari Gambiranom merupakan strategi <em>off record </em>yang memungkinkan implikaturnya bermakna bagi sepasang pengantin dan masyarakat pengahayat. Metodologi penelitian kualitatif menjadi pilihan peneliti dalam upaya mengkaji implikatur presentasi tari Gambiranom. Teori rujukan adalah teori pragmatik dan teori seni pertunjukan. Pengumpulan data, diantaranya: studi pustaka, studi visual dokumen tari Gambiranom, wawancara dan observasi. Model analisisnya bersifat jalinan yang prosesnya secara garis besar diawali dari pengumpulan data kemudian direduksi lalu dikembangkan menjadi sajian data dan selanjutnya diverifikasi menjadi simpulan (Sutopo, 2006:118). Temuan penelitian bahwa Implikatur pertunjukan tari Gambiranom dalam perkawinan budaya Jawa adalah sebagai hiburan dan edukasi nilai-nilai perjuangan tentang cinta-kasih agar diserap dan dicontoh sepasang pengantin. Bagi masyarakat selain hiburan juga sebagai wawasan dan perenungan membudaya.</p> - Maryono ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/646 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Tradisi Versus Modern: Diskursus Pemahaman Istilah Tradisi dan Modern di Indonesia https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/647 <p class="p1">Masyarakat menerapkan tradisi secara sistematis seperti perekat. Ketika yang asli tidak lagi seperti dulu, nostalgia mengasumsikan makna keseluruhannya. Budaya biasanya diproyeksikan ke masa lampau, dan yang lampu tersebut menjadi budaya. Pemahaman seperti ini kontradiktif dengan pemahaman arti dari tradisi itu sendiri. Tradisi tidak seharusnya diartikan sebagai sesuatu yang bulat atau sirkuler atau tidak bergerak, melainkan sesuatu yang berproses seiring dengan waktu. Paper ini akan membahas bagaimana istilah tradisi dan modern dipahami dalam konteks masyarakat seniman Bali akademis (dan non-akademis), dan sejauh mana memengaruhi pola pikir penciptaan karya mereka. Pembahasan akan dititikberatkan pada diskursus yang terjadi dalam menyikapi fenomena berkesenian di Indonesia. Dimensi kesejarahan diulas sebagai analisa praktis perbedaan pola pikir dengan segala tantangannya. Pemahaman istilah tradisi dan modern menjadi penting dalam memahami perkembangan proses penciptaan musik dalam menelitik masa depan musik gamelan Bali, sekarang.</p> I Wayan Sudirana ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/647 Wed, 13 Feb 2019 00:00:00 +0000 Sense Of Place Pasar Barang Antik Triwindu: Eksplorasi Faktor Fisik Dan Sosial Pada Kompleks Arsitektur Komersial Di Surakarta https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/526 <p class="p1">Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keunikan tempat atau <em>sense of place</em> dari Pasar Barang Antik Triwindo Surakarta, khususnya pada faktor fisik dan sosialnya. Penelitian kualitatif ini dilaksanakan dengan pengambilan data melalui <em>focus group discussion</em> pengunjung, studi literatur dan dokumen, observasi dan dokumentasi visual. Informan dalam<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span><em>focus group discussion</em> berjumlah 11 orang yaitu pengelola, pengunjung dan juga pedagang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor faktor-faktor<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>fisik<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>pembentuk <em>sense of place</em> Pasar Triwindu<span class="Apple-converted-space">&nbsp; </span>adalah arsitektur dan kawasan (fasad bangunan menggambarkan arsitektur rumah Jawa, kawasan Ngarsopuro yang unik, ornamen ukiran khas Jawa pada fasad, patung <em>Roro Blonyo</em> pada gerbang pasar dan patung topeng pada halaman), interior (pengelompokan area berdasarkan jenis barang dagangan, <em>display</em> barang dagangan pada elemen ruang dinding, pembatas lapak, tangga dan plafon, batas lapak pada lantai, <em>signage</em>, lebar koridor), dan varian produk dagangan. Sedangkan faktor sosial adalah <em>history </em>dan <em>memory</em>, narasi pohon sawo kecik, karakter pedagang dan pengunjung, aktivitas even kuliner dan promosi.</p> Dyah Kusuma Wardhani, Astrid Kusumowidagdo, Thomas Kaihatu, Melania Rahadiyanti ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/526 Tue, 19 Feb 2019 05:52:56 +0000