Teater Wayang Inovatif Stri Wiweka

Ni Komang Sekar Marhaeni

Abstract


Penciptaan Teater Wayang Inovatif dengan judul Stri Wiweka mengeksplorasi semua potensi yang ada dalam bidang seni pedalangan/pewayangan. Suasana dan karakter yang ditampilkan dalam setiap adegan digarap sedemikian rupa sesuai dengan konsep garap dan kaidah-kaidah penciptaan dalam pewayangan Bali serta lebih mementingkan keindahan struktur lakon dan cerita yang digarap ke dalam bentuk pertunjukan wayang kreasi baru. Penciptaan ini secara umum bertujuan untuk menghasilkan sebuah karya seni Teater Wayang Inovatif yang bertolak dari pelestarian nilai-nilai estetis, etis yang terkandung dalam kesenian tradisi dan untuk mempersembahkan kreativitas seni yang adaptif dan edukatif pada apresiatornya. Sedangkan tujuan secara khusus untuk mewujudkan gagasan atau ide pencipta yang dapat menghidupkan pola-pola wayang tradisi lewat karya inovasi, meningkatkan kemampuan pencipta dalam berolah seni, dan dalam rangka menumbuhkan imajinasi baru sebagai kreativitas yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya teater wayang inovatif ini yaitu, studi kepustakaan, diskusi, kontemplasi, efisiensi, imitasi, revisi, partisipasi dan finishing. Karya ini merupakan salah satu teater tradisi yang digarap dalam bentuk baru dengan melakukan penjelajahan ruang teater tiga dimensi yang mana dalam pertunjukan tersebut penonton dapat melihat dari segala penjuru karena adegan dilakukan oleh manusia sebagai pemegang peran atau tokoh. Pertunjukan dijalin dalam sebuah cerita berbingkai, bentuk wayang kulit menggunakan nilai filsafat sebagai tuntunan bagi manusia untuk menghindari arogansi kekuasaan. Lakon dalam karya ini memberikan pemahaman terhadap seseorang yang semena-mena dalam kekuasaan dan akhirnya terkalahkan oleh kebijaksanaan.

Creation of Innovative Puppet Theater with the title Stri Wiweka explores all the potential that exist in the field of puppetry art. The atmosphere and character displayed in each scene, worked in such a way and in accordance with the concept of work and the rules of creation in Balinese puppetry. With more emphasis on the beauty of the structure of the story and the story is cultivated into the form of an innovative new puppet show creations. This Creation generally aims to produce an innovative Puppet Theater art based on the preservation of aesthetic, ethical values embodied in traditional art and to offer creative, adaptive and educational creativity to its appreciator. While the goal is specifically to realize the idea or idea of the creator who can revive the patterns of wayang tradition through the work of innovation, improve the ability of creators in artistic work, and in order to foster new imagination as a sustainable creativity. The methods used in the creation of innovative wayang theater works are literature study, discussion, contemplation, efficiency, imitation, revision, participation and finishing. This work is one of the theater traditions worked on in a new form, by exploring the three-dimensional theater space. The show is woven in a framed story, staging a puppet full of the value of philosophical meaning as a guide for man to avoid the arrogance of power as in the story of the work of creation. The play in this work provides an insight into an arbitrary person in power that is ultimately constrained by wisdom.


Keywords


penciptaan; teater wayang; inovatif; stri wiweka

Full Text:

PDF

References


Amir, Hasim. 1994. Nilai-Nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sianar Harapan.

Bagus, I Gusti Ngurah. 1980. Ni Diah Tantri. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah.

Bandem, I Made. 1982. Wimba Wayang Kulit Ramayana, Ketut Madra. Denpasar: Proyek Penggalian/Pembinaan Seni Budaya Klasik/Tradisional dan Baru.

Dibia, I Wayan. 2003. Nilai-nilai Estetika Hindu dalam Kesenian Bali, dalam Estetika Hindu dan Pembangunan Bali. Penyunting I B. G. Yudha Triguna. Denpasar: Kerjasama Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia dan Widya Dharma.

Gianyar, Ida Raka. 1999. Cerita Rakyat dari Bali Ni Diah Tantri. Bandung: CV Pionir Jaya

Mardiwarsita, L. 1990. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Flores–NTT: Nusa Indah.

Satoto, Sudiro. 1985. Wayang Kulit Purwa Makna dan Struktur Dramatiknya. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Derektorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Serama Semadi, I Gusti Ngurah. 1986. Wayang Tantri di Banjar Babakan Sukawati Gianyar. Skripsi Jurusan Pedalangan.

Soetarno. 2004. Wayang Kulit: Perubahan Makna Ritual dan Hiburan. Surakarta: STSI Press.

Sri Supriyatini. 2016. Tantri: Interpretasi Nilai Perjuangan Perempuan Bali Masa Kini. Disertasi: Program Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Yogyakarta.

Soemanto, Bakdi. (2000). “Interkulturalisme dalam Teater Kontemporer: Kasus Kelompok Gandrik Yogyakarta”, dalam Interkulturalisme dalam Teater, (editor Nur Sahid). Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia.

Sukarman, M Sukarman dkk. 2004. Wayang Karya Agung Budaya Dunia. Jakarta: Senawangi dan Pepadi.


Article metrics

Abstract views : 6999 | views : 7

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Kalangwan is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.