Fotografi Decopauge Keindahan dan Fenomena Subak Bali di Daerah Gianyar dan Bangli

CHRISTOFER SATRIA, TJOKORDA UDIANA NINDHIA PEMAYUN, I KETUT SUTEJA

Abstract


Penciptaan ini dilatarbelakangi oleh ketetarikan pencipta terhadap keindahan dan fenomena subak diBali khususnya daerah Gianyar dan Bangli. Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang mengatursistem pengairan sawah, yang digunakan untuk bercocok tanam padi di Bali. Subak biasanya memilikipura yang dinamakan Pura Uluncarik yang diperuntukan untuk “Dewi Sri” (dewi kemakmuran dan kesuburan). Penciptaan ini difokuskan pada fotografi decopuage keindahan dan fenomena subakBali khususnya daerah Gianyar dan Bangli. Berorientasi dari keindahan dan fenomena subak di Bali, pencipta ingin mengungkapkan ke dalam sebuah karya fotografi decopauge, dengan menggunakandua teknik yang berbeda menjadi satu kesatuan, sehingga kesan foto akan lebih berbeda dan mengikuti tekstur batu yang digunakan. Berdasarkan hal tersebut pencipta menggunakan teori transformasi, untuk perubahan dari karya asli ke-dalam karya baru dan teori semiotika, sebagai pembuatan karya untuk melihat komposisi foto dan tekstur batu yang digunakan. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan metode dokumentasi, yang difokuskan didaerah Gianyar dan Bangli. Pencipta berharap dengan adanya perancangan ini, dapat memberikan dampak baik terhadap Subak di Bali terutama daerah Gianyar dan Bangli, dan dapat menjadi media yang menarik untuk memelihara dan menjaga Subak di Bali.

This creation is motivated by the creator’s attractiveness of the beauty and phenomenon of subak in Bali, especially the area of Gianyar and Bangli. Subak is a community organization that regulates the irrigation system of paddy fields, which is used to grow rice in Bali. Subak usually has a temple called Uluncarik Temple which is intended for “Dewi Sri” (goddess of prosperity and fertility). This creation is focused on photography decoupage beauty and phenomenon of subak in Bali especially area of Gianyar and Bangli. Oriented from the beauty and phenomenon of subak in Bali, the creators want to express into a photography decopauge work, using two different techniques into one unity, So the impression will be more different photos and follow the texture of the stone used. Based on that the creator used the theory of transformation, for a change from the original work into the new work and the theory of semiotics, as a work to see the composition of photographs and texture of stones used. The method used is the method of observation and method of documentation, which focused on Gianyar and Bangli areas. Creator hopes with this design, can give good impact to subak in Bali especially area of Gianyar and Bangli, and can become an interesting media to maintain and keep subak in Bali.


Keywords


subak Bali; fotografi decopauge; transformasi; semiotika

Full Text:

PDF

References


Eco, Umberto. Teori Semiotika Signifikasi

Komunikasi, Teori Kode, Serta Teori Produksi-

Tanda, Kota : Indiana University Press, 1976.

Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan

Komponen MKDK. Jakarta: PT. Rineka, 1997

Suarja, I Gede. Koordinasi Antar Sistem Irigasi.

Denpasar : Fakultas Pertanian Universitas Udayana,

Supardi, M.d. Metodologi Penelitian. Mataram:

Yayasan Cerdas Press, 2006.

Sutawan. Organisasi Dan Manajemen Subak Di Bali.

Denpasar: Pustaka Bali Post, 2008.

Suwarjono, Dan. Apresiasi Seni. Jakarta: Pasar Seni

Badan Pelaksana Pembangunan Proyek Ancol PT

Pembangunan Jaya,1985.

Windia, W. Transformasi sistem irigasi subak yang

berlandaskan Tri Hita Karana. Denpasar: Penerbit

Bali Post, 2006.

Windia.,W. Teknik Menuju Sistem Irigasi Subak

Yang Berkelanjutan di Bali. Denpasar : Universitas

Udayana, 2008.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
Prabangkara Jurnal Seni Rupa dan Desain is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.