<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://jurnal.isi-dps.ac.id/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		http://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-05-16T21:31:52Z</responseDate>
	<request metadataPrefix="oai_marc" set="kalangwan:ART" verb="ListRecords">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/index/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/119</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:31Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"160612 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Penerapan Metode Group Investigation Pada Mata Kuliah Metode Penelitian I di Program Studi Seni</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Wardizal, Â </subfield>
						<subfield label="u">Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Perlu Â kesadaran Â dan Â keseriusan Â semua Â anak Â bangsa, Â termasuk pemerintah Â untuk Â melakukan Â perubahan, evolusi, Â bahkan Â bila Â perlu revolusi Â menuju Â suatu Â paradigma Â baru Â pendidikan Â Indonesia. Â Pijakan untuk mengakhiri Â krisis, Â meningkatkan Â kualitas, Â sekaligus meningkatkan Â harkat Â dan martabat Â serta Â peradaban manusia ke arah yang lebih baik, dan bisa berkecimpung Â dalam percaturan Â global.

Metode dan strategi pembelajaran Â merupakan salah satu isu yang krusial dalam proses belajar mengajar di lingkungan Â Program Studi Seni Karawitan Â ISI Denpasar. Realitas menunjukan, Â bahwa metode pengajaran yang Â selama Â ini sering Â digunakan Â dalam Â proses Â belajar-mengajar di hampir Â semuaÂ  jenjang Â mata Â kuliah adalah Â metode konvensional Â (ceramah/demontrasi). Metode Â kovensional Â ini banyak digunakan Â terutama pada mata kuliah yang bersifat Â teoritis. Â Metode kovensional Â (ceramah/demonstrasi) memiliki Â kelemahan dan oleh berhagai kalangan dianggap telah ketinggalan zaman dan membosankan.

Menyikapi Â berbagai Â kelemahan Â tentang Â metode dan strategi pembelajaran Â yang dipergunakan Â selama Â ini dilingkungan Â Program Studi Â Seni Â Karawitan Â (PSSK) Â dan Â untuk Â memperoleh Â hasil pembelajaran Â sesuai dengan tujuan, perlu diadakan Â pemilihan Â terhadap strategi Â pembelajaran Â yang tepat. Group Investigation, merupakan salah satu diantara beberapa metode pengajaranÂ  Â inovatif yang Â akan diujicobakan Â dalam proses belajar mengajar di lingkungan Program Studi Seni Karawitan ISI Denpasar, khsususnya Â dalam mata kuliah Metode Penelitian.

Pada awal perkuliahan, para mahasiswa akan dibekali dengan aspek teoritis (keilmuan) tentang berbagai hal yang Â berkaitanÂ  Â dengan Metodologi Â Peuelitian. Â Dalam Â penerapan Â metode Â investigasiÂ  Â ini, kelas dibagi menjadi Â beberapa Â kelompok, Â beranggotakanÂ  Â 3-5 Â orang mahasiswa Â dengan Â karakteristik yang Â berbeda (heterogen) Â yang didasarkan Â atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para Â mahasiswa Â memilih Â topik Â yang Â ingin dipelajari, Â mengikuti Â investigasiÂ Â  yang Â mendalam Â terhadap subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan laporan di depan kelas secara keseluruÂ­ han. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai mahasiswa 3.64 Â dan tidak ada mahasiswa yang memperoleh nilai C.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-06-12 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/119</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 1 (2016): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/120</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:31Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"160612 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Wayang Kulit Joblar Bergaya Ngepop Dalam Perspektlf Kajian Budaya</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Marajaya, I Made</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan,  ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tulisan ini mengkaji pertunjukanÂ  wayang kulit Joblar (WKJ) dalam bentuk wacana. Walaupun belum pernah dilakukan penelitian secara mendalam terkait dengan WKJ, tetapi penulis berkeyakinanÂ  bahwa tulisan ini dapat dijadikan sebagai refrensi dan landasan berpikir terkait dengau WKJ bergaya ngepop. WKJ muncul dari buah pemikiran dalang I Ketut Muada yang kini telah menyelesaikan pendidikan S2 di ISI Denpasar. Joblar adalahÂ  tokoh punakawanÂ  tanpa pasanganÂ  yang dijadikan maskot pertunjukan wayang kulit dari Banjar Jeroan, Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tokoh JoblarÂ  ini adalah manifestasiÂ  dariÂ  karakterÂ  dalang I Ketut MuadaÂ  yang ciri-cirinyaÂ  adalahÂ  berbadan gemuk,Â  kepala pelontos,Â  perut buncit, dan suara besar/rendah.Â  WKJ bergayaÂ  ngepop dikemasÂ  sesuai dengan keahlianÂ  dan keterampilanÂ  yang dimiliki oleh dalang I Ketut Muada. Ciri-ciriÂ  WKJ bergaya ngepopÂ  dapatÂ  dilihatÂ  dari tata penyajianÂ  yang dikemas melaluiÂ  estetikaÂ  postmodernÂ  denganÂ  unsurÂ­ unsurnyaÂ Â  meliputiÂ  : lakon carangan, bahasa/retorika, tetikesan/gerak wayang,Â Â  iringan/musikÂ  pengiring, dan apparatus pertunjukan/perlengkapan.

WKJ memilikiÂ  keunggulanÂ  di dalam mengolahÂ  bahasa pedalangan baik meliputiÂ  bunyi/suaraÂ  tokohÂ­tokoh sesuai dengan Gaya Badung. Selain piawai memeraukan tokoh-tokoh, dalang WKJ juga memiliki keunggulanÂ  yang tidak dimiliki oleh dalang-dalangÂ  lainnya di Bali terutama dalam bidang olah vokal atau tarik suara. Dalang Joblar mampu menyanyikan lagu-lagu pop Bali dengan baik, sehingga pementasannya selalu dikolaborasikan dengan musik pop Bali dan musik pop Indonesia.Â  Selain itu, WKJ juga mampu mengkemasÂ  lakon dengan gaya yang ngetrandÂ  seperti WayangÂ  Joblar ABG &quot;HamilÂ  di Luar Nikah&quot; walaupun ceritanya bersumber dari Ramayana. Unsur-unsur estetik lainnya seperti iringan dan aparatus mengikuti selera orang banyak.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-06-12 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/120</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 1 (2016): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/121</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:31Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"160612 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Rejang Dewa Di Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali (Keunikan Dan Fungsi)</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Trisnawati, Ida Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tujuan mendapatkan uraian diskriptif analisis tentang Nilai estetis tari Rejang Dewa pada masyarakat Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali. Hasil penelitian munjukkan bahwa Sejarah awal dari rejang dewa di desa pakraman Sidetapa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan desa ini, yang mana desa ini sudah ada sejak tahun 785 saka atau 883 Masehi yang diperkirakan setelah kedatangan Maha Resi Markandya ke Bali dengan mendirikan Pura Besakih di lereng Gunung Agung. Tari rejang dewa ini adalah tari sakral yang dipersembabkan kepada Taksu (Ida Sang Hyang Widhi) yang ada di Pura Desa Sidetapa. Keunikan yang menjadi ciri khas dari tari rejang dewa Sidetapa yang membedakan dari tari rejang umumnya bisa dilihat dari beberapa aspek yaitu penari, pakaian dan aksesoris yang dipakai, tabuh dan gerakan penarinya, waktu dan tempat pementasan tari rejang dewa ini. Dari segi fungsi dan maknanya, fungsi tari rejang dewa bagi masyarakat Sidetapa bisa dilihat dalam beberapa aspek yaitu religius sebagai persembaban kepada Tuhan Yang Maba Esa, pelestarian kebudayaan dan adat Bali agar tetap ajeg, fungsi sosial sebagai pengikat antar masyarakat di desa ini, dan fungsi edukasi atau pendidikan seni dan juga etika bagi generasi muda di desa Sidetapa.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-06-12 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/121</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 1 (2016): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/122</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:31Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"160612 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Gambang Dalam Prosesi Upacara Pitra Yadnya Di Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yudarta, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gamelan gambangÂ  merupakanÂ  seperangkat gamelan Bali yang memiliki fungsi sebagai sarana pengiring upacara adat di Bali. SalahÂ  satu fungsinyaÂ  adalahÂ  sebagaiÂ  pengiringÂ  dalam prosesiÂ  upacara pitra yadnya yaitu upacara yang diperuntukkan bagi roh atau arwah orang yang sudah meninggal. Di dalam kehidupan masyarakat Bali, terdapat berbagai jenis upacara pitra yadnya sesuai dengan tingkatan pelaksanaannya dari ritual pengabenanÂ  hingga nilapati atau ngalinggihan. Dari berbagaiÂ  tingkatan upacaraÂ  tersebutÂ  gamelan gambang biasanya difungsikan di dalam prosesi pengabenan yaitu upacara pembakaran jenazah bagi orang yang meninggal. Dari berbagai jenis tingkatan upacara pengabenan, penggunaanÂ  gamelanÂ  gambangÂ  lumrahÂ  dipergunakanÂ  di dalam tingkatan upacara Sawa Preteka dan Nyawa Wedana merupakan tingkatan upacara tertinggi atau tingkatan utama (mewangun). Di dalam studi ini secaraÂ  khusus akan dibabasÂ  tentangÂ  persoalanÂ  mengapaÂ  gamelanÂ  gambang digunakan sebagai sarana penting di dalam upacara pitra yadnya,jenis-jenis gending apa saja yang dimainkan di dalam upacara pitra yadnya serta sesajen yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan upacara tersebut.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-06-12 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/122</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 1 (2016): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/123</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:31Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"160612 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gebug Ende: Ritual Untuk Memohon Hujan</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Gunarta, I Wayan Adi</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Gebug Ende adalah tarian rakyat yang merupakan tari adu ketangkasan, dibawakan oleh kaum laki-laki dengan membawa sebuah tongkat pemukul dari rotan dan sebuah perisai atau tarneng (ende) sebagai pelindung diri dan penangkis dari serangan lawan. Asal mula Tari Gebug Ende ini secara pasti belum dapat diketahui siapa yang membawanya terkait hubungan Karangasem dengan Lombok. Ada yang mengatakan bahwa Tari Peresean di Lombok dibawa oleh warga Karangasem yang memiliki hubungan yang erat dengan suku Sasak di Lombok. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa tari Gebug Ende di Seraya ditiru dari Tari Peresean yang ada di Lombok. Jika diamati, Tari Gebug Ende yang dilestarikan di desa Seraya memiliki fungsi sebagai tari ritual untuk memohon hujan di musim kemarau. Tari ritual sebagaimana dipahami oleb masyarakat Bali secara kolektif adalah sebuah tarian yang berfungsi sebagai sarana ritual atan yadnya. Di sisi lain, Gebug Ende sebagai sebuah bentuk tari perang (warrior dance) sangat dipengaruhl oleh kondisi kehidupan masyarakat Bali, dimana ketika itu berada dalam sistem kekuasaan raja-raja. Tari Gebug Ende dikatakan sebagai tari perang karena berfungsi untuk melatih ketangkasan dan keberanian yang dikaitkan dengan unsur-unsur kekebalan. Dalam kehidupan sosial masyarakat Seraya, Gebug Ende juga memiliki fungsi sebagai hiburan karena sudah menjadi suatu kegemaran mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-06-12 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/123</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 1 (2016): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/124</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pertunjukan Panebusing Kembar Mayang Pada Upacara Perkawinan Adat Jawa</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Hendro, Dru</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Panebusing Kembar MayangÂ  adalah merupakan warisan budaya nenek moyang yang biasa dipakai dalam rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Pada zaman sekarang ini tradisi tersebut sudah mulai jarang ditampilkan tetapi masih survive dalam kehidupan masyarakat jawa. Sebelum melaksanakan pernikahan, kebiasaan orang Jawa melakukan upacara panebusing kembar mayang sebagai syarat ataupun permintaan calon penganten wanita yang harus dilaksanakan oleh orang tuanya. Upacara panebusingÂ  kembar mayang ini merupakan sebuah seni pertunjukan yang melibatkan para pemain layaknya fragmen yang diiringi karawitan dan dipandu oleh seorang dalang. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertunjukan yang ditonton saja, tetapi juga mengandung fungsi, makna dan nilai-nilai seniÂ  budaya yang bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi calon penganten. Fungsi sosial dalam kegiatan tersebut adalah sebagai alat pemersatu ditunjukkan adanya keterlibatanÂ  seluruh masyarakat dalam mendukung upacara panebusing Kembar Mayang tersebut. Disamping itu juga mengandung nilai pendidikan yang terdapat didalamnya, yaitu; mengembangkanÂ  sikap toleransi, demokratis, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, MengembangkanÂ  pengetahuan, sikap, imajinasi, dan keterampilan melalui proses pembuatan kembar mayang, Menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar kemandirian untuk bekerja dan berkarya.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/124</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/125</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Estetika Sastra Kidung Bima Swarga</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Wicaksana, I Dewa Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan/Program Studi Seni Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tulisan ini mengkaji Estetika Sastra Kidung Bima Swarga yang mengisahkan tentang Bima pergi ke Kawah (nerakaloka) membebaskan ayahnya (Pandu) serta ibu tirinya (Madri) dari siksaan Yamadipati, dan dinaikkan kedua orang tuanya ke sorga (swargaloka). Untuk kepentingan penulisan ini naskah-naskah yang dijadikan sebagai obyek kajian adalah hanya 2 (dua) naskah yang berbentuk puisi (tembang), atas dasar; pertama, teks kidungÂ  Bima Swara (karya tulis Sri Reshi Ananda Kusuma) sudah diterbitkan dan yang satu lagi didokumentasikan (alih aksara) oleh Disbud Bali (1995), namun keduanya belum diterjemahkan, sehingga sulit dimengerti; kedua, secara dramatikal, alur ceritanya merupakan satu kesatuan yang utuh (bulat) sehingga mudah diketahui dan dipahami; ketiga, teks dalam bentuk metrum (pupuh)Â  disusun berdasarkan aturanÂ­ aturan tertentu sehingga memungkinkan diedesi secara kritis berdasarkan aturan-aturan tersebut; keempat, naskahÂ  tersebutÂ  dalamÂ  konteksnyaÂ  seringÂ  dijadikan Â pedomanÂ  atauÂ  rujukanÂ  olehÂ  seniman-seniman (khususnya dalang) untuk dijadikan sumber lakon dalam melakukan aktivitasnya &#039;ngwayang&#039;; dan kelima, naskah tersebut juga digunakan sebagai media ungkap oleh masyarakat Bali ketika ada orang yang meninggal, dengan resitasi (menembangkan) lewat aktivitas &#039;mabebasan&#039;. Perspektif hermeneutik dan semiotik, jenis kidung Bima Swarga membentuk struktur global yang mempunyai fungsi dan makna bagi penghayatan dan pengkajian budaya Bali (Indonesia) sebagai sumber inspirasi garapan tema dan amanat. Tema lakon ini adalah &#039;rna/utang&#039;dengan amanatuya hutang seorang anak kepada orang tuannya karena ia dilahirkan dan dibesarkan, maka ia harus berkewajiban membayar dengan cara bhakti baik secara fisik (mengupacarai) maupun spiritual dengan mencakupkan tangan &#039;nyumbah&#039;. NilaiÂ­ nilai budaya yang terkandung dalam kidung Bima Swarga meliputi, nilai ajaran dharmaÂ  (kewajiban dan kebajikan); nilai yajnya (korban suci dan ketulusan); dan nilai kesetiaan (satya wacana dan suputra). Visi estetiknya, kidung Bima Swarga tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitrayadnya), karena mengandung nilai penyerahan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat pendukungnya.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/125</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/127</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Faktor-faktor Penyebab Praktik Glokalisasi Musik Pop Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ardini, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Musik Fakultas Seni Pertunjukan lnstitut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Sejak dasawarsa 1990-an, musik pop Bali mengalami industrialisasi di wilayah Provinsi Bali. Di dalamnya, praktik glokalisasi berlangsung melalui pemaduan elemen-elemen kemusikan lokal dengan elemen-elemen global, meskipun keadaannya belum ideal, sehingga dalam sejumlah kasus, musik pop Bali kehilangan rasa Balinya. Permasalahan studi ini dirumuskan ke dalam pertanyaan: faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya praktik glokalisasi musik pop Bali di Bali. Sebagai studi yang bersifat kualitatif, analisis data dilakukan secara kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan, dengan menggunakan secara eklektik beberapa teori terkait. Hasil studi ini menunjukkan bahwa, sejak era industrialisasinya, telah teljadi praktik glokalisasi musik pop Bali dari banyak musisinya, sehingga elemen - elemen lokal dan global saling memerkuat dan mengayakan musik pop Bali itu sendiri. Di sisiÂ  Jain, harus diakui di sana-sini masih ada kecenderungan dominasi elemen-elemen global-modern(-isasi). Praktik glokalisasi tersebut disebabkan adanya fenomena glokalisasi yang meIanda Bali dan masuknya kekuasaan kapital musik. Selain itu, penyebabnya adalah kesadaran politik identitas kebalian dan kepemilikan modal budaya di kalangan musisi pop Bali. Praktik glokalisasi tersebut juga berlangsung sebagai pengungkapan kulturalisme masyarakat Bali, yaitu perayaan kehidupan sehari-hari masyarakat. Praktik glokalisasi musik pop Bali bekerja melalui kekuasaan kapital, yaitu pemilik rumah produksi dan studio rekam, kekuasaan budaya, yaitu para musisi pop Bali, dan kekuasaan media, yaitu media elektronik (radio, televisi, dan internet) yang mewujudkan produksi, distribusi, dan konsumsi.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/127</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/128</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Filsafat Wayang Basis Patung Ikonik Pantai Pandawa, Kabupaten Badung</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Widnyana, I Kadek</subfield>
						<subfield label="u">Prodi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
PatungÂ  PancaÂ  PancaÂ  PandawaÂ  sebagaiÂ  ikon adalahÂ  penunjangÂ  destinasiÂ  pantaiÂ  Pandawa, Kabupaten Badung. Filsafat wayang tentang tokoh Pandawa yang dipahami sehagai tokoh satria yang selalu memancarkan sifat-sifat agung dan mulia. Sifat dharma, keadilan dan kejujuran serta ajaran ketuhanan sejati selalu melekat pada tokoh ini. Catur Purusa Artha menjadi tujuan utama, kemakmuranÂ  rakyat dan melindungiÂ  yang lemahÂ  menjadiÂ  harga mati bagiÂ  tokohÂ  Pandawa.Â  Filosafi inilahÂ  dijadikanÂ  suri tauladanÂ  hidupÂ  masyarakatÂ  KutuhÂ  untukÂ  selaluÂ  berusahaÂ  mendapatkan yangÂ  terbaikÂ  denganÂ  jalan Dharma.Â Â  DipilihnyaÂ  tokoh Pandawa sebagaiÂ  ikon dikarenakanÂ  tokoh dan isi lakon yang dipetikÂ  dari mutiara eposÂ  MahabrataÂ  memberikanÂ  santapanÂ  rohaniÂ  yang tidakÂ  temilaiÂ  tingginya. Secara filosofi Tokoh ini dianggap merefleksikan kehidupan masyarakat Kutuh dan mewakili nilai kemanusiaan yang tidak ada taranya, yang selalu dijadikan obor dan suri teladan oleh masyarakat Kutuh. Oleh sebab itu, Pantai Pandawa dikelola dan ditetapkan sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional)
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/128</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/129</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Rejang Wastra Di Desa Demulih Kabupaten Bangli Kajian Bentuk Dan Fungsi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suandewi, Gusti Ayu Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan lnstitut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tulisan ini adalah hasil penelitian yang di lakukan di Desa Demulih Kabupaten Bangli. Desa Demulih adalah salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Bangli yang kaya akan warisan budaya berupa tari-tarian wali yang jumlahnya kurang lebih 72 tari wali. Tari Rejang adalah sebuah tarian yang memiliki gerak-gerak tari yang sangat sederhana dan lemah gemulai. Tari Rejang Wastra adalah salah satu tari Rejang yang terdapat di Desa Demulih Kecamatan Susut Kabupaten Bangli. Tarian ini berkaitan erat dengan upacara atau Piodalan Karya Ngusaba Gede di Pura Pucak Demulih. Penelitian ini berparadigma tentang budaya secara realitas yg pendekatannya menekankan pada bentuk dan fungsi dari tari rejang dengan menggunakan metode kualitatif.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/129</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/130</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:47:13Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"161213 2016                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Angklung Sebagai Pengiring Paket Seni Pertunjukan Wisata</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suharta, I Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sutirta, I Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Widyarto, Rinto</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Sendratasik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Ketika terjadi hubungan antara masyarakat pemilik seni dengan masyarakat wisata, maka akan tercipta produk seni pertunjukan yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Sifat memberikan pengaruh yang demikian adalah peluang untuk menjadikan gamelan Angklung, lahir sebagai bentuk seni pertunjukan wisata. Merupakan adaptasi berdasarkan kondisi, disposisi, dan reprensi kultural masyarakat untuk mencapai keadaan sesuai tuntutan perkembangan masyarakat masa kini. Produk kesenian berupa paket seni pertunjukan wisata yang diiringi gamelan Angklung adalah kemasan bentuk kesenian bernuansa baru, agar gamelan Angklung memiliki fungsi yang lebih proporsional. Bentuk kreativitas dengan pembaharuan yang terjadi, masih tetap mengacu kepada bentuk serta kaidah-kaidah seni yang telah ada, tidak terlepas dari selera estetis seniman dan selera para wisatawan.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2016-12-13 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/130</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 2 No. 2 (2016): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/155</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171010 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Lagu Perahu Layar Pada Seka Joged Bumbung Cipta Dharma Kajian Estetis, Proses Transformasi, Fungsi, Dan Makna</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Artawan, Â I Kadek Budi</subfield>
						<subfield label="u">Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Joged Bumbung adalah salah satu bentuk karawitan Bali yang sangat populer saat ini. Kepopulerannya dalam seni pertunjukan tidak hanya dikenal oleh masyarakat Bali tetapi juga masyarakat Indonesia. Seni pertunjukkan Joged Bumbung memiliki fungsi utama sebagai hiburan, yang biasanya dipentaskan setelah melaksanakan upacara mepandes, pawiwahan, ulang tahun pemuda dan instansi lainnya. Fenomena dalam perkembangannya muncul berbagai bentuk baru dalam komposisi iringan tari Joged Bumbung yaitu digunakannya instrumen non tradisional Bali seperti xylophone, gitar bass elektrik, angklung kocok, kendang sunda, cymbal, dan tambourine. Perahu Layar merupakan salah satu iringan tari Joged dengan media ungkap gamelan Joged Bumbung yang dipadukan dengan intrumen non tradisional Bali. Iringan tari Joged Perahu Layar diciptakan pada tahun 2011 oleh Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini difokuskan sebagai berikut : 1) Bagaimana bentuk estetis lagu Perahu Layar Seka Joged Bumbung Cipta Dharma, 2) Bagaimana proses transformasi lagu Perahu Layar kedalam Seka Joged Bumbung Cipta Dharma, 3) Apa fungsi dan makna lagu Perahu Layar Seka Joged Bumbung Cipta Dharma. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung dengan beberapa teori sebagai pembedah permasalahan antara lain: teori estetika, teori kreativitas, teoriÂ  fungsi musik, dan teori semiotika. Dilihat dari segi bentuk iringan tari Joged Bumbung Perahu Layar tersebut menggunakan konsep Tri Angga yaitu kawitan, pangawak, dan pakaad. Bagian pangawak dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian cecelantungan dan bagian jaipongan. Pada bagian jaipongan Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma menggunakan instrumen xylophone sebagai melodi pokok memainkan lagu Perahu Layar. Proses transformasi yang dilakukan Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma yang menjadikan lagu Perahu Layar sebagai iringan tari Joged Bumbung memiliki proses diantaranya ekplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Lagu Perahu Layar aslinya berasal dari Jawa Tengah, karya dari Ki Nartosabdo yang kemudian Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma menjadikannya sebagai iringan tari Joged Bumbung. Suatu karya pastinya memiliki fungsi dan makna yang terkandung didalamnya. Iringan tari Joged Bumbung Perahu Layar memiliki fungsi sebagai pengungkapan emosional, fungsi sebagai hiburan, dan fungsi reaksi jasmani. Adapun makna yang terdapat dalam iringan tari Joged Bumbung Perahu Layar yaitu makna komunikasi, kreativitas, dan makna ekonomi.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/155</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/156</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171010 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kolaborasi Pertunjukan Wayang Kulit Calonarang Inovatif Dengan Menampilkan Watangan Matah Oleh Dalang I Wayan Nardayana Dan Jro Mangku Gede Made Subagia</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Marajaya, Â I Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Pertunjukan Wayang Kulit Calonarang merupakan salah satu dari jenis wayang langka di Bali. Wayang ini banyak menyimpan mistri, sehingga orang-orang takut menjadi dalang wayang calonarang, kecuali mereka yang telah berilmu tinggi. Wayang kulit calonarang dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan terutama pada bentuk dan struktur pertunjukannya. Wayang kulit calonarang masih dianggap sebagai pertunjukan paling angker diantara wayang-wayang lainnya. Dengan keangkeran itu, maka secara individu orang takut untuk menanggapnya karena takut kena resiko dari pertunjukan itu yang kadang-kadang mengundang konflik sosial. Di era globalisasi ini, ternyata wayang calonarang masih eksis dan mengikuti perkembangan zaman. Terbukti telah dilakukannya berbagai eksprimen dengan memadukannya dengan teknologi modern, sehingga muncul pertunjukan wayang calonarang inovatif.Â  Di samping itu para dalang ingin tampil beda seperti halnya dalang I Wayan Nardayana yang terkenal dengan dalang Cenk Blonk mementaskan wayang calonarang berkolaborasi dengan dalang Jro Mangku Gede Made Subagia yang terkenal sebagai pini sepuh ajaran Siwa Murti. Pementasan ini dilakukan pada tahun 2012 dalam rangka piodalan di Pura Dalem Ped Nusa penida. Keunikan pementasan ini adalah dengan menghadirkan dua watangan matah yang kemudian diusung ke kuburan desa setempat seperti layaknya orang meninggal dunia. Pertunjukan ini selain sebagai pelengkap dari upacara pujawali juga memberi hiburan kepada masyarakat dan memberikan makna pencerahan kepada masyarakat agar tidak melakukan kejahatan ilmu hitam di zaman modern ini.

Â 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/156</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/157</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171010 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Vokal Pertunjukan Drama Tari Gambuh Desa Batuan Gianyar Dalam Cerita &quot;Karya Gunung Pangebel&quot;</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Budiarsa, Â I Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Stdudi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
VokalÂ  yang terdapat dalam drama tari gambuh merupakan hal penting yang mesti dikuasai oleh semua penari, karena merupakan media penting dalam penyampaian lakon yang dibawakan. Bahasa Kawi sebagai bahasa pengantar dalam seni pertunjukan drama tari klasik di Bali seperti gambuh, calonarang, wayang wong ramayana, wayang wong parwa, topeng, dan lain sebagainya dipelajari oleh para seniman tari melalui teks-teks tertulis , secara lisan, maupun melalui pengalaman pentas senimannya. Untuk mengetahui cerita yang dibawakan dalam suatu pertunjukan gambuh, setidaknya penonton dapat menyimak melalui bagian adegan panyerita, bagian ini biasanya muncul setelah peran-peran utama melakukan tarian ngelembar. Â Dalam cerita karya Gunung Pangebel ini cerita disampaikan/ akan kita ketahui pada saat para patih/ bawahan raja antara lain Demang Tumenggung, Rangga, Arya, dan punakawan sedang menghadap sang raja Gegelang.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/157</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/159</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171011 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Karakter Galuh Gaya Jero Ratna dalam Dramatari Arja Lakon Pajang Mataram di Banjar Kebon Singapadu</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Desiari, Â Made Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana, Insitut Seni Indonesia Denpasar, Indonesia</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sariada, I Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ruastiti, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Arja merupakan salah satu jenis dramatari Bali yang memadukan unsur drama, tari, tembang, dan musik. Di dalam sebuah pementasan dramatari ArjaÂ  terdapat tokoh-tokoh yang memiliki karakter tersendiri baik itu karakter keras maupun halus atau manis. Salah satu karakter yang dikaji dalam penelitian ini adalah karakter Galuh gaya Jero Ratna dalam sebuah pertunjukan dramatari Arja dengan Lakon Pajang Mataram yang dipentaskan di Banjar Kebon Singapadu. Kajian tentang Galuh dalam dramatari Arja sangat mendesak dilakukan sebab sampai saat ini belum ada studi yang mendalam tentang tokoh Galuh dalam dramatari Arja khususnya Gaya Jero Ratna. Studi ini merupakan sebuah penelitian kualitatif dengan pendekatan seni pertunjukan. Ada dua rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimanakah bentuk pertunjukan dramatari Arja Lakon Pajang Mataram di Banjar Kebon Singapadu, Gianyar?; dan (2) Bagaimanakah karakter Galuh Gaya Jero Ratna dalam pertunjukan dramatari Arja Lakon Pajang Mataram tersebut?. Sebagai pisau analisis digunakan tiga buah teori yaitu teori Fungsional-Struktural, teori Estetika, dan teori Semiotika. Data-data dari penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Seluruh data yang terkumpul dianalisis dan ditulis secara sistematis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) bentuk pertunjukan dramatari Arja Lakon Pajang Mataram di Banjar Kebon Singapadu dapat dilihat dari lakon, struktur pertunjukan, tokoh-tokoh, musik iringan, dan tempat pertunjukan. (2) Karakter Galuh Gaya Jero Ratna dalam pertunjukan dramatari Arja Lakon Pajang Mataram adalah sebuah karakter putri manis atau halus. Hal itu dapat ditinjau dari tembang pada igel penglembar dan igel pagunem, gerak tari, dan tata rias busana yang digunakan.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/159</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/160</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171011 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pertunjukan Gender Wayang Pada Pekan Seni Remaja Kota Denpasar Kajian Bentuk, Estetika, Dan Makna</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Hartini, Ni Putu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Gender Wayang merupakan salah satu jenis gamelan Bali golongan tua. Teknik permainan yang cukup sulit menyebabkan kurangnya minat generasi muda untuk mempelajarinya sehingga peminatnya hanya dari kalangan tua. Pada kenyataannya, sejak tahun 2005 Gender Wayang dijadikan salah satu materi dalam Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar. PSR dijadikan sarana sebagai upaya pemerintah untuk menarik minat generasi muda dalam melestarikan Gender Wayang. Sejak diadakannya PSR Kota Denpasar terjadi fenomena menarik terhadap keberadaan Gender Wayang. Penelitian ini merumuskan tiga hal. Pertama, bagaimanakah bentuk pertunjukan Gender Wayang pada PSR Kota Denpasar? Kedua, apa sajakah kreativitas estetik dalam pertunjukan Gender Wayang pada PSR Kota Denpasar? Ketiga, apakah makna pertunjukan Gender Wayang pada PSR Kota Denpasar?. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pemahaman bentuk, estetika, dan makna pertunjukan Gender Wayang dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori bentuk, teori estetika, dan teori semiotika. Hasilnya ditemukan bahwa pertunjukan Gender Wayang pada PSR Kota Denpasar merupakan salah satu ajang kreatif dan upaya pelestarian serta pewarisan nilai-nilai budaya tradisional kepada para pelajar. Pertunjukan Gender Wayang memiliki bentuk-bentuk estetis, yaitu dari segi bentuk instrumen dan bentuk penyajiannya. Kreativitas estetik dapat dicermati melalui trik-trik atau aksen dalam memainkan gending Gender Wayang serta penataan gerak, gaya, dan ekspresi dalam penampilan penabuh pada PSR Kota Denpasar. Makna yang terkandung dalam pertunjukan Gender Wayang pada PSR Kota Denpasar meliputi makna kreativitas, makna pelestarian, makna pendidikan, makna kompetisi, dan makna aktualisasi diri.</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/160</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/161</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:55Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171011 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Seni Pertunjukan Gambuh Kajian Makna Dan Nilai Budaya</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Wardizal, Â Â </subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gambuh, merupakan salah satu bentuk kesenian kasik, berunsurkan total teater dan dianggap sumber drama tari Bali. Kesenian gambuh telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosio kulural masyarakat Bali dari dahulu sampau sekarang. Â Catatan sejarah menunjukkan, seni pegambuhan telah ikut mewarnai perkembangan beberapa bentuk kesenian lain di Bali. Sebagai sebuah karya seni, gambuh selain dijadikan obyek penikmatan estetis dan ritual, juga telah banyak dijadikan obyek studi. Gambuh, merupakan â€œtambang emasâ€ yang tiada habisnya untuk digali dan dikaji dalam berbagai persfektif. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri dan mendalami tentang makna dan nilai budaya dalam seni pertunjukan gambuh. Teori makna yang dikemukakan Peter L. Breger dijadikan acuan untuk melihat makna gambuh dalam kehidupan sosio kultural Masyarakat. Menurut Breger, Manusia memberi makna kepada benda-benda, membubuhkan nilai pada benda-bendaÂ  itu, dan menciptakan tata susunan pengertian yang luas (bahasa, sistem lambang, lembaga) yang merupakan pedoman mutlak diperlukan dalam hidupnya. Breger membedakan makna ini atas dua kategori, yaitu makna dalam masyarakat tradisional (belum modern), dan makna dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat yang belum modern, kebanyakan makna itu terberikan kepada manusia oleh tradisi, yang jarang atau tak pernah dipertanyakan. Dalam masyarakat modern, sebagian besar dari keseluruhan makna itu â€œdipilihâ€ orang secara pribadi. Berkaiatan dengan persoalan makna tersebut, gambuh mempunyai beberapa makna dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat. Makna tersebut diantaranya adalah (1) makna keseimbangan, (2) makna simbolik dan (3) makna prestise dan kebanggaan lokal. Pemaknaan terhadap suatu unsur kebudayaan, terkait erat dengan sisitem nilai budaya. Sistem nilai budaya pada hakekatnya terdiri dari konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai beharga dan penting warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat bersangkutan. Megacu kepada Konsep nilai budaya universal yang dikemukakan oleh Spranger, terdapat 6 (enam) nilai budaya universal yang terkandung dalam seni pertunjukan gambuh. Nilai-nilai budaya tersebut adalah (1) nilai religius, (2) nilai estetis, (3) nilai solidaritas, (4) nilai ilmu pengetahuan,Â  (5) nilai kekuasaan.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-10-10 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/161</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 1 (2017): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/231</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gita Derita Cicing Kacang Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Mangempis, Grace Monalisa</subfield>
						<subfield label="u">Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Terinspirasi dari cicing kacang Bali yang tidak terawat dan terlindas ban kendaraan hingga gepeng di jalanan. Karya ini diwujudkan ke dalam sebuah pertunjukan musik dalam bentuk hybrid, yang merupakan penggabungan dua unsur budaya yaitu Bali dan Barat, sehingga menjadi sajian bentuk musik baru yang bersifat orisinil, kreatif, dan bermakna. Penciptaan karya musik ini mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang luhur, serta berdampingan dengan perkembangan budaya global. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menggali potensi budaya lokal dengan hasil akhir karya seni kreatif dan berpedoman kepada kaidah, moral, dan etika ilmu pengetahuan. Teori yang digunakan dalam proses penciptaan yaitu teori musik, teori semiotika, dan teori hermeneutika. Metode yang digunakan untuk penciptaan karya ini adalah metode penciptaan musik Roger Sessions yang meliputi inspirasi, konsepsi, dan eksekusi. Hasil dari karya ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan kesederhanaan cicing kacang Bali yang kalah saing dengan anjing ras, sehingga ditelantarkan dan dibuang ke pinggir jalan, jembatan, pantai bahkan ke tempat pembuangan sampah. Bagian kedua menceritakan cicing kacang Bali yang telah terbuang dan beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga cicing kacang tersebut melindungi lingkungannya dari penjahat. Bagian terakhir menceritakan kegigihan cicing kacang Bali dalam bertahan hidup di jalanan, dan pada akhirnya terlindas ban kendaraan. Gita Derita Cicing Kacang Bali adalah karya musik hybrid yang menggambarkan keadaan cicing kacang Bali dari kesederhanaan, pengorbanan, dan perjuangannya.
Inspired by the unkempt Cicing Kacang Bali which crushed to death by a vehicle on the street. This work is embodied into a musical performance in the form of hybrid, namely the merger of two different cultures of Balinese and Western so then it becomes a whole new musical form. The interest of the composer to raise this work is about a pure attraction to an original, creative, and meaningful creation of artwork. The creation of this artwork elevates the values of noble local traditions and to be able to coexist with the development of global culture. The purpose of this work is to explore the potential of local culture with the end result is a creative artwork which adheres to rules, morals, and ethics of science. Theories used in the creation process are music, semiotics and hermeneutic theory. In the composation, the method implemented is the music creation approach by Roger Sessions which includes inspiration, conception, and execution. The work is divided into three parts. The first part tells about the simplicity of Cicing Kacang Bali that is less competitive with other races of dog, to be abandoned and thrown away to the roadside, bridges, beaches even to landfills. The second part tells about the wasted dog has to adapt to the environment, and later the dog protects the environment from criminals. The last part tells about the persistence of the dog to survive on the streets, and ultimately crushed to death by vehicleâ€™s tires. Simplicity, sacrifice, struggle are the main messages which become the result of creation of Gita Derita Cicing Kacang Bali.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/231</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/232</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">I Nyoman Cerita Inovation Figure in Balinese Dance Creation</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Agus Sujiro Putra, I Kadek</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni,Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni,Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sariada, I Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni,Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">I Nyoman Cerita adalah seniman sekaligus akademisi seni pertunjukan khususnya seni tari di Bali yang berasal dari Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali. Beliau telah mampu membangun sebuah upaya pengembangan kesenian khususnya tari di Bali. Berbagai karya-karya yang hingga kini telah memberikan catatan penting terhadap perkembangan seni tari, I Nyoman Cerita mampu menciptakan karya tari dengan cara Nyeraki. Istilah Nyeraki yaitu serba ada atau serba bisa. Kemampuan nyeraki yang dimaksud disini adalah kemampuan Nyoman Cerita yang dapat menyelesaikan segalanya dengan kemampuan yang serba bisa. Nyoman Cerita mampu menciptakan tabuh (musik iringan tari), mampu menciptakan gerak tari, serta mampu menciptakan konsep kostum. Kemampuan nyeraki sangat jarang dimiliki oleh seniman tari pada umumnya Tujuan dari penelitian ini menghasilkan sebuah karya tulis tentang tokoh I Nyoman Cerita seniman tari asal Gianyar, menghasilkan karya tulis yang mampu digunakan sebagai informasi tentang tokoh inovatif dalam mencipta tari Bali, ada tiga pokok permasalahan yang akan dikaji yaitu bagaimanakah latar belakang kehidupan I Nyoman Cerita, bagaimanakah proses kreatif I Nyoman cerita sebagai tokoh inovatif dalam mencipta Tari Bali, bagaimanakah kontribusi karya I Nyoman Cerita dalam perkembangan seni tari di Bali? teori yang digunakan untuk membedah ketiga latar blakang tersebut yaitu: teori biografi, teori motivasi,teori Estetika. Inovatif karya I Nyoman Cerita yaitu beliau mampu memunculkan ide-ide baru seperti pengolahan properti tari yang dapat digunakan dalam berbagai fungsi. Sebagai contohnya adalah properti pajeng dapat di fungsikan sebagai tombak, roda kereta, dan simbol awan, sedangkan properti kipas dapat digunakan sebagai gada dan kereta kencana kontribusi karya-karya Tari Bali beliu menjadi bahan ajar di sanggar dan sebagai sajian seni pertunjukan pariwisata.
Â I Nyoman Cerita is an artist as well as a performing arts academic especially dance art in Bali from Banjar Sengguan, Singapadu Village, Sukawati District, Gianyar Bali Regency. He has been able to build an art development effort, especially dance in Bali. Various works which up to now have provided important notes on the development of dance, I Nyoman Cerita able to create works of dance by Nyeraki way. Nyeraki term is versatile or versatile. The ability of nyreaki is meant here is the ability Nyoman Stories that can solve everything with a versatile ability. Nyoman Story is able to create a tabuh (music dance accompaniment), able to create a dance movement, and able to create the concept of costume. The ability of nyeraki very rarely owned by dance artists in general The purpose of this research produced a paper about the character I Nyoman Story of Gianyar dance artists, produce a paper that can be used as information about innovative figures in creating Balinese dance, there are three subjects that will be studied is how the background of life I Nyoman Cerita, How is the creative process I Nyoman Cerita as an innovative figure in creating Balinese Dance, how the contribution of I Nyoman Ceritaâ€™s work in the development of dance art in Bali? the theory used to dissect the three backgrounds are: biography theory, motivation theory, theory of aesthetics. The innovation of I Nyoman Ceritaâ€™s work is that he is able to create new ideas such as processing dance properties that can be used in various functions. For example, a pajeng property can be used as a spear, train wheel, and cloud symbol, while a fan property can be used as a club and a train.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/232</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/233</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Hibriditas Musikal Pada Komposisi Ardawalika Karya Gustu Brahmanta</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Allan Dwi Amica, Kadek</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana,
Insitut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana,
Insitut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ardini, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana,
Insitut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Â â€œHibriditas Musikal Pada Komposisi Ardawalika Karya Gustu Brahmantaâ€, adalah sebuah usaha penelitian yang dilakukan penulis untuk melihat dengan teliti dan komprehensif dari perspektif ilmu musik dan ilmu penunjang lainnya. fenomena penciptaan komposisi berbasis dua budaya musik yang telah dipaparkan, komposisi musik Ardawalika memenuhi kriteria sebagai musik hasil campuran dua budaya musik. Upaya yang dilakukan Gustu Brahmanta dalam proses penciptaan karya musik Ardawalika memerlukan proses ekperimen baik secara konsep maupun secara musikalitas. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi, yaitu 1) Bagaimana estetika hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta, 2) Bagaimana bentuk keseimbangan antara idiom musikal tradisi Bali dengan idiom musik jazz dalam hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta, dan 3) Makna apakah yang ada dalam hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dimana metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Data diperoleh melalui observasi langsung, dokumentasi, dan wawancara. Selanjutnya dengan melakukan kajian yang mendalam penulis akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hibriditas musikal pada komposisi ardawalika karya Gustu Brahmanta dibangun melalui beberapa unsur-unsur di dalamnya. Unsur-unsur musikal dalam komposisi Ardawalika, mengandung unsur estetika postmodern yaitu pastiche. Selain itu juga menerapkan prinsip bricolage dimana adanya sebuah pencampuran yang bisa terlihat dari pengelompokan dan penggunaan instrumen dengan modal tangga nada yang berbeda satu sama lain. keseimbangan yang terdapat dalam idiom musikal komposisi ardawalika, dapat dicapai melalui keseimbangan yang simetris dan tidak simetris atau asimmetric balance. Dalam hal permaknaan signifikasi ditemukan suatu permaknaan denotative dan konotatif pada skor komposisi musik Ardawalika karya Gustu Brahmanta.
Musical Hybridity On The Composition Of Ardawalika in Gustu Brahmanta â€˜sworkâ€, is The research done by the author to look carefully and comprehensively from Perspective of music and other supporting knowledge. The phenomenon in the creation of a two-based composition music culture that has been presented, the composition of music Ardawalika meet the criteria as the combination of two musical cultures. The efforts of Gustu Brahmanta in the process The creation of musical work of Ardawalika requires experimental process both conceptually and In musicality.The problems of study that have discussed in this research are 1) how aesthetic hybridity musicals on the arcade composition of Gustu Brahmantaâ€™s work, 2) How to balancing the form between the musical idiom of Balinese tradition with the idiom of jazz music in the musical hybridity Arctic composition of Gustu Brahmantaâ€™s work, and 3) What the meanings that existin hybridity musical on the arcade composition of Gustu Brahmantaâ€™s works. This research used the qualitative method where qualitative methods are the research methods used for researching on the condition of natural objects, wherere searchers are as a key instrument. Data Obtained through direct observation, documentation, andinterviews.The conclusion that the author get were the musical hybridity of Gustu Brahmantaâ€™s archematic composition Built through some of the elements in it. The musical elements in the composition Ardawalika, contains a postmodern aesthetic element that is pastiche. It also applies the principle of bricolage where in combination can be seen from the grouping and the use of instruments with different capital scales from eachother. Balancing which is contained in the musical idiom of the arcadonic composition, can be achieved through equilibrium which is symmetrical and asymmetric or asymmetric balance. In terms of signification significance found a denotative and connotative meaning on the score of Ardawalika musical composition by Gustu Brahmanta.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/233</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/234</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Anak Agung Gede Oka Dalem Tokoh Penggerak Seni Pertunjukan Pariwisata di Desa Peliatan</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ayu Anantha Putri, Ni Komang</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Anak Agung Gede Oka Dalem seniman tari kelahiran 3 Mei 1954, Oka Dalem disebut sebagai tokoh penggerak karena beliau mampu berkreativitas, mengkoordinir para seniman, serta terus berinovasi menjadikan pertunjukan pariwisata yang maju dan eksis. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai bintang panggung, seorang guru yang mampu memberi contoh dan pengelola seni yang baik bagi kelima sekaa yang bernaung, sehingga dengan manajemen seni yang professional Oka Dalem dapat mendatangkan banyak manfaat bagi para masyarakat yang tergabung dalam lima sekaa yang secara bergantian pentas regular di wadah seninya. Sangat jarang terdapat seniman tari yang mampu menjadikan seni sebagai mata pencaharian utama, seperti yang dilakukan Oka Dalem yang mampu hidup sejahtera berkat sebuah pertunjukan pariwisata yang beliau kelola. Tujuan dari penelitian ini adalah Menghasilkan sebuah karya tulis yang mampu digunakan sebagai informasi tentang tokoh seniman yang mampu memanajemen dan menggerakkan seni pertunjukan wisata, khususnya di Desa Peliatan Ubud. Terdapat tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Pertama yaitu bagaimana riwayat kehidupan dari Oka Dalem yang menggiring dirinya untuk menjadi seorang seniman dan tokoh yang berpengaruh di Desa Peliatan, kedua yaitu bagaimana motivasi Oka Dalem dalam mengelola seni pertunjukan pariwisata di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Ketiga yaitu apa saja kontribusi A.A Gede Oka Dalem sebagai tokoh penggerak seni pertunjukan pariwisata di Desa Peliatan, Ubud ,Gianyar. Adapun teori yang digunakan untuk membedah ketiga rumusan masalah tersebut adalah teori tokoh egoistik, teori motivasi kerja, teori professional dan teori estetika. Sebagai tokoh penggerak, Oka Dalem juga mampu berkreativitas dan berinovasi dengan memberikan ruang dan kesempatan bagi semua anggota sekaa melalui wadah seni yang bernama Balerung Mandera Srinertya Waditra. Wadah seni ini merupakan bukti nyata seorang tokoh penggerak yang mampu menjadi fasilitator yang hebat, karena beliau tidak hanya mampu mendirikan wadah seni, melainkan mampu mengelola sekaa yang bernaung di dalamnya serta menjadikan wadah seni tersebut terkenal sampai menjadi sumber mata pencaharian tambahan bagi masyarakat pendukungnya.
Anak Agung Gede Oka Dalem born May 3, 1954, Oka Dalem is called as a driving figure because he is able to creativity, coordinate the artists, and continue to innovate to make tourism performances advanced and exist. In addition, he is also known as a stage star, a teacher who is able to give examples and good art management for the five sekaa who take shelter, so that with professional art management Oka Dalem can bring many benefits for the people who joined in five sekaa that alternately Regular performances in his art container. Very rarely there are dance artists who are able to make art as a main livelihood, as did Oka Dalem who is able to live prosperous thanks to a tourism show that he managed. The purpose of this research is to produce a paper that can be used as information about the character of artists who are able to manage and move the art of tourism performances, especially in Peliatan Village Ubud. There are three main issues studied in this research. The first is how the life history of Oka Dalem who led him to become an artist and influential figure in Peliatan Village, the second is how the motivation Oka Dalem in managing the art of tourism performances in Peliatan Village, Ubud, Gianyar, Third, what are the contributions of AA Gede Oka Dalem as the driving figure of the art of tourism performances in Peliatan Village, Ubud, Gianyar. The theory used to dissect the three formulation of the problem is the theory of egoistic figures, the theory of work motivation, professional theory and aesthetic theory. As a driving force, Oka Dalem is also able to creativity and innovation by providing space and opportunities for all members sekaa through an art container named Balerung Mandera Srinertya Waditra. This art container is a clear proof of a mobilizer who is capable of being a great facilitator, as he is able not only to establish an arts venue, but to be able to manage the shelter in it and make the art container well known to be an additional source of livelihood for the support community.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/234</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/235</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Leko di Pendem, Jembrana Sebuah Kajian Tekstual</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ayu Kunti Aryani, Ni Nyoman</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Leko merupakan salah satu kesenian yang terdapat pada beberapa wilayah di Bali, salah satunya di Kabupaten Jembrana. Leko yang ada di Jembrana merupakan sebuah tari balih-balihan (hiburan) yang memiliki kekhasan tersendiri yakni penari dijaga oleh seorang pecalang yang membawa klewang (pedang) serta tidak memperkenankan pengibing untuk menyentuh penari. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian tari Leko di Pendem Jembrana, melalui pendokumentasian secara tertulis yang membahas secara rinci mengenai tari Leko dari sudut pandang tari. Fokus bahasan dalam penelitian ini yakni tari Leko di Pendem Jembrana yang dianalisis melalui kajian tekstual. Analisis tekstual merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis informasi dalam riset akademik. Dalam hal ini, tari Leko dipandang sebagai sebuah teks yang dapat dibaca layaknya sebuah tulisan. Kajian tekstual dalam tari Leko dibahas melalui tiga pokok bahasan yang meliputi koreografis, struktural, dan simbolik. Koreografis membahas mengenai gerak tarinya, teknik gerak, gaya gerak, jumlah penari, jenis kelamin dan postur tubuh, ruang dalam tari Leko, waktu, musik iringan tari, analisis dramatik, serta tata teknik pentas (tata cahaya, tata rias, dan tata busana). Struktural pembahasannya meliputi struktur gerak dan struktur pementasan tari Leko. Sedangkan pada bagian simbolik membahas mengenai simbol pada gerak, kostum, dan tata riasnya. Penulisan ini berdasarkan pengamatan melalui video tari Leko yang dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali tahun 2009. Metode yang digunakan dalam tulisan ini, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan uraian pembahasan mengenai koreografis, struktural, dan simbolik, dapat disimpulkan bahwa tari Leko Jembrana memiliki memiliki koreografi, struktur dan simbol dalam tari Bali yang masih bersifat tradisi Bali dan belum mendapat pengaruh perkembangan gerak seperti yang berkembang saat ini.
Leko is an art that exists in some regions in Bali, including Jembrana Regency. Leko that exists in Jembrana is a balih-balihan (entertainment) dance which has its own characteristic where the pengibing (spectator who joins in the dance) is banned to touches the dancer because pecalang will guard her with their klewang (machete). This research is an effort to preserve Leko dance in Pendem Jembrana, through written documentation that discuss the details about Leko dance from dance point of view. The main focus of this article is on the study about dance concept of leko in Pendem Jembrana using textual study. Textual analysis is a method used to obtain and analyze information in academic research. In this case, Leko is viewed as a readable text like writings. Textual study about Leko dance is discussed in three main subjects including choreography, structure, and symbols. Choreography discussion is about the dance movements, motion techniques, motion styles, number of dancers, sex and posture, space in Leko dance, time, dance music, dramatic analysis, and performances (lighting, makeup and dressing). Structural discussions include motion structure and Leko dance performance structure. Whereas the symbolic section discusses about the symbols in the motion, costumes, and makeup. This writing is based on observations of Leko dance video performed at the Bali Arts Festival in 2009. The methods used in this paper are observation, interviews, and documentation Based on textual study of leko dance in Jembrana it can be concluded that its choreography, structure, and symbols havenâ€™t get influence from development of motion nowadays and still keep the value of Balinese tradition.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/235</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/236</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal Kelurahan Sesetan Kota Denpasar</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Juli Artiningsih, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sariada, I Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arshiniwati, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Gandrung merupakan sebuah tari pergaulan yang sejenis dengan tari Joged Bumbung. Tari ini di bawakan oleh penari laki-laki yang berpakaian perempuan. Dari beberapa tari Gandrung yang masih ada salah satunya adalah tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar. Penelitian ini dipandang urgen untuk dilakukan karena dari sekian banyak penelitian dan laporan hasil penelitian yang dapat dibaca dan diamati, belum banyak ditemukan kajian ilmiah yang membahas mengenai tari Gandrung yang ada di Banjar Suwung Batan Kendal. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi sebagai referensi bagi kalangan akademik maupun non-akademik dalam rangka mempelajari pertunjukan tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan seni pertunjukan. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu (1) bagaimana bentuk tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; (2) bagaimana fungsi tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?; dan (3) bagaimana estetika tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal?. Sebagai pisau analisis digunakan tiga teori yaitu teori Bentuk, teori Fungsional-Struktural, dan teori Estetika. Seluruh data penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Dari hasil kajian diperoleh jawaban seperti berikut. (1) Tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal tersebut disajikan dalam bentuk tunggal dan ditarikan oleh seorang penari laki-laki yang belum menginjak dewasa atau mengalami masa akil baliq. Hal itu dapat dilihat dari komponen struktur pertunjukan, gerak tari, penari, tata rias dan busana, musik iringan serta tempat pertunjukannya. (2) Berdasarkan fungsinya, seni pertunjukan Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal memiliki tiga fungsi yaitu berfungsi sebagai seni pertunjukan yang bersifat ritual, hiburan, dan solidaritas. (3) Estetika pada tari Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, nampak terlihat pada pementasannya yang dapat diamati dari ragam gerak tari, musik iringan, tata rias dan busana yang digunakannya.
Gandrung is a social dance similar to Joged Bumbung dance. This dance is performed by male dancers dressed in women. From some Gandrung dance that still exist one of them is Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, Sesetan Village, Denpasar City. This study is considered urgency done because of the many research and research reports that can be read and observed, not yet found a scientific study that discusses the Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal. Though writing about the dance is needed to be used as a reference for academic and non-academic in order to learn Gandrung dance performance in Banjar Suwung Batan Kendal. The research was conducted using qualitative method with performance art approach. There are three main issues studied in this research that is (1) how Gandrung dance form in Banjar Suwung Batan Kendal ?; (2) how Gandrung dance function in Banjar Suwung Batan Kendal ?; And (3) how the aesthetics of Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal ?. As a blade analysis used three theories namely Form theory, Functional-Structural theory, and theory Aesthetics. All data of this research, both primary and secondary data are obtained through observation technique, interview, literature study, and documentation study. From the results of the study obtained the answer as follows. (1) Gandrung Dance in Banjar Suwung Batan Kendal is presented in singular form and danced by a male dancer who has not stepped on an adult or has a baliq period. It can be seen from the components of the performance structure, dance movements, dancers, makeup and clothing, music accompaniment and place of performances. (2) Based on its function, Gandrung performing arts in Banjar Suwung Batan Kendal has three functions that function as performance art that is ritual, entertainment, and solidarity. (3) Aesthetics in Gandrung dance in Banjar Suwung Batan Kendal, seen in the observable staging of the range of motion of dance, music accompaniment, makeup and clothing that it uses.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/236</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/237</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Ki Mantri Tutuan dalam Bentuk Karya Tari Inovatif</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Rupiani, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suteja, I Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Wimba Ruspawati, Ida Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Bali merupakan pulau Dewata yang banyak memiliki kisah atau legenda maupun silsilah kawitan atau garis keturunan laki-laki (purusa). Legendatersebut masih diyakini dan disakralkan, seperti yang tersimpan di Desa Gunaksa Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung, yaitu sebuah Prasasti Ujara Kanda yang menjelaskan tentang kisah Ki Mantri Tutuan dan seketurunannya. Ki Mantri Tutuan berasal dari keturunan Raja Kelingga Jawa Timur yang bernama Dalem Mangori, mempunyai anak bernama Pangeran Satriawangsa menjalani hukumn dan kutukandi tanah Bali bernama Pura Bukit Buluh di Desa Gunaksa Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung. Berdasarkan fenomena di atas diciptakanlah sebuah karya tari inovatif yang berjudul Ki Mantri Tutuan. Adapun alasannya adalah ingin menggali nilai-nilai keyakinan yang bersifat religious dan erat hubungannya dengan alam gaib, serta memperoleh pengetahuan tentang sejarah,etika,moral dan sopan santun terhadap orang yang pantas dihormati, dan ingin mensosialisasikan terhadap keturunan Ki Mantri Tutuan melalui sajian dalam bentuk karya tari inovatif. Prinsip-prinsip angripta sesolahan dipilih untuk proses penciptaan karya tari Ki Mantri Tutuan dan dalam perwujudannya menggunakan teori transpormasi yang merupakan suatu proses pemindahan kisah dari aslinya menjadi karya seni tari yang bersifat inovatif.Ki MatriTutuan dalam bentuk karya tari inovatif adalah sebuah karya tari kekinian, yang berorientasi pada standar tari Bali yaitu agem, tandang, tangkis dan tangkep dikemas menjadi karya baru yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
Bali is the island of God who has many stories or legends or genealogy of kawitan or lineage of men (purusa). The legend is still believed and sacred, as it is stored in Gunaksa Village Dawan Sub-district Klungkung, which is an Inscription Ujara Kanda that explains the story of Ki Mantri Tutuan and seketurunnya. Ki Mantri Tutuan derived from the descendants of King Kelingga East Java named Dalem Mangori, have a son named Prince Satriawangsa undergoing law and curse of the land of Bali named Pura Bukit Buluh in Gunaksa Village Dawan District Klungkung Regency. Based on the above phenomenon was created an innovative dance work titled Ki Mantri Tutuan. As for the reason is to explore religious values of beliefs and closely related to the occult, as well as gain knowledge of history, ethics, morals and manners towards people who deserve respect, and want to disseminate to the descendants of Ki Mantri Tutuan through the presentation in the form of works Innovative dance. The principles of angriptasesolahan were chosen for the process of creating the dance of Ki Mantri Tutuan and in its manifestation using the theory of transpormation which is a process of moving the story from the original into a dance artwork that is innovative.Ki MatriTutuan in the form of innovative dance work is a work of dance, On the Balinese dance standard that is agem, away, tangkis and tangkep packed into new work that adapts to the development of the era.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/237</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/238</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tek Tok Dance Sebagai Sebuah Seni Pertunjukan Pariwisata Baru Di Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Dyan Ratna, Putu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Magister Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Ruastiti, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk dapat mengetahui dan memahami Tek Tok Dance sebagai seni pertunjukan pariwisata baru di Bali. Penelitian yang berlokasi di Puri Kantor, Ubud, Bali ini dilakukan karena adanya ketimpangan antara asumsi dan kenyataan di lapangan. Pada umumnya di Bali berkembang seni pertunjukan pariwisata antara lain : Cak Dance, Legong Dance, dan Barong Dance. Tetapi kenyataannya ini berbeda. Pertanyaannya: (1). Bagaimana bentuk pertunjukan Tek Tok Dance di Puri Kantor, Ubud?; (2). Mengapa Puri Kantor Ubud menciptakan Tek Tok Dance?; dan (3). Apa kontribusinya bagi Puri Kantor, masyarakat, dan industri pariwisata di Bali?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah pertunjukan Tek Tok Dance itu sendiri, para informan, buku-buku, dan jurnal terkait. Seluruh data yang telah dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dianalisis secara kritis dalam perspektif kajian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata baru, Tek Tok Dance disajikan dalam bentuk dramatari. Hal itu dapat dilihat dari cara penyajian, koreografi, struktur pertunjukan, lakon, tata rias busana, dan iringan musik pertunjukannya; (2) Puri Kantor di Ubud menciptakan Tek Tok Dance pada tahun 2013 karena adanya peluang pasar dan potensi berkesenian masyarakat setempat yang memadai; (3) Muncul dan berkembangnya Tek Tok Dance sebagai sebuah seni pertunjukan pariwisata baru di Bali berkontribusi positif bagi kehidupan ekonomi, sosial, budaya masyarakat setempat,para pihak terkait, dan pengayaan bagi industri pariwisata Bali.
The objective of this research is to be able to know and to comprehend Tek Tok Dance as a new tourism performing art in Bali. The research located in Puri Kantor, Ubud, Bali is conducted because of the imbalance between assumption and reality in the field. In general, tourism performing arts in Bali are growing, such as: Cak Dance, Legong Dance, and Barong Dance. However, the reality is different. The questions are: (1).How does Tek Tok Danceâ€™s performance form at Puri Kantor, Ubud?; (2). Why does Puri Kantor Ubud create Tek Tok Dance?; and (3). What is its contribution to Puri Kantor, society, and tourism industry in Bali?. The method used in this research is qualitative method. The data sources of this research are Tek Tok Danceâ€™s performance itself, informants, literatures, and related journals. All data collected by observation, interview, and literature studies are analyzed critically in the perspective of cultural studies. The results showed that: (1). As a new tourism performing art, Tek Tok Dance is presented in the form of play and dance. It can be seen from the way of performing, choreography, performance structure, play, fashion makeup, and musical accompaniment of the show; (2) Puri Kantor in Ubud created Tek Tok Dance in 2013 due to the presence of market opportunities and the potential of local communities; (3) The rise and development of Tek Tok Dance as a new tourism performing art in Bali contributes positively to the economic, social, and cultural aspects of the local community, Puri Kantor as the performing organizer, and enrichment for Baliâ€™s tourism performing arts.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/238</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/239</identifier>
				<datestamp>2019-02-28T02:46:41Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"171120 2017                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Struktur Ritme Lagu Curik-Curik Aransemen Gustu Brahmanta Trio</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sanjaya, Warman Adhi</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Magister Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Astita, I Nyoman</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Penelitian ini mengenai karya komposisi â€œCurik-Curikâ€ yang diaransemen menggunakan pendekatan jazz hibrida bergenre swing. Komposisi curik â€“curik hasil aransemen Ida Bagus Gustu Brahmanta menggunakan 3 instrumen antara lain rindik, drumset &amp; contra bass. Ketiga instrumen ini cara penggarapannya dilakukan menggunakan pendekatan cross culture atau lintas budaya dimana instrumen rindik yang berasal dari bali dicampurkan dengan instrumen contra bass dan drum yang berasal dari Barat. Hal ini cukup menarik karena proses hibridasi pada akhirnya mampu menyatukan dua budaya musik yang berbeda karena kemampuan para pemainnya yang memiliki pengalaman dan skill yang tinggi. â€œCurik-Curikâ€ adalah lagu yang digunakan dalam permainan anak tradisional Bali.Secara kontekstual komposisi â€œCurik-Curikâ€ adalah mempresentasikan revitalisasi budaya memalalui kerja kreatif seniman sehingga dengan diciptakannya karya ini maka lahirlah berbagai karya baru dan kekinian sesuai dengan nafas jaman. Melalui estetika struktur ritme setidaknya diketahui bahwa karya ini lebih menonjolkan permainan pola ritme sehingga semua instrumen difungsikan sebagai rhythm section. Akan tetapi pada sisi yang lain seluruh instrumen juga bisa difungsikan sebagai solois dimana setiap pemain contra bass menonjolkan ketrampilannya sendiri-sendiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif analitik.

This study is about the work of â€œCurik-Curikâ€ composition using the genre jazz hybrid approach. â€œCurik-Curikâ€ composition of the arrangement of Ida Bagus Gustu Brahmanta arrangement uses 3 instruments such as rindik, drumset &amp; contra bass. All three of these instrumentation methods are done using cross cultural approach where the rindik instruments originating from Bali are mixed with contra bass and drum instruments originating from the West. This is quite interesting because the hybridization process can finally unify two different cultural music because of the ability of its players to have high experience and skill. â€œCurik-Curikâ€ is a song used in traditional Balinese childrenâ€™s games. Curic-Curik contemporary composition is presenting a cultural revitalization through artistâ€™s creative work so that by creating this work it is born of new and contemporary works that fit the new era of music. Through the aesthetic theory of rhythm structure at least it is known that this work more emphasizes the game of rhythm patterns so that all instruments are functioned as a rhythm section. However, on the other hand the whole instrument is also funcioned as a solois where each player contra bass highlights his own skills. This research uses analytic descriptive research method.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2017-11-20 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/239</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 3 No. 2 (2017): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2017 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/281</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">MrÄ•dangga: Sebuah Penelusuran Awal Tentang Gamelan Perang Di Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Kustiyanti, Dyah</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Artikel ini berisi penelusuran awal tentang gamelan perang di Bali yang berasal dari luar Bali. Gamelan perang adalah gamelan yang dipergunakan dalam peperangan dan berfungsi sebagai gamelan untuk memberikan semangat dalam peperangan. Artikel ini bertujuan untuk membahas sebaran kata mredangga dalam berbagai naskah kuno yang berbentuk kakawin dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para peneliti terdahulu. Naskah-naskah kuno sebagai salah satu sumber sastra sejarah, banyak menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan kebudayaan terutama dengan seni karawitan. Kata Mredangga sendiri sebagai gamelan perang tersurat dalam pupuh X nomor 8 kakawin Bharatayudha. Metode yang dipergunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yang dilakukan dengan empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Mredangga bisa berdiri sendiri atau sebagai instrumen dan sebagai sebuah kelompok instrumen ataupun diiringi oleh kata-kata lain yang menyebutkan instrumen lainnya. Sebagai gamelan yang berfungsi untuk peperangan, gamelan ini mempunyai fungsi untuk membuat respon fisik antara lain melakukan penyerangan terhadap musuh.

This article contains a preliminary search about the war gamelan in Bali originating from outside Bali. The war gamelan is a gamelan that is used in war and serves as a gamelan to give spirit in war. This article aims to discuss the spread of word mredangga in various ancient manuscripts in the form kakawin and has been translated into Indonesian by the researchers earlier. Ancient texts as one source of historical literature, many save historical events related to culture, especially with the art of karawitan. Mredangga word itself as a war gamelan written in pupuh X number 8 kakawin Bharatayudha.The method used in this study is the historical method, which is done with four stages of work namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Mredangga can stand alone or as an instrument and as a group of instruments or accompanied by other words that mention other instruments. As a gamelan that serves for war, this gamelan has a function to create a physical response, among others, to attack the enemy.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/281</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/338</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Peran Wanita Dalam Seni Pertunjukan Tradisional Minangkabau  Di Tengah Perubahan Kehidupan Sosio Kultural Masyarakatnya</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Wardizal, Wardizal</subfield>
						<subfield label="u">Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
						<subfield label="u">Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul â€œResistensi dan Kompromitas Terhadap Keterlibatan Wanita dalam Seni Pertunjukan di Minangkabau. Artikel ini secara umum menguraikan berbagai jenis seni pertunjukan di Minagkabau yang melibatkan peranan seorang wanita. Pada masa sekarang telah terjadi proses demokratisasi proses berkesenian di tengah kehidupan sosio-kultural masyarakat Minangkabau. Penelitian ini dikonstruksikan berdasarkan metode kualitatif didasarkan pada filsafat rasionalisme. Filsafat rasionalisme berpendirian bahwa ilmu yang valid dihasilkan dari pemahaman intelektual dan kemampuan berargumentasi secara logis. Rasionalisme itu berpendirian, sumber pengetahuan terletak pada akal. Filsafat Rasionalisme bukan karena mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Penelitian rasionalisme mensyaratkan digunakannya pendekatan yang holistik yang menggunakan konstruksi pemaknaan atas realitas, tidak saja secara empirik sensual tetapi juga secara logis-teoritik dan etik. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan, seperti studi kepustakaan, untuk mendapatkan berbagai informasi dari sumber tertulis. Observasi dan wawancara, untuk mengamati berbagai fenomena dan peristiwa yang berkembang di tengah masyarakat. Kontribusi wanita terhadap perkembangan dan pelestarian kesenian tradisonal Minangkabau, secara kualitatif telah melahirkan beberapa seniman yang melegenda di tengah masyarakat.

This article is part of the research result entitled â€œResistance and Compromise Against Womenâ€™s Involvement in Permorming Art in Minangkabau. This article generally describes the various types of performing arts in Minagkabau that involve the role of a woman. At present there has been a process of democratization of the art process in the midst of the socio-cultural life of the Minangkabau community. This research is constructed based on qualitative methods based on the philosophy of rationalism. The philosophy of rationalism holds that valid science results from intellectual understanding and the ability to argue logically. Rationalism is opinionated, the source of knowledge lies in reason. The philosophy of Rationalism is not to deny the value of experience, but experience is best seen as a kind of incentive for the mind. The research data was collected by several stages, such as literature study, to obtain various information from written sources. Observation, to observe the various phenomena and events that develop in the community. The contribution of women to the development and preservation of traditional arts Minangkabau, qualitatively has spawned some legendary artists in the community.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/338</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/449</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Deskripsi Dialog Drama Tari Gambuh Cerita â€œDedoyanâ€</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Purnamawati, Ni Diah</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Dialog(pangalangkara) tari Gambuh pada umumnya memakai Bahasa Kawi dan Bahasa Bali (sor singgih basa) sebagai media ungkap dalam pementasan. Dialog para tokoh tidak berdasarkan teks, melainkan secara improvisasi. Hal ini dilakukan setelah terlebih dahulu pelakunya diberikan gambaran mengenai isi, tema, lakon, jalan cerita serta watak-watak para pemain. Berdasarkan penggunaan bahasanya mempunyai kecenderungan memakai Bahasa Kawi dan Bahasa Bali (sor singgih basa) dipandang perlu untuk mendeskripsikan teks dialog-dialog tari Gambuh supaya gampang untuk mempelajarinya. Kenyataannya sampai saat ini dialog tari Gambuh sulit untuk dipelajari dan sangat penting adanya deskripsi teks dialog-dialog sebagai pedoman pertunjukan Gambuh oleh para seniman sekaligus sebagai pelestarian budaya.

Dialogue (pangalangkara)in Gambuh dance that commonly used Kawi and Balinese language (with the rules of sor singgih basa) is revealed media in staging. The dialogue of the characters is not based on the text, but rather improvised. This is done once the characters are given a description of the story contents, themes, storylines and characteristic of each characters. Based on the language usage they have a tendency to use Kawi, and Balinese language (with the rules of sor singgih basa) is deemed necessary to describe the dialogue in Gambuh dance to make it easier in understanding and learning. In fact, until now Gambuh dance dialogue is difficult to learn and it is very important to have a text description of the dialogues as a guide line for Gambuh performances by artists as well as cultural preservation.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/449</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/450</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Teater Wayang Inovatif Stri Wiweka</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Marhaeni, Ni Komang Sekar</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Penciptaan Teater Wayang Inovatif dengan judul Stri Wiweka mengeksplorasi semua potensi yang ada dalam bidang seni pedalangan/pewayangan. Suasana dan karakter yang ditampilkan dalam setiap adegan digarap sedemikian rupa sesuai dengan konsep garap dan kaidah-kaidah penciptaan dalam pewayangan Bali serta lebih mementingkan keindahan struktur lakon dan cerita yang digarap ke dalam bentuk pertunjukan wayang kreasi baru. Penciptaan ini secara umum bertujuan untuk menghasilkan sebuah karya seni Teater Wayang Inovatif yang bertolak dari pelestarian nilai-nilai estetis, etis yang terkandung dalam kesenian tradisi dan untuk mempersembahkan kreativitas seni yang adaptif dan edukatif pada apresiatornya. Sedangkan tujuan secara khusus untuk mewujudkan gagasan atau ide pencipta yang dapat menghidupkan pola-pola wayang tradisi lewat karya inovasi, meningkatkan kemampuan pencipta dalam berolah seni, dan dalam rangka menumbuhkan imajinasi baru sebagai kreativitas yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya teater wayang inovatif ini yaitu, studi kepustakaan, diskusi, kontemplasi, efisiensi, imitasi, revisi, partisipasi dan finishing. Karya ini merupakan salah satu teater tradisi yang digarap dalam bentuk baru dengan melakukan penjelajahan ruang teater tiga dimensi yang mana dalam pertunjukan tersebut penonton dapat melihat dari segala penjuru karena adegan dilakukan oleh manusia sebagai pemegang peran atau tokoh. Pertunjukan dijalin dalam sebuah cerita berbingkai, bentuk wayang kulit menggunakan nilai filsafat sebagai tuntunan bagi manusia untuk menghindari arogansi kekuasaan. Lakon dalam karya ini memberikan pemahaman terhadap seseorang yang semena-mena dalam kekuasaan dan akhirnya terkalahkan oleh kebijaksanaan.

Creation of Innovative Puppet Theater with the title Stri Wiweka explores all the potential that exist in the field of puppetry art. The atmosphere and character displayed in each scene, worked in such a way and in accordance with the concept of work and the rules of creation in Balinese puppetry. With more emphasis on the beauty of the structure of the story and the story is cultivated into the form of an innovative new puppet show creations. This Creation generally aims to produce an innovative Puppet Theater art based on the preservation of aesthetic, ethical values embodied in traditional art and to offer creative, adaptive and educational creativity to its appreciator. While the goal is specifically to realize the idea or idea of the creator who can revive the patterns of wayang tradition through the work of innovation, improve the ability of creators in artistic work, and in order to foster new imagination as a sustainable creativity. The methods used in the creation of innovative wayang theater works are literature study, discussion, contemplation, efficiency, imitation, revision, participation and finishing. This work is one of the theater traditions worked on in a new form, by exploring the three-dimensional theater space. The show is woven in a framed story, staging a puppet full of the value of philosophical meaning as a guide for man to avoid the arrogance of power as in the story of the work of creation. The play in this work provides an insight into an arbitrary person in power that is ultimately constrained by wisdom.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/450</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/451</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Bentuk Dan Fungsi Tari Baris Buntal, Desa Pakraman Pengotan,  Kabupaten Bangli</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Desmi Kartiani, Ni Luh</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arshiniwati, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">-, Suminto</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Baris Buntal di Desa Pakraman Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, merupakan tari sakral yang biasanya ditarikan saat piodalan di beberapa pura yang ada di Desa Pakraman Pengotan. Tari Baris Buntal ini memiliki beberapa keunikan dari segi kostum dan koreografinya, sehingga membuatnya berbeda dengan tari baris upacara lainnya. Melihat keunikan tersebut diharapkan tari ini dapat dilestarikan dan didokumentasikan tidak hanya berupa video melainkan juga dokumen tertulis agar bisa bermanfaat bagi masyarakat kedepannya. Namun pada kenyataannya di lapangan tidak ada dokumentasi tertulis seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, penelitian ini perlu dilakukan dengan mengangkat dua permasalahan yaitu bentuk dan fungsi. Untuk menjawab dan menjelaskan hal tersebut digunakan metode penelitian yaitu metode penelitian kualitatif dengan empat teknik pengumpulan data yaitu, observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan mengaplikasikan teori estetika dan teori fungsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil atau jawaban sebagai berikut.Tari Baris Buntal merupakan tarian sakral yang menggambarkan tentang ketangkasan seorang prajurit dalam mengintai musuh, mengejar, dan melawan musuh-musuhnya. Tarian ini ditarikan oleh 8 orang penari yang terdiri dari laki-laki dewasa, dengan menggunakan tata rias dan busana yang sederhana, dan diiringi dengan gamelan Gong Gede. Tari Baris Buntal di Desa Pakraman Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli ini memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis. Fungsi sekunder sebagai pengikat solidaritas masyarakat, media meditasi dan media terapi.Â 

Baris Buntal Dance in Pengotan Village, Bangli District, Bangli District, is a sacred dance that is usually danced at piodalan in some temples in Pengotan Village. Baris Buntal Dance has some uniqueness in terms of costume and choreography, thus making it different from other ritual dance lines. Seeing the uniqueness is expected this dance can be preserved and there should be documentation not only in the form of videos but also written documents in order to be useful for the future community. But in reality in the field there is no written documentation as expected. Therefore, this research needs to be done. To answer and explain things related to the object of research is used research method that is qualitative research method with four data collecting technique that is, observation, interview, literature study, and documentation, and analyzed by applying theory of aesthetics and function theory. Based on the research done then obtained the results or answers as follows. Bareback Dancing is a sacred dance that depicts the agility of a soldier in stalking the enemy, chase, and fight his enemies. This dance is danced by 8 dancers consisting of adult men, using a very simple makeup and clothing, and accompanied by gamelan Gong Gede. Baris Buntal Dance in Pengotan Village, Bangli Subdistrict, Bangli District has two functions, namely the primary function as a means of ritual, personal entertainment, and aesthetic presentation. Secondary function as a binder of community solidarity, media meditation and media therapy.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/451</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/452</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Bentuk Dan Proses Penciptaan Tari Padang Kasna  Sebagai Tolak Ukur Kemampuan Penggarap</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Desy Rupaniawati, Desak Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan,Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sri Wahyuni, Ni Komang</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan,Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sueka, I Gusti Ngurah</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan,Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari kreasi Padang Kasna merupakan sebuah karya tari yang mengangkat keindahan dan kesucian tanaman padang kasna. Termasuk tanaman langka, padang kasna tumbuh di Kabupaten Karangasem tepatnya di Temukus, Desa Besakih atau di kaki Gunung Agung. Mengangkat tanaman padang kasna karena penggarap ingin mengenalkan tanaman tersebut kepada masyarakat luas. Gerak-gerak yang dituangkan dalam karya tari ini merupakan imajinasi dari penggarap akan tanaman padang kasna, tetapi tetap berpijak pada gerak tari tradisi Bali. Tari ini diciptakan oleh Desak Ayu Desy Rupaniawati dengan penata musik yaitu I Dewa Putu Ari Artha. Dalam pertunjukannya tari ini terdiri dari 4 bagian sesuai dengan ide maupun konsep yang diangkat. Untuk menyempurnakan karya ini tentunya tidak terlepas dari unsur-unsur pendukung seperti, tata rias dan busana, panggung dan lighting, serta musik iringan.

Padang Kasna creations dance is a creation of dance that lifts the beauty and sanctity of padang kasna plants. Including scarce plants, padang kasna grow in Karangasem regency precisely in Temukus, Besakih Village or at the foot of Mount Agung. Lifting the padang kasna plants because the creator wants to introduce the plant to the wide community. The movements that are poured in this creation dance is the imagination from creator of the padang kasna plants, but still based on the Balinese tradition dance movement. This dance was created by Desak Ayu Desy Rupaniawati with the music creator by I Dewa Putu Ari Artha. In the show the dance consists of 4 parts in accordance raised with the idea and concept. To perfect this creation certainly can not be separated from the supporting elements such as, makeup and fashion, stage and lighting, and music accompaniment.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/452</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/453</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Transformasi Ritual Siat Sampian Dalam Tari Anggruwat Bumi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Rani Franciska, Ni Luh Putu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Trisnawati, Ida Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suartini, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Ritual dewasa ini banyak mengalami perkembangan baik digunakan sebagai pengobatan maupun pedoman hidup, namun banyak pula yang tetap menjadikan ritual sebagai sarana upacara untuk membersihkan segala sesuatu hal yang buruk menjadi suci. Sama halnya dengan tradisi siat sampian yang sekaligus merupakan ritual di Pura Samuantiga. Asumsi masyarakat khusunya di daerah setempat percaya bahwa ritual ini merupakan media pengobatan secara niskala, sejak berpuluh tahun lamanya kepercayaan terus dijadikan sebagai pedoman hidup oleh masyarakatnya, sehingga banyak pengkaji yang berusaha menelurusi jejak tentang ritual ini, apa penyebab dan siapa yang mengutarakan hal tersebut, apakah argumen tersebut benar atau tidak. Dengan adanya bukti bahwa ritual ini merupakan sebuah peninggalan sejak masa kekuasaan Raja Warmadewa. Sehingga pertanyaan yang muncul dapat dipertanggung jawabkan dan dijadikan sebuah pembelajaran. Kembali pada Pertunjukan tari yang erat berkaitan dengan ritual dimana pertunjukan sebagai pelengkap upacara dan sering kali pertunjukan bersumber dari ritual itu sendiri. Salah satu contoh adalah tari Angruwat Bumi yang merupakan karya tari yang mendapatkan inspirasi dari siat sampian yang di dalamnya mengupas tentang perjalanan ritual yang dilakukan pada saat berlangsungnya upacara di Pura Samuantiga diformuasikan dengan mengaplikasikan teori Cipta Seni oleh I Nyoman Sedana dengan menggunakan empat kerangka mencipta seni yaitu sumber cipta seni, sastra cipta seni, komposisi cipta seni, produk cipta seni. Bentuk dari karya adalah kreasi baru yang ditarikan oleh tujuh orang penari putri dan menggunakan empat bagian sebagai struktur dimana karya tari ini merupakan bentuk persembahan dimana kita terlahir untuk tuhan dan mati untuk tuhan, hanya saja tari ini terealisasikan dengan penyeimbangan keburukan dan kebaikan dan fungsi sendiri sebagai wujud bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Todayâ€™s rituals have undergone many improvements both used as a treatment and life guide, but many still mantain as a ritual for the ceremonial means to clean up everything that is bad becomes scared. So with this tradition which is also a ritual in the temple. The assumption of the community, especially in the local area, believe that this ritual is a non-standard treatment medium. Since decades ago faith as has continued to serve as a guideline for life by its poeple, so many reviewers are trying to trace the ritual, what burden and ready to express it, whether the argument is true or not. With the evidence that this ritual is a legacy of the regin of the king of Warmadewa. So that question that appear can be justified and to be learning. Returning to dance performance that are closely related to the rituals of the performing performance are as a complement to the ceremony and are often sourched from the ritual itself. One example is the Angruwat Bumi dance which is dance work that get inspiration for the siat sampian in which peeled about the ritual journey that was done during the ceremony at the Samuantiga temple formulated with apply theory create of art by I Nyoman Sedana with to use four framework to create of art there are, the source to create of art, the literature to create of art, the composition to create of art, the product to create of art. The form of the creation is the new dance who to use seven girls dancers and used four part as structure where this creation is form of the offerings who we were born for god and die for god, only this creation is realized with balance of the kind and of the ugliness and than that function own as the form devotion the Ida Sang Hyang Widhi Wasa
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/453</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/454</identifier>
				<datestamp>2018-07-31T19:19:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"180730 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Ipit: Dari Penyakit Kesajian Artistik</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Fenny Diaristha, Putu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sutirtha, I Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Widnyana, Kompiang Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Pada dasarnya IpitÂ  bisa dipicu oleh kondisi kurang tidur. Selain itu, stres, depresi, kelelahan di siang hari, bisa menyebabkan seseorang mengalami hal tersebut. Kebiasaan ini biasanya bisa hilang jika kita meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur. Pada saat ipit, seseorang melakukan hal-hal layaknya orang yang tengah sadar seperti berjalan, mengeluarkan kata-kata. Makan, bahkan sampai ke kamar kecil. Beranjak dari hal tersebut penata ingin menciptakan karya tari yang mengambil dari fenomena gangguan tidur yang dialami oleh semua kalangan masyarakat. Dalam hal ini penata memakai proses penciptaan dari Alma M Hawkins dalam buku mencipta lewat tari yang diterjemahkan oleh Sumandiyo Hadi yaitu tahap penjajagan (Exploration), tahap percobaan (Improvisation), dan tahap pembentukan(Forming).Â  Karya ini terbagi menjadi empat babak dengan durasi pementasan 14 menit. Dalam hal ini penata tidak memakai cerita melainkan pengalaman gangguan tidur yang penata alami serta melihat dan menonton di youtube bagaimana seseorang yang tengah mengalami ganguan tidur ini.Â 

Essentially, ipit is triggered by a condition of slep deprivation. In additon, stress, depression, fatigue during the day can cause a person to experience it. This habit will disappear ifÂ  we improve the quality and quantity of sleep. At the time of ipit, a person does things like a conscious person as walking, issuing words, laughing, eating, and even going to a restroom. Moving from it stylist want create a dance work that takes away from the phenomenon of sleep disorders experienced by all socienties. In this case theÂ  stylist use the creation process of Alma M Hawkins in the book created by dance which is translated by Sumandiyo Hadi ie Exploration stage, Improvisation stage, and Fprming stage. This work is divided into four rounds with a duration of staging 14 minutes. In this case the stylist does not use the story but the experience of sleep disorder that the natural stylist and see and watch on youtube how someone who was experiencing sleep disorder is.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-07-30 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/454</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 1 (2018): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/495</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Cak Ganjur: Sebuah Komposisi Musik Vokal Gabungan  Cak Dan Balaganjur</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Antara, I Made Bayu</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sudirga, I Komang</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Cak Ganjur adalah sebuah judul komposisi musik vokalÂ  yang menggabungkan musik Cak dan Balaganjur. Dalam proses penciptaannya, dilatarbelakangi oleh ketertarikan untuk mengangkat sebuah peristiwa pada ketertarikan pada keunikan yang dimiliki oleh gamelan Balaganjur, dan bagaimana menuangkannya dalam bentuk vokal, gerakan, dan tepukan tangan tanpa menggunakan alat, untuk menimbulkan nuansa baru yang mirip dengan pertunjukan kecak. Tujuan penciptaan komposisi Cak Ganjur adalah untuk mengeksplorasi lebih dalam pengalaman empiris dengan menggabungkan vokal Kecak dengan gamelan Balaganjur. Komposisi Cak Ganjur disusun melalui tiga tahapan penciptaan yaitu tahap penjajagan, dimulai dengan menjajagi berbagai literatur yang berkaitan dengan Kecak dan Balaganjur, dan melakukan pemilihan, analisis, dan pengolahan dari rekaman audio maupun audio visual sangat penting untuk dilakukan demi mencari inspirasi yang akan dikutip kembali dengan warna dan pengolahan secara baru. Penggarapan tidak mengabaikan hasil karya seniman yang sudah ada dan menarik kemungkinan dari segi motif dan pola garap musikal yang sudah ada sebelumnya, baik yang berkaitan dengan bentuk maupun suasana yang diinginkan. Kemudian tahap percobaan yang dimulai dengan cara menuangkan inspirasi gending yang akan digunakan dalam garapan ini secara bertahap dengan cara menuliskannya melalui notasi. Selanjutnya adalah tahap pembentukan yaitu merangkai dan menghubungkan motif-motif untuk selanjutnya dibentuk menjadi suatu keutuhan komposisi.

Cak Ganjur is a title of vocal music composition that combines Cak and Balaganjur music. In the process of its creation, it was motivated by an interest to elevate an event to an interest in the uniqueness of Balaganjur gamelan, and how to pour it in vocals, movements, and applause without using tools, to create new nuances similar to kecak performances. The purpose of Cak Ganjurâ€™s composition creation is to explore more deeply the empirical experience by combining Kecak vocals with the Balaganjur gamelan. The composition of Cak Ganjur is composed through three stages of creation, namely the assessment stage, beginning with exploring the various literatures related to Kecak and Balaganjur, and performing the selection, analysis and processing of audio and audio recording is very important to do in order to seek inspiration to be cited again with color and processing in a new way. Cultivation does not neglect the work of existing artists and draws possibilities in terms of motives and patterns of musical work that already existed, both related to the shape and the desired atmosphere. Then the experimental stage that begins with how to pour the gending inspiration that will be used in this gradually by way of writing it through notation. Next is the formation stage of assembling and connecting the motifs to be further formed into a whole composition.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/495</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/529</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kompromitas Atas Keterlibatan Wanita Dalam Aktivitas Berkesenian Di Minangkabau</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">-, Wardizal</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
						<subfield label="u">ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul â€œResistensi dan Kompromitas Terhadap Keterlibatan Wanita dalam Seni Pertunjukan di Minangkabau. Secara umum tulisan ini menguraikan tentang adanya praktik kompromi terhadap keterlibatan wanita dalam seni pertunjukan di Minagkabau. Kompromi sebagai salah satu usaha untuk meredam konflik secara kultural yang terjadi akibat keterlibatan wanita dalam seni pertunjukan tradisional Minangkabau. Pada masa sekarang telah terjadi proses demokratisasi proses berkesenian di tengah kehidupan sosio-kultural masyarakat Minangkabau. Penelitian ini dikonstruksikan berdasarkan metode kualitatif didasarkan pada filsafat rasionalisme. Filsafat Rasionalisme bukan karena mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.Penelitian rasionalisme mensyaratkan digunakannya pendekatan yang holistik yang menggunakan konstruksi pemaknaan atas realitas, tidak saja secara empirik sensual tetapi juga secara logis-teoritik dan etik. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan, seperti studi kepustakaan, untuk mendapatkan berbagai informasi dari sumber tertulis. Observasi dan wawancara, untuk mengamati berbagai fenomena dan peristiwa yang berkembang di tengah masyarakat. Kontribusi wanita terhadap perkembangan dan pelestarian kesenian tradisonal Minangkabau, secara kualitatif telah melahirkan beberapa seniman yang melegenda di tengah masyarakat.

This article is part of the results of a study entitled â€œResistance and Compromise to the Involvement of Women in the Performing Arts in Minangkabau. This article generally describes the practice of compromising the involvement of women in performing arts in Minangkabau. Compromise is one of the efforts to reduce cultural conflicts that occur as a result of womenâ€™s involvement in traditional Minangkabau performing arts. At the present time there has been a process of democratization of the artistic process in the midst of the socio-cultural life of the Minangkabau people. This research was constructed based on qualitative methods based on the philosophy of rationalism. Rationalism philosophy is not due to denying the value of experience, but experience is seen as a kind of stimulus for the mind. Rationalism research requires the use of a holistic approach that uses construction of meaning for reality, not only sensually empirical but also logically-theoretical and ethical. Research data collection was conducted in several stages, such as literature study, to obtain various information from written sources. Observations and interviews, to observe various phenomena and events that develop in the community. The contribution of women to the development and preservation of traditional Minangkabau art has qualitatively produced several legendary artists in the community.



</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/529</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/556</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tata Rias Wajah Pada Tari Oleg Tamulilingan Persefektif Kajian Seni</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Liza Anggara Dewi, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pendidikan Seni Tari Drama dan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, 
Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tata rias wajah pada tari Oleg Tamulilingan menarik untuk diteliti karena tata rias ini mampu menyajikan karakter halus pada wajah penarinya. Penelitian yang dilakukan melalui ilmu kajian seni ini difokuskan pada bentuk, konsep estetika dan fungsinya dengan tujuan agar dapat bermanfaat bagi praktisi dan akademisi di bidang Seni tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengaplikasikan Teori Bentuk, Teori estetika, dan Teori fungsi. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskanÂ  bahwa bentuk tata rias wajah pada tari oleg tamulilingan dapat dilihat dari delapan tipe anatomi wajah dan karakteristik garis dan warna yang sesuai dengan penari oleg tamulilingan. Konsep estetis yang terdapat pada tata rias pada tari oleg tamulilingan dipengaruhi oleh penata rias itu sendiri yang mengalami perubahan dari tahun 1952 hingga sekarang. Dari segi fungsi tata rias wajah pada tari Oleg tamulilingan meliputi fungsi personal seni, sosial seni, dan fisik seni yang memiliki makna tertentu pada setiap simbolnya.

The make up on Oleg Tamulilingan Dance study to interesting because can Submitting Fine characters face dancer. This research with study of art focus on form, aestethic consep, and function to useful for academics and practitioners dance. This study use the qualitative method by using form theory, Aesthetic theory, Functional theory. The study result turne out make up on Oleg Tamulilingan dance from perspective of art study from the shape, the are eight types of facial anatomy and shape characteristic of lines and colors make the corrresponding character on oleg tamulilingan Dancer. The aesthetic look of a make up artist and dancer oleg tamulilingan expreriencing changes in 1952 until now. Has the function of personal art, social art, and physicial art, and there is a specific meaning to each symbol that is on make up in oleg tamulilingan dance.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/556</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/557</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gandrung Marsan: Eksistensi Tari Gandrung Lanang  Di Banyuwangi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santi, Heni Widya</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arshiniwati, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">-, Suminto</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Gandrung Marsan merupakan objek yang dijadikan penelitian. Tujuan dari penelitian ini sebagai artikel penunjang untuk mendapatkan gelar S-1 Seni Tari di Institut Seni Indonesia Denpasar. Tujuan lainnya adalah untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan keberadaan, bentuk dan keunikan dari tari Gandrung Marsan. Metode yang digunakan pada penelitian adalah kualitatif dengan sumber data berupa primer dan sekunder yang dikumpulkan berdasarkan hasil observasi, wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Keseluruhan data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif dan dibagi dalam 3 tahap, yakni: (1) data yang berhubungan dengan keberadaan tari; (2) data yang berhubungan dengan bentuk tari; (3) data yang berhubungan dengan keunikan tari; dan (4) data yang berhubungan dengan fungsi tari. Hasil yang diperoleh dari penelitian menyatakan, bahwa: (1) Gandrung Marsan merupakan satu-satunya tari Gandrung lanang kreasi yang diciptakan setelah sekian lama tenggelamnya era Gandrung lanang pada tahun 1914 di Banyuwangi; (2) inspirasi penciptaan tari adalah kehidupan seorang Marsan, yang pada tahun 1890 adalah penari Gandrung lanang yang paling terkenal; (3) tari Gandrung Marsan dibawakan oleh 9 orang penari laki-laki memakai kostum gandrung perempuan dengan gerak yang lincah dan kemayu. Salah satu keunikan pada tarian terdapat di akhir pertunjukan, yaitu ketika karakter penari yang awalnya perempuan berubah menjadi laki-laki gagah berpakaian wanita dan berkumis.

Gandrung Marsan Dance is the object of research. The purpose of this research as a supporting article to get the degree of S-1 of Dance at Institut Seni Indonesia Denpasar. Another purpose is to express and describe the existence, form and uniqueness of Gandrung Marsan dance. The method used in this research is qualitative with the result of primary and secondary data collected based on observation, interview, literature study and documentation study. The entire data is analyzed descriptively qualitative and divided into 4 parts, namely: (1) data relating to the existence of dance; (2) data related to the form of dance; (3) data related to the uniqueness of dance; and (4) data related to function of dance. The results obtained from the study states that: (1) Gandrung Marsan is the only one Gandrung Lanang creations dance were created after the long sinking of the Gandrung Lanang era in 1914 in Banyuwangi; (2) inspiration for the creation of dance is the life of a Marsan, who in 1890 was the most famous Gandrung Lanang dancer; (3) Gandrung Marsan dance performed by 9 male dancers wearing gandrung womenâ€™s costume with agility and wood. One of the uniqueness of the dance is at the end of the show, that is when the of the dancer who was originally a female turned into a handsome man dressed in a woman and a mustache.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/557</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/558</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Perlindungan Hukum Terhadap Alat Musik Tradisional Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Masyuni Sujayanthi, Ni Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Putraka, Agus Ngurah</subfield>
						<subfield label="u">Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Keanekaragaman seni dan budaya di Indonesia menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini, begitu halnya di Bali dimana seni dan budaya sudah dikenal sampai kemancanegara. Salah satunya adalah seni karawitan dimana alat musik tradisional Bali sudah banyak terdapat di negara lain dan sudah banyak dipelajari oleh bangsa lain, hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya pengklaiman oleh negara lain sehingga dipandang perlu melalui penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis keurgensian pemberian perlindungan hukum terhadap alat musik tradisional Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dimana sumber data berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kuisioner, wawancara, dan studi pustaka kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif dengan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini memberikan gambaran penting atau tidaknya pemberian perlindungan hukum terhadap alat musik tradisional Bali menurut para pendapat masyarakat yang berkecimpung di dunia seni karawitan Bali.

The diversity of arts and cultures in Indonesia become one of the wealth owned by this nation, so as in Bali where art and culture have been well-known all over the world. One of them is karawitan art where the traditional Balinese musical instruments have been widely available in other countries and have been studied by other nations, it evokes the occurrence of claims by other countries, therefore it is necessary that through this research which aims at analyzing the urgency of providing legal protection to Balinese traditional musical instruments. The research method applied is qualitative research where the data sources are in the form of primary data and secondary data. The data collection was conducted by questionnaire method, interview, and literature study then processed and presented descriptively by drawing conclusions. The results of this study provide description on whether or not the provision of legal protection to Balinese traditional musical instruments according to the opinions of the people who are engaged in the art world of Balinese karawitan.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/558</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/559</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Rejang Pusung Di Desa Pakraman Geriana Kauh,  Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sekar Arini, Ni Luh Ayu</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arshiniwati, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">-, Suminto</subfield>
						<subfield label="u">Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Rejang Pusung merupakan tarian sakral yang ada di Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Keunikan yang dimiliki terletak pada pemilihan penari, kesederhanaan gerak dan hiasan kepala yang berbahan dasar kulit jeruk jeruti. Melihat keunikan yang dimiliki maka dipandang perlu untuk didokumentasikan dan diteliti. Namun faktanya, tulisan mengenai pementasan tari Rejang Pusung yang kaitannya dengan upacara Ngusaba Goreng masih sangat minim. Dengan demikian penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan. Adapun dua pokok permasalahan yang dikaji, yakni mengenai bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung sehingga manfaat dari hasil penelitian ini dapat dijadikan arsip desa yang bisa dibaca oleh generasi penerus agar kelestariannya tetap terjaga. Dalam pembahasannya menggunakan sumber tertulis serta dua buah teori yakni teori estetika dan teori fungsional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi, sehingga didapat hasil sebagai berikut. Tari Rejang Pusung dibawakan dalam bentuk tari kelompok dengan ciri khas terdapat pada rambut penari yang dipusung dan ditarikan oleh gadis yang masih belia. Tari ini dipentaskan di Pura Puseh, Pura Pajenengan, Pura Dalem, dan Pura Dadia yang diiringi oleh kolaborasi baleganjur, kenyong dan gambang. Tari Rejang Pusung memiliki dua fungsi yakni fungsi primer dan sekunder. Fungsi primer yakni sebagai sarana ritual, sebagai hiburan diri dan sebagai presentasi estetis. Untuk fungsi sekundernya adalah sebagai pengikat silidaritas sekelompok masyarakat, sebagai media komunikasi massa, sebagai media terapi, dan sebagai media meditasi.

Rejang Pusung dance is a sacred dance in Pakraman Geriana Kauh village, Selat district, Karangasem regency. Its unigueness lies in the selection of dancers, the simplicity of mation and headdress based on orange peel of jeruti. Seing the uniqueness that is owned then it is deemed necessary to be documented and researched. But in writing about Rejang Pusung dance performances that are related to the Ngusaba Goreng ceremony still very minimal. This research is considered important to do. As for the two subject matter studied, mamely about the from and function of Rejang Pusung dance. This research aims to determine the shape and function of Rejang Pusung dance. So that the benefits of the result of this research can be used as village archives that can be read by the next generation tomaintain its sustainability. In the discussion using written sources and two theories namely the theory of aesthetics and functional theory. This research uses qualitative research methods with data collection technigues used those are, observation, interview, study bibliography, study documentation, so obtained the following results. Rejang Pusung dance perpormed in the form of dance group with a characteristic found in the hair of dancers carried and danced by young children. This dance is performed at Puseh temple, Pajenengan temple, Dalem temple, and Dadia temple accompanied by collaboration of baleganjur, kenyong and gambang. Rejang Pusung dance has two function namely primary function and secondary function. The primary function is as a means of ritual, as a self-entertainment and as an aesthetic presentation for its secondary function is as a binder of solidarity of community groups as a medium of mass communication as a medium of therapy and as a medium of meditation.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/559</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/560</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Calungpangkung: Musik Dari Dan Untuk Alam</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Muliyadi, I Wayan</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan Seni, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar
Jl. Nusa Indah Denpasar Kode Pos: 80235, Indonesia</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sudirga, I Komang</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan Seni, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar
Jl. Nusa Indah Denpasar Kode Pos: 80235, Indonesia</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suteja, I Kt.</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan Seni, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar
Jl. Nusa Indah Denpasar Kode Pos: 80235, Indonesia</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Karya musik Calung Pangkung merupakan karya musik yang memanfaatkan alam khususnya pangkung sebagai sumber penciptaan karya. Pertunjukan dilakukan secara berpindah-pindah mulai dari bagian atas pangkung sampai pada bagian bawah. Hasil penciptaan karya Calung Pangkung merupakan karya seni musik lingkungan yang terlahir dari ekplorasi fenomena yang terjadi pada alam, khususnya pangkung. Pembentukan karya ini pencipta menggunakan pendekatan kontemporer dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar areal pangkung sebagai instrumen atau media ungkap dalam karya. Karya musik Calung Pangkung secara struktur dibagi menjadi empat bagian, yaitu bakti raga, mabraya, adharma, dan santhi swara. Bagian bakti raga menggambarkan bakti manusia terhadap alam, bagian mabraya merupakan wujud dari keharmonisan alam dan manusia, bagian adharma menggambarkan keserakahan manusia terhadap alam, serta bagian santhi swara sebagai wujud suara perdamaian yang hening dan tenang. Karya musik Calung Pangkung secara langsung dipentaskan di areal pangkung Gua Peteng Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Calung Pangkungâ€™s musical work is a musical work that utilizes nature, especially the lap as a work. Performances are carried out in a move starting from the top of the pangkung to the bottom. The result of the work of Calung Pangkung is a musical work of art that was born from the exploration of phenomena that occur in nature, especially the lap. The supervisor of this work uses a contemporary approach using objects that are around the lap area as instruments or express media in the work. Calung Pangkungâ€™s musical works generally become four parts, namely bakti raga, mabraya, adharma, and santhi swara. The bakti raga part of human devotion to nature, part of the mabraya is a manifestation of the harmony of nature and people, the part of natural adharma of human greed towards nature, and the part of santhi swara as a peaceful and calm form of peace. Calung Pangkungâ€™s musical work was directly staged in the pangkung Gua Peteng area of Darmasaba Village, Abiansemal District, Badung Regency.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/560</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/561</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Kakelentingan Di Pura Kahyangan Jagat  Luhur Natar Sari Apuan Baturiti Tabanan:  Kontinuitas Dan Perkembangannya</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sari Wiguna, Kadek Agung</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sudirga, I Komang</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Kakelentingan berasal dari akar kata kelen atau badjra kecil, jika dibunyikan menghasilkan suara ting menjadi kelenting dan mendapat awalan ka- dan akhiran -an menjadi kakelentingan. Kakelentingan adalah sebuah barungan gamelan baik menyangkut fisik, musikalitas, maupun fungsi. Gamelan Kakelentingandiperkirakansudah ada di atas abad ke XVIII Masehi, berawal dari dua buah instrumen dan berkembang menjadi sembilan instrumen. Gending tradisi yang pada awalnya hanya ada satu, kini sudah bertambah sembilan gending. Hal yang membuat peneliti tertarik meneliti gamelan Kakelentingan dikarenakan, gamelan ini bersifat sakral dan harus ada di setiap prosesi upacara (medal, melancaran, dan nyineb). Adapun rumusan masalahnya adalah bagaimana wujud, fungsi, kontinuitas dan perkembangan gamelan Kakelentingan di Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. Tujuannya untuk mengetahui wujud, fungsi, kontinuitas dan perkembangan gamelan Kakelentingan. Manfaatnya untuk menambah wawasan, sebagai bahan apresiasi bagi peneliti dan masyarakat luas, serta pihak pemerintah setempat. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif, sedangkan landasan teori yang digunakan adalah teori struktural fungsional, teori religi, dan teori estetika. Berdasarkan hasil kajian ini menunjukkan bahwa gamelan Kakelentingan berbentuk barungan kelompok kecil, mempunyai musikalitas, struktur komposisi gending, tata penyajian, dan hiasan. Gamelan Kakelentingan mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi religi (pawintenan), fungsi sosial (ngayah), dan fungsi budaya (ngiring). Secara kontinuitas, gamelan Kakelentingan yang berawal dari dua buah instrumen dengan menghasilkan motif pukulan (batel) yang khas dalam fungsinya mengiringi Ida Sesuunan Dewata Nawa Sanga melancaran dan perkembangan gamelan Kakelentingan terlihat dari adanya penambahan jumlah instrumen, perkembangan pola garapan, dan perkembangan reportoar di dalamnya.Â 

Kakelentingan derives fromthe root words of kelen or badjra, if sounded will produce ting to become kelenting and get a prefix ka- and suffix -anbecome kakelentingan. Kakelentingan is a a group of gamelan which is related to physicality, musicality and function. Gamelan Kakelentingan is about existed over XVIII century AD, starting from two instruments and developing into nine instruments. Gending tradition, which at first only had one, now has nine gending. This makes researcher interested in researching the Gamelan Kakelentinganbecause, this gamelan is sacred and must be in every ceremony procession (medal, melancaran, and nyineb). The formulation is how the form, function, continuity and development of the gamelan. At the Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. The aim is to find out the form, function, continuity and development of the Gamelan Kakelentingan. The benefits are to add perception, as material for researcher and the wider community, as well as the local government. The method used is a qualitative method, namely the theory used namely structural theory, religious theory, and aesthetic theory. The results of this study indicate that the Gamelan Kakelentingan forms a small group, has musicality,composition structure of gending, presentation system, and decoration. Gamelan Kakelentinganhas three functions, namely religious function (pawintenan), social function (ngayah), and cultural function (ngiring). Continuously, the Gamelan Kakelentingan originates from two instruments by producing a characteristic beat(batel) in its function to accompany Ida Sesuunan Dewata Nawa Sangamelancaran and developing the Gamelan Kakelentinganseen from the number of instruments, the development of patterns of cultivation, and the development of reports in it.
Â </subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/561</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/562</identifier>
				<datestamp>2018-11-06T16:17:29Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"181106 2018                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Problematik Notasi Ding Dong Pada Era  Information Technology (It)</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Deva Suryanegara, I Putu</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Sistem notasi ding-dong pada Gamelan Bali pertama kali dibuat pada tahun 1939 oleh I Wayan Djirna dan I Wayan Ruma, dan disempurnakan kembali oleh guru Kokar Bali (Konservatori Karawitan Bali) pada tahun 1960 untuk tujuan pedagogis. Meskipun sistem ini cukup membantu untuk mentransmisikan karawitan tradisional terdahulu, namun untuk keperluan komposer maupun musisi Bali saat ini masih mengalami keterbatasan. Alasannya pada era information technology (IT) saat ini, notasi Ding Dong masih belum memiliki sarana untuk menotasikan gending gamelan secara digital yang memadai, seperti yang digunakan untuk notasi Barat telah memiliki berbagai jenis aplikasi digital. Sehingga perbaharuan dan perkembangan sangat diperlukan oleh para musisi dan komposer gamelan Bali, karena selain untuk keperluan pribadi, juga untuk keperluan akademis. Bahwasanya kini sering terdapat tuntutan tugas untuk menotasi gending gamelan Bali secara konkrit dan digital.Â 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2018-11-06 00:00:00</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/562</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 4 No. 2 (2018): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2018 KALANGWAN : Jurnal Seni Pertunjukan</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/670</identifier>
				<datestamp>2019-07-04T01:47:37Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190704 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Patra Dalung, Sebuah Komposisi Karawitan Bali   Yang Lahir Dari Fenomena Sosial Di Desa Dalung</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Putra Adnyana, Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yudarta, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Garapan ini bertujuan untuk mentranspormasikan dinamika perubahan dari masyarakat di Desa Dalung menjadi sebuah karya seni karawitan Bali dengan mengangkat kearifan lokal Desa Dalung. Suasana kehidupan sosial di Desa Dalung dituangkan dalam sebuah karya seni karawitan dengan memadukan dua gamelan yaitu gamelan Semaradhana dan gamelan Selonding, melalui pengolahan unsur-unsur karawitan, diharapkan garapan ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan karawitan dalam bentuk teknik, komposisi, ornamentasi dan unsur-unsur pengembangannya. Situasi Desa Dalung tempo dulu dan kini penata gambarkan melalui bagian-bagian, yang masing-masing bagian memiliki karakter suasana yang berbeda. Suasana yang terungkap di desa Dalung diimplikasikan melalui dinamika, nada, tempo, dan unsur-unsur musikal lainnya. Tahapan penyusunan komposisi terdiri dari: (1) Kleteg, (2) Pangrancana, (3) Nuasen, (4) Makalin, (5) Ngadungin, (6) Ngerarasin, dan (7) Ngalangin. Struktur garapan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pangawit, pangawak, dan pangecet dengan karakternya masing-masing. Komposisi karawitan â€œPatra Dalungâ€ diwujudkan dalam bentuk musik karawitan inovatif, yang masih menggunakan pola-pola tradisidengan mendapat pengayaan dan pengembangan, baik dari ornamentasi, unsur musikalitas. Pembagian garapan dimaksudkan agar mempermudah penata dalam penggarapan, penghayatan setiap bagian dari struktur garapan, karena setiap bagian menampilkan suasana yang berbeda-beda, sebagai penggambaran perubahan atau transformasi yang terjadi di Desa Dalung.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/670</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 Made Putra Adnyana, I Gede Yudarta, Hendra Santosa</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/727</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:23:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Palawasan Di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Weka Sajjana, I Nengah</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yudarta, I Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Muryana, I Ketut</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gamelan Palawasan adalah salah satu ensambel tradisional yang hidup dan berkembang pada kalangan masyarakat Bali di Lombok. Gamelan ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali di Lombok yang berkaitan dengan pelaksaan ritual keagamaan. Berbagai jenis ritual keagamaan yang di iringi oleh gamelan palawasan diantaranya upacara Dewa Yadnya (Pujiawali), Pitra Yadnya (ngaben), Rsi Yadnya, Manusa Yadnya (perkawinan), dan Bhuta Yadnya.Gamelan palawasan yang ada di Dusun Peninjoan ini mempunyai keunikan dimana dipakai untuk mengiringi tarian sakral yaitu Tari Rejang Lilit dan Abuang.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan memakai teori Estetika, teori Organologi, dan teori Fungsi seni yang didukung dengan studi perpustakaan dan informasi-informasi yang diperoleh dari narasumber. Penelitian gamelan Palawasan sekaa gong Werdhi Mandala Peninjoan dengan topik gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat dengan mengangkat beberapa permasalahan diantaranya : a) bentuk instrumen gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. b) komposisi tabuh gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. c) fungsi gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. fungsi dari gamelan Palawasan ini dibagi menjadi dua yaitu fungsi primer dan sekunder. Fungsi primernya adalah sebagai pengiring suatu upacara keagamaan baik dari upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya. Sedangkan fungsi sekundernya adalah sebagai wadah atau tempat untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di Lombok.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/727</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/728</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:22:01Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Greng Sebuah Estetika Dalam Kerampakan Antara Gamelan dan Vokal</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Saptono, Saptono</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Haryanto, Tri</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Hendro, Dru</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkiprah dalam berbagai cabang seni tentunya memiliki tanggung jawab didalam meningkatkan mutu pelestarian, pengembangan, dan penciptaan seni budaya yang unggul yang berakar dari kearifan lokal nilai-nilai budaya nusantara, termasuk salah satunya seni karawitan. Hal tersebut tercermin pula dalam visi dan misi ISI Denpasar yang telah terpampang dan bisa dilihat diberbagai sudut kampus. Melalui seni, lembaga ISI Denpasar ikut andil dalam menjaga keseimbangan hidup di dalam memperkokoh jati diri bangsa dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian mendorong peneliti dalam penciptaan karya seni karawitan Greng, yaitu garap gamelan ageng untuk memberikan keseimbangan nilai-nilai kearifan lokal budaya nusantara di ISI Denpasar dengan mengacu pada sajian garap tradisi karawitan Jawa. Konsep garap yang ditawarkan adalan penataan dalam karawitan mandiri. Penataan yaitu menyusun gending-gending yang telah ada dari berbagai ragam bentuk, laras, dan pathet. Kebaruan dalam penataan adalah pengolahan garap transisi dari berbagai ragam dan karakter gending yang telah ada, diolah  dengan teknik yang mengedepankan tapsir (interpretasi) garap balungan dan garap vokal yang dalam sajiannya menjadi satu garapan yang utuh. Wujud atau bentuk pada dasrnya merupakan pemicu untuk menggugah perhatian terhadap isi yang dikandungnya, yang pada gilirannya telah menyatu ke dalam struktur. Jadi wujud atau bentuk garapan merupakan sarana untuk menuangkan isi sebagai bentuk ungkap pengalaman jiwa yang wigati. Djelantik menjelaskan bentuk (wujud) yang dimaksud kenyataan yang nampak secara konkrit di depan kita (dapat dipresepsi dengan mata dan telinga), dan juga kenyataan yang tidak nampak secara konkrit di depan kita, tetapi secara abstrak wujud dapat dibayangkan. Humardani menyebutkan bahwa bentuk di dalam sajian karya seni adalah wadah yang dapat diamati sebagai sarana untuk menuangkan isi mengenai nilai-nilai atau pengalaman jiwa yang wigati.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/728</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/729</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:19:03Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina Di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Andra Krisna Susanti, Ni Nyoman</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Seramasara, I Gusti Ngurah</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arshiniwati, Ni Made</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Legong Raja Cina merupakan tari klasik Bali hasil rekonstruksi tahun 2012 yang memiliki tingkat kerumitan gerak dan ekpresi yang sangat kompleks. Tari ini merupakan hasil penuangan gagasan tentang cerita legendaris mengenai kisah asmara  Raja Bali (Jaya Pangus) dengan Putri Cina (Kang Cing Wie). Proses rekonstruksi dilakukan oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi di Puri Taman Saba, Blahbatuh,  Gianyar dan dipentaskan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXIV tahun 2012. Rekonstruksi tari ini mengandung proses kreatif tinggi dalam menuangkan gerak-gerak tari yang memadukan dua budaya berbeda. Penelitian berjudul Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif ini dipandang penting untuk dilakukan dengan mengangkat tiga masalah yang dikaji, yaitu (1) Bagaimana proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina; (2) Bagaimana bentuk Tari Legong Raja Cina hasil dari rekonstruksi; dan (3) Nilai apa saja yang dikandung oleh  Tari Legong Raja Cina. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang ditinjau dari kajian seni pertunjukan dengan menggunakan teknik observasi partisipsi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Teori yang digunakan untuk membedah tiga masalah di atas adalah teori proses kreatif oleh Alma M. Hawkins, teori estetika yang ditulis oleh Djelantik, dan teori struktural fungsional oleh Talcot Parson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina dapat dilihat melalui tiga tahapan yaitu tahap eksplorasi, tahap improvisasi dan tahap pembentukan. (2) Tari Legong Raja Cina berbentuk palegongan yang didasari oleh struktur, tema, gerak, pola lantai, tata rias, tata busana, iringan, tempat pementasan dan penampilan. (3) Nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai estetika, nilai akulturasi, nilai kesetiaan, dan nilai percintaan.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/729</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/730</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:20:24Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pertunjukan Wayang Kulit Bali Dari Ritual Ke Komersialisasi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Marajaya, I Made</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Di era global seperti sekarang ini, telah terjadi fenomena baru dalam kancah seni pertunjukan wayang kulit Bali, dimana antara beberapa jenis pertunjukan mulai tradisi, kreasi, kreasi baru, inovatif, dan eksperimental saling merebut hati sanubari para penggemarnya. Sampai saat ini, pertunjukan wayang kulit tradisi, kreasi, dan kreasi baru masih dapat ditonton ketika ada kegiatan ritual upacara keagamaan. Sebuah fenomena menarik yang terjadi selama satu dasa warsa belakangan ini yaitu berupa ruwatan wayang Sapuh Leger massal yang melibatkan 5000 orang yang khusus lahir pada wuku wayang. Sementara itu pertunjukan wayang kulit inovatif dapat ditonton dalam berbagai konteks baik untuk upacara keagamaan maupun sebagai pertunjukan komersial. Dalam konteks komersial pertunjukan wayang Kulit Cenk Blonk bergabung dengan perusahan Kopi ABC, Susu Frisian Flag, Sepeda Motor Yamaha, Obat Antangin JRG, dan lain-lain. Sementara Wayang Kulit Joblar bekerjasama dengan perusahan Sarimi, Kopi ABC, Kopi Luwak, Yamaha, Honda, Yakul, Obat Antangin, Bodrek, sepeda smash, dan lain-lain. Di samping pertunjukan wayang kulit komersial untuk promosi barang dan jasa, selama tiga dekade terakhir ini pertunjukan wayang kulit juga dipentaskan dalam konteks pariwisata. Pertunjukan wayang kulit yang durasinya kurang dari 60 menit ini dikemas sebagai entertainment di sebuah usaha pariwisata yaitu di Oka Kartini Bungalow Ubud dengan dalang I Wayan Deres dan di Kerta Accommodation Ubud dengan dalang I Made Sukadana (Made Gender). I Wayan Peter dari jalan Nangka Denpasar juga pernah melakukan pertunjukan wayang kulit untuk wisata di era 1990-an di beberapa hotel di wilayah Legian dan Kuta Badung. Sementara I Made Wibawa dari Dukuh Pulu Tabanan kerap melakukan pementasan wayang kulit untuk wisata di seputaran hotel yang ada di Nusa Dua Badung.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/730</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/731</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:17:26Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pariwisata Dan Budaya Kreatif : Sebuah Studi Tentang Tari Kecak Di Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Pira Erawati, Ni Made</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Perkembangan periwisata telah menyebabkan terjadinya transformasi budaya dari budaya agraris menuju pada budaya industri. Proses transformasi budaya itu juga terjadi dalam bidang seni pertunjukan, sehingga muncul kreativitas seni yang dapat dijadikan konsumsi wisata.  Pariwisata menjadi arena utuk memperjual belikan kesenian. Dengan memahami perkembangan Pariwisata sebagai arena ekonomi, maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui munculnya tari Kecak, merupakan sebuah budaya kreatif orang Bali dalam menyikapi kebutuhan wisatawan. Perkembangan Pariwisata telah menyebabkan munculnya kemasan tari Sanghyang menjadi tari Kecak sebagai budaya kreatif. Kondisi itu telah memunculkan berbagai permasalahan yang berimplikasi terhadap terjadi pemalsuan seni sakral sebagai seni tradisional yang melekat dengan upacara keagamaan (pseudo tradisional ritual art). Untuk menganalisis permasalahan tersebut dalam tulisan ini digunakan metode perpustakaan dan analisis perubahan sosial budaya. Perubahan sosial budaya tak akan dapat dielakkan sebagai dampak Pariwisata, sehingga terjadi komersialisasi budaya yang berimplikasi pada munculnya berbagai kreativitas. Munculnya berbagai kreativitas yang bersumber pada budaya tradisi, telah menyebabkan kaburnya antara seni sakral dengan seni profan.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/731</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/732</identifier>
				<datestamp>2019-07-15T05:28:34Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"190627 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Waluku Sebagai Acuan Dalam Garapan Karawitan Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Aguswin Pradnyantika, I Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sudiana, I Nyoman</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Haryanto, Tri</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang terlihat tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti berkelompok pada langit malam. Di dalam ilmu Astronomi, telah ditetapkan 88 buah rasi bintang yang dipisahkan sesuai wilayah dari tiap-tiap rasi bintang tersebut di langit.  Dari tahun ke tahun, rasi bintang tidak pernah bergeser dari posisinya di langit. Bahkan hingga waktu berabad-abad tahun rasi bintang tetap berada pada posisinya di langit. Hanya saja akibat rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari lah yang menyebabkan rasi bintang terlihat bergeser dari waktu ke waktu. Rasi bintang yang dinamai Waluku/Orion, yang artinya adalah pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di dunia. Orion ini mudah dikenali dengan adanya 3 bintang kembar yang berjajar membentuk sabuk Orion (Orion Belt). Satu lagi yang menarik, dari rasi orion, yaitu adanya bintang Bellatrix dan Betelgeuse pada konstelasinya. Waluku ini penata pakai sebagai judul karya yang menggunakan medium gamelan Semar Pagulingan. Karya seni karawitan Waluku merupakan komposisi musik inovatif yang merupakan aktualisasi dari ide penata tentang rasa keindahan dan imajinasi terhadap bentuk dan pola dari rasi Waluku. Karya ini merupakan pengembangan dari unsur-unsur musikal seperti melodi, tempo, ritme, dinamika, dan harmoni sebagai cerminan dari rasa indah pada pola rasi bintang Waluku. Rasi Bintang memiliki keteraturan system, dimana Rasi Bintang tidak pernah bergeser dari posisinya di langit. Rasi bintang waluku ini adalah terbentuk dari tiga bintang kembar, yang membentuk pola-pola sehingga mudah dibedakan dan dibayangkan dengan rasi bintang lainnya. Rasi bintang waluku ini menginspirasi penata untuk mewujudkannya kedalam sebuah karya musik inovatif, penata berimajinasi merangkai Rasi bintang waluku itu dalam tiga bagian karya musik inovatif.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-07-02 05:03:10</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/732</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 1 (2019): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/777</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pelatihan Gender Wayang Pada Generasi Muda Bali Untuk Melawan Dampak Negatif Kemajuan Teknologi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">I Made Bayu Puser, Bhumi</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui membuat upaya dalam menanggulangi dampak negatif kemajuan teknologi terhadap generasi muda Bali khususnya anak-anak melalui pelatihan Gender Waynag. Seperti yang kita ketahui bahwa kemajuan teknologi di samping memiliki sisi positif juga menimbulkan dampak negative terhadap generasi muda Bali. Metode penelitian, yang dipergunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya melalui metode observasi partisipan dan interview. Observasi partisipan dilakukan karena penulis merupakan tenaga pengajar karawitan dan teknik interview dilakukan tanya jawab  terhadap orang tua anggota sanggar yang mengalami masalah tersebut pada anak mereka. Setelah melakukan beberapa kali pelatihan ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan. Hasilnya dapat diamati dengan penurunan aktivitas penggunaan gawai terhadap beberapa anak yang sebelumnya mengalami kecanduan penggunaan gawai berlebihan seperti game online. Dampak positif lainnya adalah anak lebih mampu mengembangkan imajinasi dalam hal positif dalam konteks seni. Selain itu anak memiliki banyak teman dan berinteraksi dengan teman yang memiliki berbagai macam karakter yang berbeda, menambah pengetahuan dalam bidang seni, dan mampu menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri pada anak. Dengan demikian pelatihan gender wayang dapat digunakan sebagai tameng terhadap generasi muda Bali dalam melawan dampak negatif kemajuan teknologi. Pada akhirnya dampak positif pelatihan gender wayang tidak lepas dari upaya menanamkan pendidikan karakter khususnya terhadap generasi muda Bali.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/777</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2019 Bhumi I Made Bayu Puser, Hendra Santosa</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/815</identifier>
				<datestamp>2020-09-11T03:58:02Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200911 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Konsep Catur Purusartha Dalam Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Buleleng, Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">I Made, Rianta</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Santosa, Hendra</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">I Ketut, Sariada</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Penelitian ini bertujuan untuk membedah Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dari konsep gerak tarinya. Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong pada gerak tarinya berkonsepkan catur purusartha di dalamnya yang dapat dilihat dari empat gerakan pokok dalam tarian yang diulang dari awal hingga akhir tarian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsep catur purusartha dalam gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong. Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitattif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi terus terang, metode wawancara dan studi kepustakaan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa gerakan yang terdapat di dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong berbeda dengan Tari Rejang pada umumnya karena gerak-gerak yang terdapat dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong hanya terdiri dari empat gerakan yang selalu dipergunakan secara berulang-ulang dari awal tarian hingga akhir tarian, sehingga struktur gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong menggunakan struktur tunggal di dalamnya dan gerakan Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong memiliki konsep catur purusartha di dalam gerakannya. Konsep inilah yang membedakan gerak Tari Rejang Sakral Lanang dengan Tari Rejang pada umumnya. Penelitian gerak Tari Rejang Sakral Lanang menggunakan teori semiotika berdasarkan pendapat Ferdinand de Saussure yaitu penanda dan petanda. Adapun empat gerakan yang terdapat dalam tarian meliputi: agem, nengkleng, nindak dan nutup sebagai penanda dan petanda adalah bagian-bagian dari konsep catur purusartha yang terdiri dari dharma, artha, kama dan moksa.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/815</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Rianta I Made, Hendra Santosa, Sariada I Ketut</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/901</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Putra, I Wayan Diana</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Metode mencipta karya musik khususnya karawitan Bali yang dijadikan panduan penciptaan secara teoritis masih sangat sedikit. Konsep penciptaan gending karawitan diperlukan sebagai acuan dalam menciptakan komposisi gending karawitan Bali dengan arah yang jelas. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian dengan Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha. Proses Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha diawali dengan menggali data dari studi kepustakaan berupa pemahaman lewat buku pengetahuan karawitan dan wawancara dengan narasumber ahli khususnya para composer karawitan yang handal. Setelah mendapatkan data dari studi kepustakaan dan hasil wawancara, maka data akan diolah untuk menemukan formulasi penciptaan gending Gesuri yang kemudian menjadi panduan dalam menciptakan karya musik selanjutnya. Melaui analisis metode penciptaan ini dijelaskan mengenai tata cara mengolah nada menjadi melodi, pengolahan tempo dan dinamika serta penyusunan struktur gending
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/901</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 0 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/902</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Penciptaan Karya Seni Garap Pekeliran Padat Sang Guru Sejati</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Hendro, Dru</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pedalangan, Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Saptono, Saptono</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pedalangan, Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Haryanto, Tri</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Pedalangan, Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Konsep garap pakeliran padat dengan judul Sang Guru Sejati ini diambil dari sebuah lakon Dewa Ruci yang merupakan lakon carangan wayang Jawa sudah populer, yakni ketika Bima berguru kepada Begawan Drona tentang ilmu Kesempurnaan diri Manunggalinng Kawula Gusti. Sang Guru Sejati merupakan sebutan kepada Guru Drona dan juga karena Bima telah menemukan jati dirinya ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Sedangkan tema yang diangkat dalam garapan ini adalah â€œKepatuhan Seorang Murid Kepada Seorang Guruâ€. Hal ini akan terungkap bagaimana Bima selalu patuh dengan segala ucapan dan tugas dari guru pembimbingnya dan dengan tekad yang tulus dan kuat kemudian mengambil resiko dalam tugas tersebut dan dapat mencapai tataran penghayatan Ketuhanan yang tinggi (makrifat) dengan bertemunya Bima dengan Sang Dewa Ruci. Kerangka garis besar dari perwujudan lakon yang terkait dengan tema di atas digambarkan dalam beberapa tahapan, yaitu tahap menggambarkan Bima memutuskan untuk berguru kepada Drona, sampai pada tahapan terakhir berhasil menemukan Tirta Pawitra yaitu Bima bertemu dengan Dewa Ruci. Metode penggarapan karya menggunakan lima tahapan, yaitu tahap persiapan atau pra perancangan, eksplorasi ide gagasan, penggalian referensi. Tahap perancangan, hasil analisis fenomena dituangkan dalam ide. Tahap perwujudan karya wujud karya dan evaluasi wujud yang ada. Tahap penyempuranaan, dan Tahap penyajian, pementasan karya yang sudah jadi pada penonton. Dari garapan ini pula memacu untuk membangun imajinasi dan kreativitas penggarap dalam pengembangan berkarya. Disamping itu penggarap lebih leluasa dalam mengembangan ide kreatifnya tanpa ada sebuah lkatan yang membelenggu. Rasa dramatik dan ide tetatrikal dapat membangun suasana yang diinginkan sesuai dengan lakon yang diangkat.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/902</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 0 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/903</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kecerdasan Budaya Dalam Seni Pertunjukan Nusantara</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yulinis, Yulinis</subfield>
						<subfield label="u">Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Tujuan dari penulisan ini adalah melihat perkembangan seni nusantara terutama tari yang berkaitan dengan sejarah pemikiran senimannya. Kecerdasan seniman tradisi dalam mengolah gerak budaya menjadikan karya seni mereka selalu aktual disetiap zaman yang dilaluinya. Sebuah karya lahir merupakan gerakan estetik yang melibatkan budaya, agama dan juga sejarah tempat karya itu dilahirkan. Warisan budaya dan agama, tradisi, dan komunitas serta konflik-konflik yang tejadi pada masa lalu merupakan wilayah yang sering menjadi inspirasi seniman dalam melahirkan karya-karyanya yang monumental. Teknologi boleh berkembang dengan pesat, globalisasi boleh merambah apa saja di dunia ini, tetapi persoalan seni tradisi nusantara merupakan wacana yang bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Sampai hari ini seni tradisi nusantara terus berlanjut tanpa harus kehilangan maknanya. Seniman-seniman yang secara individu telah mencapai taraf yang tinggi di bidang sosial, ekonomi, dan lain-lain, tetapi pada suatu kesempatan mereka tetap menari untuk sosial, ibadah dan, untuk kesenangan batin dan untuk pengabdiannya sebagai manusia yang terikat dengan alam semesta.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/903</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 0 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/904</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kajian Konsep Komposisi Musik Ulah Egar Karya Agus Teja Sentosa</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Jacky Ariesta, I Made</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni, Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Seramasara, I Gusti Ngurah</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni, Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suartaya, I Kadek</subfield>
						<subfield label="u">Program Studi Seni, Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Komposisi musik Ulah Egar adalah komposisi yang diciptakan oleh Agus Teja Sentosa pada tahun 2016. Komposisi musik ini memiliki keunikan tersendiri, karena walaupun menggunakan instrumen seruling untuk membawakan melodi pokok, tetapi tetap bisa menggambarkan rasa semangat dan gembira. Hal tersebut dikarenakan pada komposisi musik ini, menggunakan teknik penggabungan bukan hanya dari segi instrumentasi saja, namun terdapat penggabungan style musik, sehingga dapat memberikan aransemen baru pada komposisi musik ini. Selain itu jarang ditemukan musik instrumental seruling yang menggambarkan rasa bersemangat. Melalui fenomena tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep komposisi musik Ulah Egar karya Agus Teja Sentosa. Tujuan umum penelitian ini yaitu untuk menganalisis konsep, sedangkan tujuan khusus yaitu untuk mengetahui konsep, komposisi musik Ulah Egar. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan diskografi. Teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan yaitu teori komposisi musik dan teori hibriditas. Kemudian sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara, pengamatan, diskografi, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber buku, jurnal, artikel, dan internet. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi musik Ulah Egar menggunakan konsep hibriditas, karena adanya penggabungan idiom musikal tradisi Bali, tradisi Cina dan idiom musikal barat, yang digabungkan, sehingga dari penggabungan tersebut menghasilkan produk budaya baru, salah satunya adalah bentuk komposisi musik yang hibriditas.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/904</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 0 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/908</identifier>
				<datestamp>2019-11-29T02:25:53Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"191129 2019                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Gambang Kwanji Sempidi Kajian Sejarah, Musikalitas dan Fungsi</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Mariyana, I Nyoman</subfield>
						<subfield label="u">Program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yudarta, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Gamelan Gambang adalah salah satu gamelan Bali yang tergolong langka. Gamelan Gambang Kwanji Sempidi merupakan salah satu jenis gamelan klasik di Kabupaten Badung yang memakai laras pelog tujuh nada dengan instrumentasi dan musikalitas yang khas serta fungsi yang menarik. Gamelan Gambang ini berbeda dengan Gambang-Gambang lainnya yang ada di Badung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, musikalitas, dan fungsi gamelan Gambang Kwanji Sempidi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mempergunakan jenis metode penelitian deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, discografi, dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori difusi, etnomusikologi, kognitif, dan teori relegi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diketahui bahwa Gamelan Gambang termuat dalam berbagai karya sastra, dimulai sejak abad IX-XIV dengan diketemukannya relief Gambang pada Candi Penataran, relief Candi Borobudur abad IX (tahun 824 masehi), zaman kerajaan Bali Kuno (Abad XIV-XIX), Raja Gelgel (abad XIV-XIX) dan cerita raja-raja yang memerintah di Bali seperti Dalem Waturenggong (1460-1550 M). Gamelan Gambang yang ada di Desa Adat Kwanji, merupakan warisan leluhur yang keberadaannya diakui dan diayomi oleh Desa Adat Kwanji dengan nama sekaa Gambang â€œâ€Candra Metuâ€. Gambang Kwanji Sempidi adalah Gambang Kuno, warisan leluhur yang diterima oleh keturunan Kak Sri (1880), diwarisi kepada keturunannya, kerabatnya, hingga masyarakat yang menekuninya. Musikalitas gamelan Gambang Kwanji Sempidi dilihat dari instrumentasi yang terdiri dari dua tungguh instrumen gangsa Gambang dan empat tungguh instrumen Gambang. Tujuh nada pokok dalam Gambang terdiri nada adalah o I O A e u a (dong Ding Dong Dang deng dung dang). Dalam instrumen Gambang terdapat dua instrumen Gambang yang memiliki susunan nada yang sama yakni Gambang pengenter dan pemetit. Jarak nada tiap instrumennya diatur dengan mempertimbangkan aspek harmoni Kord, Kwint, dan Oktaf nada. Pola ritme sangat jelas terdengar dan terlihat pada teknik pukulan nyading dari pola ritme 2/4 menuju ke pola ritme Â¾. Instrumen penyelat mempunyai tugas sebagai pengatur dinamika lagu yang dimainkan. Istilah modulasi disebut dengan istilah sengkeran, yang ada pada gending Labdha dan Manukaba. Teknik yang dijumpai pada Gambang Kwanji Sempidi seperti kekenyongan, tutul/ nultul, nyelangkit, dan nyelag. Gending-gending Gambang yang dimainkan pada saat ngaben memberikan pengaruh psikologis. Fungsi Gambang pada upacara ngaben di Desa Kwanji Sempidi adalah sebagai kesenian wali. Guna menjaga eksistensinya, gamelan Gambang Kwanji kerap kali digunakan sebagai musik prosesi pada upacara ngaben khususnya saat memandikan jenazah. Gamelan Gambang ditabuh sebagai pengantar roh orang yang meninggal menuju sunia loka.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2019-11-29 02:25:53</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/908</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 5 No. 2 (2019): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 0 </subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1113</identifier>
				<datestamp>2020-09-10T02:19:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200910 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Kreasi Cangak Congak</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Liza Anggara Dewi, Ni Made</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Astini, Siluh Made</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Mawan, I Gede</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Cerita Tantri berbingkai dongeng adalah cerita yang kaya akan nilai pendidikan moral. Salah satunya Pedanda Baka atau burung cangak yang tamak yang merupakan sumber ide dari penciptaan tari kreasi, dengan tujuan menampilkan sebuah tari yang juga kaya akan nilai pendidikan. Menggunakan metode penciptaan seni yang terdiri atas eksplorasi, improvisasi dan pembentukan. Tahapan penciptaan seni tari, digunakan untuk membantu menjabarkan secara detail tentang proses kreatif pada penciptaan Tari Kreasi Cangak Congak yang dibawakan oleh 3 orang penari putri dengan mengambil karakter putri keras. Tari kreasi cangak congak ini diiringi oleh gamelan Semarpegulingan, karena mampu memberikan suasana dan aksentuasi gerak seekor burung cangak yang berkarakter tenang dan bijaksana. Struktur tari ini terdiri dari empat bagian, yaitu: Bagian pepeson menggambarkan gerak gerik burung cangak. Bagian pengawak menggambarkan suasana di kolam dengan menampilkan karakter burung cangak yang berpura-pura menjadi seorang yang bijaksana dan karakter ikan penghuni kolam yang terpedaya. Bagian  pengecet menggambarkan burung cangak memangsa mangsanya dengan cara dibawa terbang satu persatu. Bagian  pekaad menggambarkan kepiting yang dari awal tidak percaya kepada kebaikan burung cangak dibawa terbang oleh burung cangak ke atas bukit, akan tetapi ia melihat tulang belulang dari kejauhan sehingga membuat kepiting marah dan berakhir burung cangak mati. Penyajian dari Tari Cangak Congak ini didukung oleh media penunjang seperti, tata rias panggung dan busana, musik pengiring tari, panggung dan tata lampu.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1113</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1114</identifier>
				<datestamp>2020-09-10T02:19:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200910 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Siwa Nada : Ensiklopedi Musik Dunia</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">-, Wardizal</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Garwa, I Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Artikel ini merupakan inti sari dari penelitian penulis tentang gamelan Siwa Nada: Sebuah barungan gamelan baru ciptaan I Wayan Sinti. Secara subtantif, hal yang ingin dikemukakan dalam tulisan ini adalah, proses kreatif I Wayan Sinti dalam menciptakan gamelan Siwa Nada; sebuah bentuk barungan gamelan baru yang berfungsi sebagai ensiklopedi musik dunia. Data dan fakta dalam tulisan ini, secara keseluruhan didasarkan pada hasil wawancara yang penulis lakukan dengan I Wayan Sinti sebagai narasumber utama dalam penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa gagasan dan pemikiran I Wayan Sinti dalam menciptakan gamelan Siwa Nada lebih didasarkan kepada proses kreatif inovatif untuk menunjang proses kreativitas dalam berkesenian. Secara subtantif, barungan gamelam Siwa Nada berbentuk bilah dan terbuat dari bambu, kayu dan kerawang. Sinti mempunyai simbol-simbol tersendiri terhadap gamelan Siwa Nada yang diciptakan, baik penamaan instrumen maupun sistem penulisan notasi dan tangga nada. 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1114</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1115</identifier>
				<datestamp>2020-09-10T02:19:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200910 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pengantar Karya Komposisi Tabuh Kreasi Pepanggulan Amande</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Widya Supriyadnyana, Pande Gede</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Mustika, Pande Gede</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Muryana, Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Amande merupakan sebuah komposisi tabuh kreasi pepanggulan yang tercipta dari hasil adopsi bunyi pukulan palu serta hiasan-hiasan yang terdapat dalam kerajinan tangan bokor yang dilakukan oleh masyarakat Pande di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Terciptanya Amande bertujuan untuk menuangkan daya kreativitas pada potensi seni yang ada. Adapun manfaat yang didapatkan melalui penciptaan karya seni ini tidak lain untuk menambah pengalaman serta wawasan menciptakan karya seni. Proses kreativitas yang digunakan dalam menciptakan Amande yaitu penjajagan (eksplorasi), percobaan (improvisasi), dan tahap pembentukan (forming). Struktur, komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian (kawitan, pengawak, dan pengecet). Bagian kawitan mendeskripsikan proses awal dari sebuah bentuk bokor sendiri. Pengawak adalah bagian kelanjutan proses awal yaitu proses menghiasi dengan ukiran. Pengecet merupakan bagian akhir yang mendeskripsikan bagian bokor tahap terakhir yakni nyikat memakai air keras serta menggunakan buah asam untuk membuat bokor itu lebih bersih. Komposisi ini didukung oleh 34 orang penabuh termasuk penata dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar. 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1115</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1116</identifier>
				<datestamp>2020-09-10T02:19:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200910 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Ketanggep Sebuah Tradisi Pentas Gong Kebyar Dilombok</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Supartha, Ketut</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Seni Gong Kebyar tidak hanya berkembang di Bali, melainkan sudah merambah kemanca negara dan disebagiam wilayah nusantara tak terkecuali Lombok. Bentuk pementasannya yang unik berbeda dengan Bali menjadi bahan kajian menarik diteliti. Adapun tujuan ingin memahami proses profanisasi Gong Kebyar di Lombok. Tuntutan jaman  mengharuskan strategi baru dalam berkesenian,khususnya bagi sekeha gong kebyar agar tetap exsis, menjadikan potensi Ketanggep sebagai sebuah peluang cukup menjanjikan dalam memperoleh penghasilan, walaupun terkadang mengabaikan tradisi ngayah atau konsep Yadnya yaitu korban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas tanpa pamrih berlandaskan nilai sastra agama Hindu, sekaligus menjadi latar belakang masalah dalam penelitian ini, beberapa masalah dapat dirumuskan:  1) Bagaimanakah proses Gong Kebyar dalam mengiringi Upacara agama Hindu di Lombok?.2) Mengapa pementasan menjadi komersial?. Adapun tujuan ingin memahami proses profanisasi Gong Kebyar di Lombok. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta menganalisis permasalahannya dengan menggunakan Teori Komodifikasi yaitu bermakna sebagai apapun yang diproduksi dan untuk diperjual belikan,tidak ada nilai guna murni yang dihasilkan, namun hanya nilai jual, diperjualbelikan bukan digunakan. Komodifikasi menggambarkan proses dimana sesuatu yang tidak memiliki nilai ekonomis diberi nilai dan karenanya bagaimana nilai pasar dapat menggantikan nilai - nilai sosial lainnya. Hasil dari penelitian ini bahwa tradisi ketanggep  merupakan salah satu  budaya sangat umum atau popular dikenal oleh masyarakat Lombok disebagian pementasan Gong Kebyar dengan sistem imbalan uang perhari mengiringi upacara adat keagamaan Hindu. 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1116</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1117</identifier>
				<datestamp>2020-09-10T02:19:30Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"200910 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pupuh Dalam Dramatari Arja Rare Angon Oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Adhi Santika, Sang Nyoman Gede</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sedana, I Nyoman</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Marajaya, I Made</subfield>
						<subfield label="u">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>								</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Pertunjukan dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar yang dipentaskan pada tahun 2006 tidak lepas dari keberadaan pupuh, sehingga dapat dikatakan sebagai dramatari bertembang karena peranan pupuh tersebut sebagai media ungkap dalam pengantar cerita Rare Angon yang terelaborasi dengan elemen-elemen pendukung yang ada dalam dramatari Arja.  Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk memahami bentuk, estetika, dan makna pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar. Penelitian pupuh tersebut menggunakan desain penelitian deskriptif analitik. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi : (1) Bagaimana bentuk pupuh yang terdapat dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? (2) Bagaimana estetika Pupuh yang terdapat dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? (3) Apa makna syair Pupuh yang terkandung dalam Dramatari Arja Rare Angon oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar? Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori bentuk, teori estetika, dan teori semiotika. Jenis data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui teknik observasi, teknik wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Pupuh memiliki unsur-unsur pembentuknya diantaranya unsur utama yakni tiga pola persajakan antara lain Padalingsa, Guru Wilangan dan Guru Dingdong dan juga syair Pupuh yang didapat dari sumber cerita Rare Angon, kemudian unsur penunjang antara lain Notasi, alur cerita, dan penokohan; (2) estetika Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon adalah keutuhan yang menggabungkan seluruh unsur pembentuk Pupuh pada adegan papeson dan adegan panyerita dengan memiliki keselarasan pada adegan papeson ketika terjalin hubungan antara Pupuh, gerak tari, dan musik iringan. Kecemerlangan terletak pada daya pikir para penari dalam menggunakan teknik nyompong dan dalam menciptakan syair pupuh dalam improvisasi adegan panyerita dan pekaad. (3) Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon memiliki dua makna, yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Makna denotasi adalah Pupuh secara keseluruhan adalah sebuah representasi dari alur cerita Rare Angon, sedangkan makna konotasi adalah makna yang tidak tampak namun dapat dirasakan. Artinya Pupuh dalam dramatari Arja Rare Angon mengandung makna simbolik, keindahan, keteladanan, penyucian diri, dan makna kedamaian.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-09-10 02:19:30</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1117</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 1 (2020): Juni</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1222</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Gamelan Gong Gede Di Desa Adat Tejakula: Kajian Bentuk, Estetika, Fungsi, dan Makna</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Widya Supriyadnyana, Pande Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Sugiartha, I Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Yudarta, I Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gamelan Bali merupakan warisan budaya oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih ditekuni serta dipertahankan. Gamelan Gong Gede merupakan salah satu wujud kesenian Bali hingga sekarang masih mencerminkan seni yang adiluhung, sehingga dipertahankan keberadaannya. Keberadaan barungan gamelan Gong Gede zaman dahulu memiliki ukiran sederhana, sedangkan pada saat ini memiliki bentuk ukiran yang kompleks, baik dari segi warna dan motif ukiran. Salah satu bentuk barungan gamelan Gong Gede berada di Desa Adat Tejakula, Buleleng, Bali. Tujuan penelitian ini mengacu kepada fenomena umum berkenaan dengan keberadaan gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana bentuk gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula; (2) Bagaimana estetika gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula; (3) Bagaimana fungsi dan makna gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula?. Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori struktural-fungsional, teori estetika, teori fungsi musik, dan teori semiotika. Jenis data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui teknik observasi, teknik wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Bentuk barungan gamelan Gong Gede mempunyai orkestra atau insrumen yang paling banyak serta instrumentasinya besar-besar, dan merupakan musik tradisi Bali yang memakai laras pelog lima nada atau juga disebut dengan pelog panca nada. Secara musikalitas gamelan gong gede terwujud dari warna suara yang beragam, secara fisik dapat didominasi oleh instrumen yang berbilah dan instrumen bermoncol.; (2) Estetika gamelan Gong Gede bisa dilihat dari segi wujud, bobot, dan penampilan. Wujud gamelan Gong Gede merupakan sebuah barungan orkestrasi yang didominasi dengan instrument pukul. Bobot gamelan Gong Gede bisa dilihat dari dari segi susana, gagasan, dan pesan dari lagu. Penampilan Gong Gede dilihat terdapat sikap dari masing-masing penabuh, kostum sebagai pendukung keseragaman penabuh, dan tata letak per-instrumen.;(3) Dilihat dari segi fungsinya dan makna gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula, memang sengaja dibuat dengan fungsi sebagai persembahan menunjang sarana upacara, khususnya upacara Dewa Yadnya. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula, sarat dengan makna-makna yang bermanfaat bagi yang dapat ditangkap baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung makna itu dapat ditangkap melalui fenomena, sedangkan secara tidak langsung dapat ditangkap melalui renungan yang mendalam. Makna yang dimaksud meliputi makna filosofis dengan nilai-nilai yang terdapat didalamnya seperti makna religius, makna pengayom spiritual, dan makna pelestarian budaya.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1222</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1223</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Analisis Karakterisasi Tokoh Dalam Tari Joged Pingitan Dengan Lampahan Calonarang  Di Banjar Pekuwudan Desa Sukawati Gianyar</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Gede Aditya Pratita, I Wayan</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Joged Pingitan di Banjar Pekuwudan, Desa Sukawati Kabupaten Gianyar, disajikan dengan menitikberatkan visual seorang penari dalam menampilkan berbagai karakteritik tokoh yang muncul dalam lampahan calonarang di dalamnya. Hal ini sangat menarik disebabkan teknik dan proses karakterisasi terhadap berbagai tokoh dilakukan dengan cukup kompleks melibatkan aspek sosio-history serta membutuhkan waktu yang cukup panjang. Permasalahan yang diangkat mengacu pada karakterisasi tokoh lampahan calonarang, Joged Pingitan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data antara lain: Kepustakaan, Observasi, Wawancara, Dokumentasi. Menggunakan pendekatan dramaturgi, hasilnya yaitu karakterisasi joged pingitan dianalisis dari dua perspektif dramaturginya. Pertama â€˜sisi belakangâ€™ (back stage): (1) penari Ni Putu Setyari (self) mengetengahkan latar belakang diri, pengalaman, penjiwaaan terhadap setiap karakter tokoh, kemauan belajar, konsentrasi, ingatan dan emosi, serta imajinasi personal untuk membentuk karakter tokoh lampahan Calonarang joged pingitan; (2) sekaa Joged Pingitan Dharma Kusuma (tim) dan cerita calonarang sebagai wadah interaksi seniman tari joged dalam proses karakterisasi. Kedua â€˜sisi depanâ€™ (front stage) mengetengahkan visual dari karakteristik tokoh oleh oleh Ni Putu Setyari serta sekaa Joged Dharma Kusuma, melalui gerakan, alat pendukung, musik iringan, dan prolog tandak dalang. Karakter yang terklarifikasi muncul ialah: Sisya, Matah Gede (aeng), Rarung (manis), Patih Taskara Maguna (Pandung)(bagus aeng), Rangda (aeng), dan Barong (bagus aeng).
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1223</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1224</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Penciptaan Karya Seni Tari Baris Gede Gentorag</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="100" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Budiarsa, I Wayan</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tarian sakral Baris Gede sangat banyak dijumpai di daerah Bali, yang dalam penyajiannya sangat terkait dengan ritus jalannya upacara keagamaan Hindu Bali. Berbagai varian Baris Gede memiliki ciri khasnya masing-masing sesuai dengan bentuk dan fungsinya. Memegang salah satu jenis senjata, seperti; tombak, perisai, keris, bajra, dan lain sebagainya. Keberadaannya diayomi oleh masyarakat setempat, meliputi baik dari tingkat perorangan, banjar, desa, dadya, pura kahyangan tiga, kahyanagn jagat, dan lainnya. Tarian Baris Gede dapat kita jumpai terutama di Desa Batur Kintamani, Pengotan (Bangli), Desa Tampak Siring, Desa Sebatu, Desa Batuan, (Gianyar), Kusamba, Nusa Penida (Klungkung), Banjar Begawan, Kerobokan, Tanggun Titi (Denpasar), dan di tempat lainnya. Bali patut berbangga karena tarian Baris Gede telah diakui sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh badan UNESCO dan kedepannya patut dilestarikan keberadaannya. Beranjak dari hal tersebut dan untuk memperkaya khasanah keragaman tari Baris Gede, penulis telah berhasil menata garapan baru yang masih berpijak pada pola-pola Baris Gede yang telah ada yang diberi judul tari Baris Gede Gentorag. Penataannya telah melalui pengajuan proposal dalam program memperebutkan hibah bagi para dosen oleh UPT. Ajang Gelar ISI Denpasar tahun 2017.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1224</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1225</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Pengaruh I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata  Terhadap Teknik Permainan  Kendang Tunggal Bali</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Danika Pryatna, I Putu</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sudirga, I Komang</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Suartaya, I Kadek</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata merupakan seniman karawitan Bali yang memiliki pengaruh besar terhadap teknik permainan kendang tunggal, khususnya di Kota Denpasar dan umumnya di Bali. I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata masing-masing memiliki murid, dan murid tersebut sekaligus menyebarkan pengaruh yang didapatkannya dari kedua tokoh ini kepada generasi murid berikutnya. Penelitian ini dilakukan, yakni untuk memahami pengaruh I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata di dalam teknik permainan kendang tunggal Bali. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Ada tiga pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yakni meliputi (1)Siapa sajakah murid dari I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata?, (2) Siapakah penerus yang ditunjuk kedua tokoh untuk mewarisi ilmu kendang tunggalnya?, (3) Sejauh manakah pengaruh dari I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata di dalam teknik permainan kendang tunggal Bali?. Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori pengaruh. Jenis data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui teknik observasi, teknik wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan hal berikut, (1) I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata memiliki banyak murid. Baik itu murid lokal dan murid asing dan semua murid dari kedua tokoh ini adalah orang-orang yang sudah terkenal di bidang seni dan etnomusikologi, (2) I Wayan Suweca dan I Ketut Sukarata masing-masing menunjuk satu orang muridnya untuk meneruskan kiprah dan ilmu kendang tunggalnya. I Wayan Suweca memilih I Made Widana untuk meneruskan ciri khas teknik permainan kendang tunggalnya, sedangkan I Ketut Sukarata memilih I Ketut Widianta sebagai penerus ciri khas dan teknik permainan kendang tunggalnya, (3) Pengaruh dari kedua tokoh ini telah mampu mempresentasikan Bali di dalam setiap daerahnya. Cotohnya seperti I Wayan Gede Arsana sebagai wakil Bali Selatan, I Ketut Garwa sebagai wakil Bali tengah, I Kadek Suryantara Asmara Putra sebagai wakil Bali Timur, I Made Trip sebagai wakil Bali Utara, dan I Wayan Gama Astawa sebagai wakil Bali Barat.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1225</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1226</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Eksistensi Gamelan Gong Luang  Di Banjar Seseh Desa Singapadu</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Muryana, I Ketut</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Haryanto, Tri</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Feby Widi Cahyadi, I Gede</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gamelan di bali, sangat banyak ragam dan bentuknya, salah satu jenisnya adalah gamelan Luang atau gong Luang. Perkembangan dari gong Luang tidak seperti perkembangan gong lainnya, ini terdapat hanya dibeberapa tempat di Bali, salah satunya di Banjar Seseh, Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar. Fungsi dari gong Luang ini di Singapadu dan pada umumnya sebagai pengiring upacara Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya. Dalam gong luang yang terdiri dari laras pelog tujuh nada ada istilah saih atau pepatutan yang sering dipakai dalam gong luang, yaitu saih selisir, tembung, sunaren, pengenter, baro, dan lebeng. Fungsinya dalam Dewa Yadnya adalah sebagai pengiring seni wali merias ratu sesuhunan menjelang akan diadakan piodalan atau menjelang akan mekiyis ke segara atau ke laut, namun instrumennya hanya berupa caruk dan saronnya saja. Sedangkan dalam fungsinya sebagai pengiring pitra yadnya adalah sebagai iringan ngaben dan segala rangkaiannya. Gending yang disajikan dalam pengiring ngaben adalah Tabuh Panji Gede, Tabuh Delod Pangkung, Tabuh Panji Cenik, Tabuh Ginada, Tabuh Tut Baru, dan Tabuh Lilit.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1226</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1227</identifier>
				<datestamp>2020-11-30T06:04:45Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Kajian Estetika Tabuh Manukaba Dalam Gamelan Gambang</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Gede Wahyu Kumara Putra, I Putu</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Sariada, I Ketut</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Gamelan gambang merupakan sebuah barungan gamelan yang dikelompokan ke dalam barungan gamelan tua yang berlaras pelog tujuh nada yang terdiri atas empat gambang yang terbuat dari bambu dan dua tungguh gangsa yang masing masing terdiri atas tujuh nada atau bilah yang bahannya terbuat dari perunggu (kerawang).Gamelan Gambang merupakan salah satu perangkat gamelan Bali yang erat hubungannya dalam mengiringi prosesi upacara Pitra Yadnya (Ngaben) yang membuat gamelan Gambang dikelompokan sebagai seni sakral. Dalam upacara Pitra Yadnya, gamelan Gambang biasanya difungsikan dalam prosesi pembakaran jenazah bagi orang yang sudah meninggal.Dari berbagai tingkatan upacara Pitra Yadnya gamelan Gambang hanya lumrah digunakan dalam tingkatan upacara tertinggi atau utama (ngewangun). Terkait dengan proses upacara pitra yadnya (Ngaben), ada beberapa repertoar-repertoar gending Gambang yang sering dimainkan yakni, Palugangsa/Palugon, Panji Marga, Alis-alis Ijo, Martamasadan Manukaba. Kelima gending tersebut sangat disakralkan dikarenakan memiliki peranan yang penting dalam prosesi Pengabenan. Dari sekian banyak tabuh-tabuh yang ada dalam gamelan Gambang, Tabuh Manukaba merupakan salah satu gending yang sangat unik dalam penyajiannya.TabuhManukabaadalah sebuah gending yang dipergunakan pada saat upacara pegiber-iber atau pengitik-itikserangkaian upacara Pengabenan. Tabuh Manukaba mempunyai tujuh bagian yaitu pengrang-rang, ping pisan, ping pindo, ping tiga, ping pa, ping lima dan penyuud.
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1227</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.jurnal.isi-dps.ac.id:article/1228</identifier>
				<datestamp>2020-12-02T00:29:38Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1229</identifier>
				<datestamp>2020-12-07T06:30:57Z</datestamp>
				<setSpec>kalangwan:ART</setSpec>
				<setSpec>driver</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_marc status="c" type="a" level="m" encLvl="3" catForm="u"
	xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc http://www.openarchives.org/OAI/1.1/oai_marc.xsd">
			<fixfield id="008">"201130 2020                        eng  "</fixfield>
				<varfield id="022" i1="#" i2="#">
			<subfield label="$a">2615-1197</subfield>
		</varfield>
			<varfield id="042" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">dc</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="245" i1="0" i2="0">
		<subfield label="a">Tari Ghora Manggala: Transformasi Makna Ngerebeg  Dalam Bentuk Karya Tari</subfield>
	</varfield>

				<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Adi Gunarta, I Wayan</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="720" i1="1" i2=" ">
			<subfield label="a">Arya Satyani, Ida Ayu Wayan</subfield>
														</varfield>
			<varfield id="520" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">
Tari Ghora Manggala, terinspirasi dari tradisi ritual ngerebeg yang ada di Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba, Badung, Bali. Ngerebeg merupakan sebuah ritual tolak bala untuk memohon keselamatan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dipercayai oleh masyarakat dapat memproteksi dari segala bentuk wabah penyakit dan mara bahaya. Penata berpandangan bahwa, makna dari ritual ini sangat kontekstual dengan kondisi dunia dewasa ini yang tengah dilanda pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah menyebar dengan begitu cepat di seluruh belahan dunia. Pemikiran tersebut memantik ide kreatif penata untuk mewujudkan sebuah karya tari di tengah pandemi Covid-19, dengan mengangkat nilai religius dan nilai sosial dalam berkehidupan pada ritual ngerebeg sebagai sumber gagasan penciptaan karya. Tujuan penelitian dan penciptaan seni ini adalah menghasilkan sebuah karya tari yang memiliki nilai kebaruan dalam garap bentuk dan garap isi. Landasan teoritis yang digunakan pada penciptaan Tari Ghora Manggala ialah teori estetika, sebagaimana dikemukakan oleh Monroe Beardsley bahwa ada tiga unsur keindahan, yaitu: kesatuan (unity), kerumitan (compleksity), dan kesungguhan (intensity). Sedangkan metode penciptaan tarinya, berpijak pada prinsip penciptaan seniman Bali, yakni angripta sasolahan yang terdiri dari lima tahapan penting, yaitu: ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Tari Ghora Manggala ialah sebuah karya tari kontemporer yang dibawakan oleh lima orang penari putra dan seorang pemusik. Karya ini merupakan bentuk ungkapan doa dan harapan penata untuk keseimbangan alam semesta (Bhuana Agung dan Bhuana Alit). 
</subfield>
	</varfield>
						<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="b">Institut Seni Indonesia Denpasar</subfield>
	</varfield>
	<varfield id="260" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="c">2020-11-30 06:04:45</subfield>
	</varfield>

		
			<varfield id="856" i1=" " i2=" ">
			<subfield label="q">application/pdf</subfield>
		</varfield>
		<varfield id="856" i1="4" i2="0">
		<subfield label="u">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/1229</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="786" i1="0" i2=" ">
		<subfield label="n">Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan; Vol. 6 No. 2 (2020): Desember</subfield>
	</varfield>

	<varfield id="546" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">eng</subfield>
	</varfield>

	
	<varfield id="540" i1=" " i2=" ">
		<subfield label="a">Copyright (c) 2020 Author(s)</subfield>
	</varfield>
</oai_marc>
			</metadata>
		</record>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
