Jenis Dan Bentuk Pepalihan Peciren Bebadungan Pada Pemesuan : Studi Kasus Desa Kesiman

I Putu Udiyana Wasista, I Kadek Dwi Noorwatha

Abstract


Pepalihan peciren bebadungan merupakan pakem pepalihan yang berkembang di wilayah Denpasar. Pakem pepalihan ini tersisa di wilayah Desa Kesiman, disebabkan daerah Kesiman tidak tersentuh vandalisme arsitektur pada masa penjajahan Belanda. Pepalihan digunakan pada arsitektur tradisional Bali sebagai ornamentasi dengan tujuan estetis. Salah satu jenis arsitektur tradisional bali yang menggunakan pepalihan adalah pemesuan. Penelitian ini memfokuskan pada pemesuan, disebabkan pemesuan merupakan identitas dari sebuah wilayah. melalui pepalihan pada pemesuan di wilayah Desa Kesiman, dapat diketahui bentuk dan jenis pepalihan peciren bebadungan yang lumrah digunakan sebagai gambaran identitas wilayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif melalui hasil wawancara dengan undagi. Pepalihan peciren bebadungan menggunakan permainan garis geometris dengan sistem konstruksi gandeng yang cukup rumit. Melalui permainan tersebut tercipta estetika khas bebadungan yang terkesan kokoh dan modern. Jenis pepalihan yang lumrah digunakan pada pemesuan di wilayah Desa Kesiman adalah palih sebitan, palih tiasan, palih ganggong, palih gumulung, palih gegilik, palih baong capung, palih kekarangan, palih sasak, dan palih lelempong.

Pepalihan peciren bebadungan is a standard transfer system that is developing in the Denpasar area. This transfer system is left in the Kesiman Village area, because the Kesiman area was not touched by architectural vandalism during the Dutch colonial period. Transfers are used in traditional Balinese architecture as ornamentation with aesthetic purposes. One type of traditional Balinese architecture that uses transfer is pemesuan. This research focuses on traditional Balinese entrance, because the traditional Balinese entrance is the identity of a region. Through the transition to the establishment in the Kesiman Village, it can be seen that the shape and type of the traditional Peciren switch that is commonly used as an illustration of regional identity. This study uses a qualitative approach with descriptive comparative methods through the results of interviews with undagi. The transfer system of peciren bebadungan uses a geometric line game with an articulate construction system that is quite complicated. Through the game created a distinctive aesthetic that is solid and modern. The types of shifting that are commonly used in the processing in Kesiman Village are palih sebitan, palih tiasan, palih ganggong, palih gumulung, palih gegilik, palih baong capung, palih kekarangan, palih sasak, and palih lelempong.

 

Keywords


bebadungan; pemesuan; pepalihan

Full Text:

PDF

References


Ardhana, 2004, DENPASAR: Perkembangan Dari Kota Kolonial Hingga Kota Wisata, Makalah pada Konferensi International I Sejarah Kota (The First International Conference on Urban History) di Universitas Airlangga, Surabaya pada tanggal 23-25 Agustus 2004.

Ardika, I Wayan dan Parimartha, I Gede dan Wirawan, A A Bagus, 2013, Sejarah Bali: Dari Prasejarah Hingga Modern, Denpasar: Udayana University Press

Dwijendra, Ngakan Acwin, 2008, Arsitektur Tradisional Bali Berdasarkan Asta Kosala-Kosali, Denpasar: Udayana University Press

Frick, Heinz dan Purwanto, LMF, 1998, Sistem Bentuk Struktur Bangunan: Dasar-Dasar Konstruksi Dalam Arsitektur, Seri Konstruksi Arsitektur 1, Semarang: Kanisius

Gelebet, I Nyoman. 1982. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Halim, Deddy, 2005, Psikologi Arsitektur: Pengantar Kajian Lintas Disiplin, Jakarta: Grasindo

Heryanto, Bambang dan Ihsan dan Venny Veronica Natalia, 2012, Identitas Kota dan Keterikatan Pada Tempat, Prosiding Hasil Penelitian Fakultas Teknik Volume 6 Desember 2012, Makassar: Universitas Hasanudin

Kusuma, Dewa, 2013, Arsitektur Kota Denpasar Berbasis Kearifan Budaya Lokal, makalah dalam Sarasehan Arsitektur “Arsitektur Kreatif Berbasis Budayaan Unggulan di Kota Denpasar, yang dilangsungkan di Ruang Pertemuan Sewaka Dharma, Kantor Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal Kota Denpasar, 13 Desember 2013.

Munandar, Agus Aris, 2005, Istana Dewa Pulau Dewata: Makna Puri Bali Abad ke 14-19, Depok: Komunitas Bambu

Pemerintah Kota Denpasar, 2010, “Denpasar Kota Kreatif bebasis Budaya Unggulan” yang merupakan rangkuman apresiasi serta prestasi Kota Denpasar dipersembahkan untuk warga kota Denpasar bertepatan dengan hut kota Denpasar ke 18.

Saraswati, A.A Oka dan Prijotomo, Josef dan Setijanti, Purwanita, 2012, Aesthetic Interpretation of Pamedalan and Melasti Sacred Ritual Event in Balinese Architecture, Jurnal of Basic and Applied Scientific Research, Volume 2 (July) 7351-7358, 2012, Textroad Publication


Article metrics

Abstract views : 4 | views : 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
Segara Widya is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.