Gamelan Kakelentingan Di Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari Apuan Baturiti Tabanan: Kontinuitas Dan Perkembangannya

Kadek Agung Sari Wiguna, I Gede Arya Sugiartha, I Komang Sudirga

Abstract


Kakelentingan berasal dari akar kata kelen atau badjra kecil, jika dibunyikan menghasilkan suara ting menjadi kelenting dan mendapat awalan ka- dan akhiran -an menjadi kakelentingan. Kakelentingan adalah sebuah barungan gamelan baik menyangkut fisik, musikalitas, maupun fungsi. Gamelan Kakelentingandiperkirakansudah ada di atas abad ke XVIII Masehi, berawal dari dua buah instrumen dan berkembang menjadi sembilan instrumen. Gending tradisi yang pada awalnya hanya ada satu, kini sudah bertambah sembilan gending. Hal yang membuat peneliti tertarik meneliti gamelan Kakelentingan dikarenakan, gamelan ini bersifat sakral dan harus ada di setiap prosesi upacara (medal, melancaran, dan nyineb). Adapun rumusan masalahnya adalah bagaimana wujud, fungsi, kontinuitas dan perkembangan gamelan Kakelentingan di Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. Tujuannya untuk mengetahui wujud, fungsi, kontinuitas dan perkembangan gamelan Kakelentingan. Manfaatnya untuk menambah wawasan, sebagai bahan apresiasi bagi peneliti dan masyarakat luas, serta pihak pemerintah setempat. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif, sedangkan landasan teori yang digunakan adalah teori struktural fungsional, teori religi, dan teori estetika. Berdasarkan hasil kajian ini menunjukkan bahwa gamelan Kakelentingan berbentuk barungan kelompok kecil, mempunyai musikalitas, struktur komposisi gending, tata penyajian, dan hiasan. Gamelan Kakelentingan mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi religi (pawintenan), fungsi sosial (ngayah), dan fungsi budaya (ngiring). Secara kontinuitas, gamelan Kakelentingan yang berawal dari dua buah instrumen dengan menghasilkan motif pukulan (batel) yang khas dalam fungsinya mengiringi Ida Sesuunan Dewata Nawa Sanga melancaran dan perkembangan gamelan Kakelentingan terlihat dari adanya penambahan jumlah instrumen, perkembangan pola garapan, dan perkembangan reportoar di dalamnya. 

Kakelentingan derives fromthe root words of kelen or badjra, if sounded will produce ting to become kelenting and get a prefix ka- and suffix -anbecome kakelentingan. Kakelentingan is a a group of gamelan which is related to physicality, musicality and function. Gamelan Kakelentingan is about existed over XVIII century AD, starting from two instruments and developing into nine instruments. Gending tradition, which at first only had one, now has nine gending. This makes researcher interested in researching the Gamelan Kakelentinganbecause, this gamelan is sacred and must be in every ceremony procession (medal, melancaran, and nyineb). The formulation is how the form, function, continuity and development of the gamelan. At the Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. The aim is to find out the form, function, continuity and development of the Gamelan Kakelentingan. The benefits are to add perception, as material for researcher and the wider community, as well as the local government. The method used is a qualitative method, namely the theory used namely structural theory, religious theory, and aesthetic theory. The results of this study indicate that the Gamelan Kakelentingan forms a small group, has musicality,composition structure of gending, presentation system, and decoration. Gamelan Kakelentinganhas three functions, namely religious function (pawintenan), social function (ngayah), and cultural function (ngiring). Continuously, the Gamelan Kakelentingan originates from two instruments by producing a characteristic beat(batel) in its function to accompany Ida Sesuunan Dewata Nawa Sangamelancaran and developing the Gamelan Kakelentinganseen from the number of instruments, the development of patterns of cultivation, and the development of reports in it.

 

Keywords


gamelan kakelentingan, wujud; fungsi; kontinuitas dan perkembangannya

Full Text:

PDF

References


Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012.

Badra, I Nyoman. 100 Watak Wayang Bali. RRI Denpasar : Sampurna Printing, 2013.

Bandem, I Made. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar : Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), 1983.

Bandem, I Made. Gamelan Bali Di Atas Panggung Sejarah. Denpasar : BP Stikom Bali, 2013.

Djelantik, A.A.M. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.

Donder, I Ketut. Esensi Bunyi Gamelan Dalam Ritual Hindu. Denpasar : Paramita, 2005.

Hardjana, Suka. Estetika Musik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 1983.

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Rineka Cipta, 2009.

Merriam, A.P. The Antropologi of Music. Chicago : North Western University Press, 1964.

Sandjaja, Bernardus. Pengantar Pembangun Teori Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2015.

Sangadji, Etta Mamang. Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dalam Penelitian. Yogyakarta: C.V Andi, 2010.

Sedyawati, Edi. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta : Sinar Harapan, 1981.

Soedarsono, R.M. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.

Sudarsana, I Ketut. Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. Tabanan, 2002.

Sugiartha, I Gede Arya. Pergulatan Idiologi Dalam Penciptaan Musik Bali. Denpasar : Makalah Seminar Nasional Seni Pertunjukan ISI Denpasar, 2002.

Sunarta. I Gede. Belajar Menabuh Di Sanggar Siwer Nadi Sware (Kajian Pendidikan Agama Hindu). Denpasar : UNHI, 1986.

Yudabakti, I Made. Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan Bali. Surabaya :Paramita, 2007.

Yudarta, I Gede. Kalangwan Jurnal Seni Pertunujukan Volume 2 Nomor 1 Juni 2016. Denpasar :

LPPM ISI Denpasar, 2016.


Article metrics

Abstract views : 5 | views : 1

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Kalangwan is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.