Lantunan Masa Kecil dalam “Lullabybianu”

Komang Wira Adhi Mahardika

Abstract


ABSTRAK

“Bibi Anu”//Lamun payu luas manjus/Antenge tekekang//Yatnain ngabe masui//Tiyuk puntul//Bawang anggen sasikepan. Lagu rakyat dengan makna mendalam dan penuh pesan tersebut selalu terngiang di hati anak-anak Bali. Lebih dari itu, belaian kasih sang ibu terhadap anak tercinta dalam lirik dan nada-nada sederhana “Bibi Anu” menunjukkan bahwa siapa pun yang pernah menjadi anak-anak seharusnya senantiasa waspada, selalu mempersiapkan diri, untuk setiap keadaan. Hanya, seiring perjalanan waktu, sang lagu semakin tenggelam, dianggap usang, dan tercampakkan. Ada kesan bahwa menyanyikan lagu-lagu tradisional seperti “Bibi Anu” sudah ketinggalan zaman sehingga jarang diminati lagi. Selain itu dalam perkembangan media sosial yang sangat pesat ini, lagu tradisional seperti “Bibi Anu” sangat jarang ditemukan. Karenanya, penata ingin mengangkatnya secara baru, ke dalam karya “Lullabybianu”, yaitu dari kata lullaby dan “Bibi Anu”. Lullaby adalah nyanyian yang sudah mendunia yang dilantunkan untuk anak-anak. Garapan ini merupakan bentuk penyajian komposisi musik yang terlahir dari keinginan penata yang ingin mengangkat lagu pengantar tidur anak tradisional di Bali khususnya pupuh pucung untuk dijadikan sebuah karya musik baru yang dibawakan dengan kombinasi instrumen musik Barat dan Bali. Dalam hal ini, penata mengkombinasikan musik Barat dan Bali melalui media ungkap ansamble cello, piano, saxophone, perkusi dipadukan dengan instrumen gender rambat, suling, dan vokal. “Lullabybianu” digarap menggunakan ilmu harmoni dan teori musik lainnya yang di dalamnya terdapat aturan-aturan khusus yang mengikat sehingga penotasian karya ini menjadi baik dan benar.

Kata kunci: komposisi musik, barat-Bali, “Bibi Anu”, lagu tidur, anak-anak.

 

ABSTRACT

“Bibi Anu”//Lamun payu luas manjus/Antenge tekekang//Yatnain ngabe masui//Tiyuk puntul//Bawang anggen sasikepan. The folk song which has deep meaning and full of messages is always ringing in the hearts of Balinese children. Moreover, mother's love for her beloved child in simple lyrics and tones in the "Bibi Anu” indicates that every child should always be alert, preparing for every circumstances. However, today, the song is getting drowned, considered obsolete and is marginalized. There is an impression that singing traditional songs such as "Bibi Anu" is regarded out of date so that such kind of song is not favoured anymore. In social media which develop rapidly, traditional songs such as "Bibi Anu" are rarely seen. Therefore, the composer wants to compose it newly, into a project named "Lullabybianu", i.e. from the words lullaby and "Bibi Anu". Lullaby is a universal song sung for children. This project is a form of presentation of the musical composition that comes from the desire of the composer to pick a traditional childhood's song in Bali, especially pupuh pucung into a new musical work performed with a combination of Western and Balinese musical instruments. In this case, the composer combines Western and Balinese music through an ansamble of cello, piano, saxophone, percussion combined with gender rambat traditional instrument, flute, and vocals. "Lullabybianu" is composed basing on the musical science of harmony and other musical theories in which there are special rules that bind so that the notation of this work will be good and true.

Keywords: musical composition, western-Bali, "Bibi Anu", sleeping songs, children.

 


Keywords


komposisi musik, barat-Bali, “Bibi Anu”, lagu tidur, anak-anak.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Bandem, I Made. 1998. Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar.

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.

Banoe, Pono. 2003. Pengantar Pengatahuan Harmoni. Yogyakarta: Kanisius.

Djelantik, 1990. Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid 1 Estetika Instrumental. Denpasar : Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

Djohan. 2003. Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik.

Dwi Andika Putra, I Made. 2013. Skrip Karya Seni Kirtanam. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar.

Eka Udyana, I Wayan. 2016. Skrip Karya Seni Shantika. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar.

Gautama, Wayan Budha.2006. Pelajaran Gending Bali.Denpasar:CV Kayumas Agung.

Hawkins, Alma M.. 1990. Mencipta Lewat Tari (terjemahan Creating Through Dance). Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Isfanhari, Musafir dan Nugroho, Widyo. Tanpa Tahun. Pengetahuan Dasar Musik.Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Jamini, Dborah. 2005. Harmony and Composition. Canada: Trafford.

Jamalus, Srs. 1998. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mutaqin, Moh. 2008. Seni Musik Klasik Jilid 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Prier SJ, Karl-Edmund. 2012. Ilmu Harmoni. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

Prier SJ, Karl-Edmund. 1991.Sejarah Musik Jilid 2. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

Rosidi, Rain. 2007. Lullaby. http://lullaby-art.blogspot.co.id/2007/12/lullaby.html.

Syafiq, Muhammad. 2003. Ensiklopedia Musik. Yogyakarta:Adicita Karya Nusa.

Tim Penyusun. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Diskografi dan Sumber Internet

Krishna, Bagus. 2014. “Galaxy 7”. (rekaman video yang diunggah oleh akun Bagus Krisna, Youtube).

Supanggah, Rahayu. 2015. “Lir-ilir” (rekaman pribadi Komang Wira Adhi M).

Tapa Sudana, Tribuana. 2011. “Bibianu Balinese Lullaby” (rekaman video yang diunggah oleh akun Tribuana Tapa Sudana, Youtube).

Wikipedia. 2001. “Nina Bobo”. https://id.wikipedia.org/wiki/Nina_Bobo

Zimmer, Hans. 2015. “Gladiator” (rekaman video yang diunggah oleh akun Singularity Now, Youtube).


Article metrics

Abstract views : 60 | views : 40

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Editorial Office :

Journal of Music Science, Technology, and Industry
Institut Seni Indonesia Denpasar
Jalan Nusa Indah, Denpasar 80235 
Phone : +62361 236100.

Email : jomsti@isi-dps.ac.id