Tari Ghora Manggala: Transformasi Makna Ngerebeg Dalam Bentuk Karya Tari
DOI:
https://doi.org/10.31091/kalangwan.v6i2.1229Kata Kunci:
ghora manggala, ngerebeg, kontemporerAbstrak
Tari Ghora Manggala, terinspirasi dari tradisi ritual ngerebeg yang ada di Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba, Badung, Bali. Ngerebeg merupakan sebuah ritual tolak bala untuk memohon keselamatan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dipercayai oleh masyarakat dapat memproteksi dari segala bentuk wabah penyakit dan mara bahaya. Penata berpandangan bahwa, makna dari ritual ini sangat kontekstual dengan kondisi dunia dewasa ini yang tengah dilanda pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah menyebar dengan begitu cepat di seluruh belahan dunia. Pemikiran tersebut memantik ide kreatif penata untuk mewujudkan sebuah karya tari di tengah pandemi Covid-19, dengan mengangkat nilai religius dan nilai sosial dalam berkehidupan pada ritual ngerebeg sebagai sumber gagasan penciptaan karya. Tujuan penelitian dan penciptaan seni ini adalah menghasilkan sebuah karya tari yang memiliki nilai kebaruan dalam garap bentuk dan garap isi. Landasan teoritis yang digunakan pada penciptaan Tari Ghora Manggala ialah teori estetika, sebagaimana dikemukakan oleh Monroe Beardsley bahwa ada tiga unsur keindahan, yaitu: kesatuan (unity), kerumitan (compleksity), dan kesungguhan (intensity). Sedangkan metode penciptaan tarinya, berpijak pada prinsip penciptaan seniman Bali, yakni angripta sasolahan yang terdiri dari lima tahapan penting, yaitu: ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Tari Ghora Manggala ialah sebuah karya tari kontemporer yang dibawakan oleh lima orang penari putra dan seorang pemusik. Karya ini merupakan bentuk ungkapan doa dan harapan penata untuk keseimbangan alam semesta (Bhuana Agung dan Bhuana Alit).
